Dari Laut Nusantara ke Meja Makan Amerika: Perjalanan Rajungan Indonesia Menembus Pasar Dunia

  • Whatsapp
Produk olahan rajungan (dok: Kamaruddin Azis)

PELAKITA.ID – Pagi baru saja menyapa pesisir utara Jawa ketika para nelayan mulai menarik jaring mereka. Di antara hasil tangkapan yang diperoleh, terdapat komoditas bernilai tinggi yang menjadi primadona pasar internasional: rajungan biru atau blue swimming crab (Portunus pelagicus).

Bagi banyak orang, rajungan mungkin hanya bagian dari hasil tangkapan laut sehari-hari.

Bagi Indonesia, komoditas ini merupakan salah satu produk perikanan yang telah membangun jembatan ekonomi antara nelayan lokal dan konsumen di belahan dunia lain, terutama Amerika Serikat.

Perjalanan rajungan Indonesia menuju meja makan Amerika dimulai dari perairan Nusantara. Pasokan tidak hanya berasal dari wilayah Pantai Utara Jawa seperti Cirebon dan Indramayu, tetapi juga dari kawasan timur Indonesia hingga Papua.

Setelah ditangkap oleh nelayan, rajungan dikumpulkan oleh jaringan pemasok yang tersebar di berbagai daerah sebelum dikirim ke fasilitas pengolahan.

Penulis memperoleh banyak pengalaman dan inspirasi terkait rajungan ini setelah berkunjung ke salah satu eksportir produk rajungan di Gresik beberapa tahun lalu.

***

Salah satu simpul penting dalam rantai pasok tersebut berada di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Di kawasan industri ini berdiri PT Graha Makmur Cipta Pratama (GMCP), perusahaan pengolahan hasil laut yang menjadi bagian dari Indokom Group. Selain fasilitas di Gresik, perusahaan juga mengoperasikan pabrik pengolahan di Purwakarta, Jawa Barat.

Di dalam pabrik, rajungan tidak sekadar dibersihkan dan dikemas. Daging rajungan dipisahkan secara teliti, kemudian diklasifikasikan berdasarkan kualitas dan karakteristiknya.

Beberapa kategori yang paling diminati pasar Amerika adalah Jumbo, Colossal, dan Flower. Kategori-kategori ini menjadi standar produk premium yang dipasarkan ke luar negeri.

Selain produk premium, terdapat pula kategori kualitas kedua atau second grade. Produk dalam kategori ini tidak dipasarkan secara bebas, melainkan disalurkan kepada pembeli tertentu yang memiliki spesifikasi tersendiri, termasuk perusahaan-perusahaan besar seperti Philips.

Setelah melalui proses sortasi, daging rajungan dikemas dalam kaleng dan dipasarkan menggunakan berbagai merek internasional. Nama-nama seperti Royal Banquet Meta Crab, Crab Boss, Bay Colony Crab Meat, dan Pacific Cove mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia.

Di pasar Amerika, merek-merek tersebut menjadi representasi kualitas rajungan yang berasal dari laut Indonesia.

Amerika Serikat hingga kini tetap menjadi tujuan utama ekspor rajungan Indonesia. Meski pasar Eropa pernah dijajaki, permintaan dari negeri Paman Sam masih menjadi tulang punggung perdagangan komoditas ini.

Tingginya konsumsi makanan berbahan rajungan membuat pasokan dari Indonesia terus dibutuhkan.

Salah satu olahan yang sangat populer di Amerika adalah crab cake, hidangan berbahan dasar daging rajungan yang dicampur tepung roti atau gandum sebelum dimasak.

Bagi banyak konsumen Amerika, sajian tersebut mungkin hanya menu restoran atau makanan keluarga. Namun sedikit yang menyadari bahwa bahan baku utamanya sering kali berasal dari nelayan Indonesia yang bekerja di pesisir-pesisir Nusantara.

Keberhasilan menembus pasar global tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku. Industri rajungan Indonesia juga bertumpu pada pengembangan teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, dan pengawasan mutu yang ketat.

Menurut pelaku industri, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing ekspor.

Pemerintah berperan sebagai regulator yang memastikan tata kelola industri berjalan sesuai standar, sementara perguruan tinggi berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Fokus pengembangan industri tidak semata pada mesin dan peralatan produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas tenaga kerja melalui uji kompetensi, penyempurnaan sistem sortasi produk, serta penguatan infrastruktur pengolahan dan ekspor. Langkah-langkah tersebut diperlukan untuk memenuhi standar pasar internasional yang semakin ketat.

Kisah GMCP sendiri merupakan bagian dari perjalanan panjang Indokom Group. Ketika didirikan pada 1994, kelompok usaha ini lebih dikenal melalui ekspor kopi dan udang.

Seiring perubahan dinamika pasar global, perusahaan kemudian memperluas bisnisnya ke sektor rajungan biru dan berhasil menjadikannya sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor.

Cerita tentang rajungan Indonesia pada akhirnya bukan hanya kisah perdagangan internasional. Di balik setiap kaleng produk yang dijual di supermarket Amerika, terdapat rantai ekonomi panjang yang melibatkan nelayan, pemasok, pekerja pabrik, peneliti, akademisi, hingga regulator.

Dari pesisir Cirebon, Indramayu, Gresik, hingga Papua, rajungan biru telah menjadi bukti bahwa kekayaan laut Indonesia mampu menciptakan nilai tambah yang besar.

Sebuah perjalanan panjang dari laut Nusantara menuju meja makan dunia—dan sebuah contoh bagaimana komoditas lokal dapat menjadi pemain penting dalam rantai pasok global.

___
Penulis Kamaruddin Azis