Dari Menara Gading ke Pusat Perubahan: 11 Pelajaran Strategis dari Silakwil dan Pelantikan CIDES ICMI Sulsel

  • Whatsapp
Suasana pelantikan pengurus CIDES ICMI Sulsel (dok: Istimewa)

Silakwil dan Pelantikan CIDES ICMI Sulsel memberikan pesan yang jelas: era cendekiawan sebagai komentator sudah berlalu. Tantangan zaman menuntut lahirnya intelektual yang mampu menciptakan solusi, membangun kolaborasi, dan menggerakkan perubahan dan gigih menawarkan agenda perubahan dengan dimensi jauh ke depan. 

PELAKITA.ID — Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi, ketegangan sosial baik di desa dan wilayah urban, perubahan iklim, dan kompetisi global yang semakin ketat, pertanyaan mendasar bagi kaum intelektual Indonesia menjadi semakin relevan: apakah cendekiawan hanya akan menjadi pengamat perubahan, atau justru menjadi penciptanya?

Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Silaturahmi Wilayah (Silakwil) ICMI Sulawesi Selatan dan Pelantikan Pengurus Center for Information and Development Studies (CIDES) ICMI Sulsel yang berlangsung di Rumah Jabatan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Sabtu, 7 Juni 2026.

Forum yang menghadirkan Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, Rektor Universitas Hasanuddin Prof Jamaluddin Jompa, Ketua ICMI Sulsel Prof. Aris Munandar, Plt Rektor UNM Prof. Farida Patittingi, serta sejumlah akademisi lintas kampus seperti Unhas, UNM, UMI, UIN, ITH Parepare, Unibos, hingga Unifa, plus birokrat, dan tokoh masyarakat itu tidak sekadar menjadi agenda organisasi.

Bagi penulis, forum itu menjelma menjadi ruang refleksi tentang masa depan Indonesia dan peran strategis kaum cendekiawan Muslim dalam mewujudkannya.

Dari diskusi yang berlangsung, setidaknya terdapat sebelas pelajaran penting yang layak menjadi agenda bersama menuju Indonesia Emas 2045.

 

Pertama, Masa Depan Tidak Ditunggu, Tetapi Diciptakan

Salah satu pesan paling kuat datang dari Prof. Arif Satria yang mengutip pemikiran futuris Alan Kay: “The best way to predict the future is to create it.”

Pesan tersebut mengandung makna mendalam. Di era perubahan eksponensial, bangsa yang hanya menunggu akan tertinggal.

Masa depan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari keberanian mengambil keputusan, melakukan inovasi, dan menciptakan terobosan.

Karena itu, perguruan tinggi, lembaga riset, dan organisasi intelektual seperti ICMI harus menempatkan diri sebagai aktor utama yang merancang masa depan, bukan sekadar mengikuti arah perubahan global.

Kedua, Inovasi Besar Selalu Berangkat dari Masalah Nyata

Prof. Arif mengisahkan seorang ilmuwan keturunan Palestina yang hidup di kamp pengungsian di Yordania. Berhadapan dengan persoalan kekurangan air yang kronis, ia berhasil mengembangkan teknologi untuk “memanen air dari udara”.

Kisah ini menunjukkan bahwa inovasi paling berdampak sering kali lahir dari kedekatan dengan penderitaan manusia.

“Kalau dulu manusia memanen padi dari tanah, jagung dari tanah, ikan dari laut, sekarang manusia mulai memanen dari udara,” ujar Prof. Arif.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun mendalam: inovasi tidak lahir dari ruang yang terisolasi, tetapi dari keberpihakan terhadap persoalan nyata masyarakat.

Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si.

Ketiga, Saatnya Cendekiawan Keluar dari Menara Gading

Ketua ICMI Sulsel, Prof. Aris Munandar, menyoroti tantangan yang dihadapi akademisi saat ini. Tuntutan administrasi, beban publikasi ilmiah, dan rutinitas birokrasi sering kali membuat ilmuwan menjauh dari ruang publik.

Karena itu, kehadiran CIDES diposisikan sebagai “dapur gagasan” yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat.

“Melalui CIDES, kita ingin keluar dari menara gading. Kita ingin menghadirkan pemikiran yang relevan dan solutif bagi persoalan masyarakat,” tegasnya.

Dengan kata lain, ilmu pengetahuan harus kembali hadir di tengah masyarakat sebagai solusi, bukan sekadar publikasi.

Keempat, Dunia Bergerak ke Era Presisi

Menurut Prof. Arif Satria, dunia sedang bergerak menuju era personalisasi dan presisi.

Dalam sektor pertanian, teknologi memungkinkan kebutuhan pupuk dan nutrisi dihitung secara spesifik untuk setiap tanaman. Dalam dunia kesehatan, pendekatan genomik memungkinkan pengobatan disesuaikan dengan karakter genetik setiap individu.

Era baru ini menuntut cara berpikir yang berbeda. Pendekatan seragam tidak lagi memadai. Masa depan membutuhkan kemampuan memahami kebutuhan yang semakin spesifik dan unik.

Kepala BRIN, Arif Satria bersama Plt Rektor UNM Makassar, sekaligus sekretaris Orwil ICMI Sulsel, Prof Farida Patittingi (dok: Pelakita.ID)

Kelima, dari Saudagar Menjadi Industriwan

Salah satu gagasan menarik muncul dari Guru Besar Fisika FMIPA Unhas, Prof. Tasrif Surungan.

Menurutnya, masyarakat Bugis-Makassar selama ini dikenal sebagai saudagar ulung. Namun tantangan masa depan menuntut transformasi yang lebih besar: dari saudagar menjadi industriwan.

Perdagangan tetap penting, tetapi nilai tambah terbesar lahir dari inovasi, manufaktur, teknologi, dan industri berbasis pengetahuan.

Contoh nyata transformasi tersebut terlihat dari langkah Yayasan Wakaf UMI yang telah memesan ambulans listrik dan bus listrik hasil karya peneliti internal. Ini menunjukkan bahwa riset dapat langsung diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial.

Keenam, Belajar dari Kejayaan Baitul Hikmah

Kemajuan peradaban Islam pada masa Abbasiyah tidak lahir dari sikap tertutup.

Sebaliknya, para ilmuwan Muslim kala itu membangun tradisi belajar yang terbuka terhadap berbagai sumber pengetahuan. Melalui Baitul Hikmah, karya-karya Yunani, Persia, dan India diterjemahkan, dipelajari, lalu dikembangkan menjadi pengetahuan baru.

Pelajaran yang relevan bagi Indonesia saat ini adalah bahwa keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan global merupakan syarat mutlak untuk melahirkan inovasi.

Bangsa yang menutup diri akan sulit berkembang. Bangsa yang terbuka akan memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pelopor.

Ketujuh, Riset Membutuhkan Daya Tahan Jangka Panjang

Di tengah budaya serba cepat, Prof. Arif mengingatkan pentingnya endurance dalam penelitian.

Ia mencontohkan ilmuwan Jepang, Susumu Kitagawa, yang menghabiskan puluhan tahun untuk mengembangkan teknologi Metal Organic Framework (MOF), sebuah inovasi yang kini memiliki potensi besar dalam penyimpanan gas dan energi.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa inovasi kelas dunia tidak lahir dalam semalam. Ia membutuhkan kesabaran, konsistensi, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun hasil belum segera terlihat.

Prof Aris Munandar, Ketua Orwil ICMI Sulsel, bersama Kepala BRIN Prof Arif Satria, Plt Rektor UNM Prof Farida Patittingi dan Wakil Ketua ICMI Wakil Ketua Umum ICMI Bidang IPTEK, Agromaritim dan Lingkungan Hidup Prof M. Jafar Hafsah (dok: Pelakita.ID)

Delapan, Ukuran Keberhasilan adalah Kemanfaatan

Forum ini juga menggarisbawahi nilai Islam yang sangat mendasar: Khairunnas anfa’uhum linnas — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Dalam perspektif tersebut, gelar akademik, jabatan publik, maupun posisi sosial tidak memiliki makna jika tidak menghadirkan manfaat nyata.

Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menciptakan perubahan yang berdampak bagi masyarakat.

Sembilan, ICMI Sebagai Hub Kolaborasi

Tidak ada inovasi besar yang lahir dari kerja sendirian. Karena itu, ICMI diproyeksikan sebagai simpul kolaborasi yang mempertemukan tiga kekuatan utama pembangunan.

Akademisi menyediakan riset dan basis pengetahuan. Pemerintah menghadirkan kebijakan dan memahami kebutuhan lapangan. Dunia usaha menyediakan investasi serta akses pasar.

Ketika ketiga elemen ini bekerja bersama, maka lahirlah ekosistem inovasi yang produktif dan berkelanjutan.

Sepuluh, Indonesia harus Melakukan Lompatan Teknologi

Pakar komunikasi Unhas, Dr. Hasrullah, mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi konsumen teknologi.

Mengacu pada visi besar almarhum B.J. Habibie, Indonesia perlu melakukan technological leapfrogging atau lompatan teknologi.

Strategi ini mengharuskan bangsa Indonesia mampu memetakan teknologi masa depan, menguasai rekayasa balik (reverse engineering), dan mempercepat penguasaan teknologi strategis.

“Indonesia membutuhkan lompatan besar. Kita tidak boleh terus-menerus menjadi konsumen teknologi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat bertransformasi menjadi produsen teknologi yang mampu bersaing secara global,” ujarnya.

Sebelas, Gagasan Harus Berujung pada Aksi Nyata

Komitmen intelektual tidak boleh berhenti pada seminar dan diskusi. Karena itu, ICMI Sulsel mulai menerjemahkan gagasan menjadi program konkret di bidang pendidikan.

Di antaranya adalah rencana pendirian SD Insan Cendekia Persahabatan di Kabupaten Gowa yang diinisiasi Prof. Salam Nurhikmah, serta pembangunan SMK berbasis asrama di Parepare.

Langkah ini menjadi bukti bahwa perubahan tidak cukup diwacanakan. Ia harus diwujudkan melalui institusi yang mampu mencetak generasi masa depan.

Menyongsong Indonesia Emas 2045

Silakwil dan Pelantikan CIDES ICMI Sulsel memberikan pesan yang jelas: era cendekiawan sebagai komentator sudah berlalu.

Tantangan zaman menuntut lahirnya intelektual yang mampu menciptakan solusi, membangun kolaborasi, dan menggerakkan perubahan dan gigih menawarkan agenda perubahan dengan dimensi jauh ke depan.

Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, di tengah kerentanan, ketidakpastian, hingga ambiguitas peristiwa dunia, Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan yang berani turun ke lapangan, lebih banyak pemimpin yang menghargai ilmu pengetahuan, dan lebih banyak kolaborasi yang menjembatani riset dengan kebutuhan masyarakat.

Jika sebelas pelajaran strategis ini dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata, maka pertemuan di UNM tersebut bukan sekadar agenda organisasi.

Ia akan dikenang sebagai salah satu momentum penting yang memperkuat kontribusi cendekiawan Muslim dalam perjalanan panjang menuju Indonesia Emas 2045.

___
Penulis Kamaruddin Azis, Tamarunang, 7 Juni 2026