“Yang penting kamu tamat SMA.”nPesan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi menjadi pegangan hidup yang kuat. Tidak ada tuntutan muluk-muluk. Tidak ada target menjadi pejabat atau orang besar. Sang ibu hanya berharap anaknya mampu menyelesaikan pendidikan menengah dengan baik.
PELAKITA.ID – Kesuksesan sering kali lahir dari perjalanan yang tidak mudah. Kisah Raja Tolitoli ke-17 menjadi salah satu contoh nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita besar.
Dalam sebuah kesempatan berbagi pengalaman hidup, beliau mengenang masa-masa sekolah yang jauh dari kata mulus. Ia mengaku bukan siswa yang selalu berprestasi.
Bahkan, beberapa kali harus menghadapi kenyataan tinggal kelas. Setiap kali mengalami kegagalan itu, ia memilih berpindah sekolah dan memulai kembali perjuangannya di tempat yang baru.
Perjalanan pendidikannya membawanya berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Ia pernah bersekolah di Manado, kemudian melanjutkan pendidikan di Palu. Perpindahan itu bukan semata karena pilihan, melainkan bagian dari perjuangan panjang untuk tetap bertahan dalam pendidikan.
Masa remajanya pun tidak selalu diwarnai kenyamanan. Dalam keterbatasan ekonomi, beliau pernah merasakan tidur di atas dekker, sebuah pengalaman yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Justru dari situlah tumbuh ketangguhan, kesabaran, dan tekad untuk mengubah nasib.
Di balik perjalanan yang penuh tantangan itu, ada sosok ibu yang menjadi sumber kekuatan utama. Beliau, Mohammad Saleh Bantilan mengenang pesan sederhana yang selalu diucapkan sang ibu.
“Yang penting kamu tamat SMA.”
Pesan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi menjadi pegangan hidup yang kuat. Tidak ada tuntutan muluk-muluk. Tidak ada target menjadi pejabat atau orang besar.
Sang ibu hanya berharap anaknya mampu menyelesaikan pendidikan menengah dengan baik.
Namun doa seorang ibu sering kali melampaui harapan yang diucapkannya. Berkat kerja keras, ketekunan, dan keberanian menghadapi berbagai kesulitan hidup, perjalanan karier beliau terus menanjak.
Dari seorang anak yang pernah mengalami kesulitan sekolah dan hidup dalam keterbatasan, ia kemudian dipercaya masyarakat untuk menduduki berbagai posisi penting.
Kepercayaan publik mengantarkannya menjadi Ketua DPRD Kabupaten Tolitoli selama dua periode. Sebuah pencapaian yang menunjukkan kemampuan kepemimpinan dan kedekatannya dengan masyarakat.
Tidak berhenti di situ, masyarakat kembali memberikan amanah yang lebih besar dengan memilihnya sebagai Bupati Tolitoli selama dua periode.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal. Justru banyak pemimpin besar lahir dari pengalaman hidup yang keras, dari kegagalan yang berulang, serta dari perjuangan yang tidak terlihat oleh banyak orang.
Kisah Raja Tolitoli ke-17 mengajarkan bahwa pendidikan, kerja keras, keteguhan hati, dan doa orang tua merupakan modal yang sangat berharga. Dari seorang remaja yang pernah tidur di dekker dan berpindah-pindah sekolah karena tinggal kelas, ia menjelma menjadi pemimpin yang dipercaya masyarakat untuk memimpin daerahnya selama dua periode.
Sebuah cerita yang bukan sekadar legenda, melainkan kenyataan yang menginspirasi. Bahwa selama masih ada kemauan untuk bangkit dan berjuang, tidak ada perjalanan hidup yang terlalu sulit untuk diubah menjadi kisah keberhasilan.
Sebagai aparatur yang sehari-hari terlibat dalam proses pembangunan daerah, saya melihat kisah Raja Tolitoli ke-17 bukan sekadar cerita tentang jabatan dan kekuasaan.
Ini adalah pelajaran tentang ketekunan, perjuangan, dan kekuatan doa seorang ibu yang mampu mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan.
Rustan Rewa
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tolitoli









