PELAKITA.ID – Galesong kembali menjadi ruang perjumpaan penting bagi para pencinta sejarah, budaya, dan warisan intelektual Nusantara.
Pada Ahad, 7 Juni 2026, Tim Penyusun Buku Antologi Puisi Syekh Yusuf yang dipimpin oleh Muh. Hamdar Arraiyyah berkunjung dan bersilaturahmi ke Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG).
Kunjungan tersebut menjadi momentum berharga untuk memperkuat upaya pelestarian pemikiran dan keteladanan Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama besar yang jejak perjuangannya telah melintasi batas-batas geografis Nusantara hingga Afrika Selatan.
Menurut Founder Balla Barakkaka ri Galesong, Aminuddin Salle, kunjungan ini memiliki nilai yang sangat penting karena menghadirkan dialog yang kaya dan mendalam mengenai sejarah, silsilah, serta warisan intelektual Tuanta Salamaka.
“Kami sangat berterima kasih dan menilai kunjungan ini sangat berkualitas karena menghadirkan diskusi yang hidup dan penuh makna,” ujarnya.

Rombongan yang hadir tidak hanya terdiri atas para akademisi, tetapi juga sejumlah budayawan dan pegiat literasi yang selama ini aktif mengangkat khazanah budaya Sulawesi Selatan.
Di antaranya hadir Prof. Kembong Daeng, Rusdin Tompo, Yudistira Sukatanya beserta istri, serta penyair Makassar Daeng Nassa dan sejumlah tokoh budaya lainnya.
Selama berada di Balla Barakkaka ri Galesong, para tamu didampingi oleh Ibu Suryana Aminuddin Salle, Dr. Buyung Romadhoni selaku Kepala Sekolah Adat, Budaya dan Konstitusi BBrG, Ketua Pokdarwis Abdul Jalil Mattewakkang beserta istri.
Hadir pula, Muh. Hijaz Daeng Temba, pemilik naskah kuno Tuanta Salamaka yang juga merupakan keturunan langsung dan penutur sejarah Syekh Yusuf yang dikenal sangat fasih.
Salah satu agenda penting dalam kunjungan tersebut adalah penelaahan terhadap dokumen silsilah Syekh Yusuf Al-Makassari yang tersimpan dan dipajang di Baruga Pusakaya BBrG.
Dokumen tersebut disusun oleh tim yang terdiri atas Paturungi Parawansa, H. Mappaturung Parawansa Karaeng Kio, Kaimuddin Salle dan sejumlah tokoh lainnya.
Menurut Aminuddin Salle, ketelitian para pengunjung dalam mempelajari silsilah tersebut menunjukkan besarnya perhatian kalangan akademisi dan budayawan terhadap upaya pelestarian sejarah Syekh Yusuf secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Kunjungan ini juga memperlihatkan bahwa warisan Tuanta Salamaka tidak hanya hidup dalam catatan sejarah, tetapi terus menjadi sumber inspirasi bagi penelitian, karya sastra, dan gerakan kebudayaan.

Melalui pertemuan seperti ini, ruang dialog antara akademisi, budayawan, masyarakat adat, dan generasi muda dapat terus terjaga, sehingga nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan spiritualitas Syekh Yusuf tetap relevan bagi kehidupan bangsa saat ini.
Di akhir pertemuan, Aminuddin Salle berharap hasil-hasil diskusi dan kajian yang berkembang dari kunjungan tersebut dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
“Semoga apa yang kami diskusikan dan pelajari bersama dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi orang banyak serta memperkaya pemahaman kita tentang warisan besar Syekh Yusuf Tuanta Salamaka,” tuturnya.
Kunjungan budaya ini menjadi pengingat bahwa menjaga ingatan kolektif bangsa bukan hanya tugas sejarawan, melainkan tanggung jawab bersama.
Dari Galesong, semangat untuk merawat jejak Tuanta Salamaka terus menyala, menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang penuh harapan.









