Hometown Kopizone kini, muara jejaring alumni hingga pekerja media (bag 2)

  • Whatsapp
Aksi penyanyi tamu, Om Kettol di Hometown Kopizone (dok: Pelakita.ID)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Suasana warkop langganan Hometown Kopizone pada Minggu malam, 23 April 2023 tidak seperti biasanya. Pengunjung membeludak, semua kursi terisi, banyak pula yang berdiri.

Di beberapa meja, ada main kartu, ada menyesap kopi dan aneka kudapan.

Di stage yang biasanya hanya digunakan untuk menyanyi pada Jumat dan Sabtu malam, kali ini tetap terisi.

Read More

Ada tiga penyanyi yang silih berganti membagikan lagu keren. Salah satu yang menyita perhatian adalah mantan motocrosser Makassar yang terkenal di masanya, Robby Latukolan. Suaranya keren sekali di lagu Michael Learns to Rock.

Lalu ada penyanyi kedua yang juga tak kalah keren, panggilannya Om Kettol.

Rambutnya yang gondrong ikal dan aksi panggungnya yang memukau jadi penanda bahwa dia berpengalaman sebagai singer. Lagu Whiter Shade of Pale milik Procol Harum yang dinyantikannya sungguh menawan dan bertenaga.

Di meja lain, penulis duduk berdampingan Awaluddin Lasena, sosok yang disebut sebagai founder Kopizone, dengan Didies Abdi Abubaeda serta Epong.

Di seberangnya ada Andi Iccu Sapada, senior kami di Smansa 85 serta Arfandy Idris.

Awal menjelaskan kembali bahwa Kopizone saat ini adalah jalan panjang sejak masa Goolagong Dg Sija eksis dari tahun 2003 hingga 2005.

“Warkop berubah nama menjadi Kopizone pada 2005 hingga 2017. Lalu menjadi Kopizone Prime dari 2017 hingga 2023,” imbuhnya.

“Saat ini, dari Prime mewujud Hometown Kopizone dengan manajemen baru,” ujarnya.

Awal menyebut selain beberapa nama yang disebutkan di postingan sebelumnya memang ada beberapa sosok penitng lainnya yang belum sempat dimasukkan seperti jurnalis A.S Kambie, Abbas Sanji, Asdar ‘Chikon’ Tukan, Suwarno ‘Romo’ Sudirman hingga Salman dan Nurawal.

“Termasuk pak Arfandy Idris ini, om Didies, Marwan Hussein, Anno Suparno, Asmin Amin, Maqbul Halim, Iqbal Arifin hingga Syawaluddin Arief, sebut Awal sembari menunjuk Arfandy yang juga datang ke Hometowan Kopizone, Ahad 23/4/2023.

Arfandy adalah anggota DPRD Sulsel dari Partai Golkar.

“Jadi banyak memang, beberapa nama yang disebut sebelumnya itu masih sebagian kecil,” ucap Awal.

Dia menyebut, beberapa sosok yang sangat berjasa dalam menghadirkan pengunjung di Kopizone kala itu, adalah mereka yang terhubung dengan alumni SMP 6, alumni SMA Negeri I.

“Dari kampus Unhas juga, terutama yang banyak berinteraksi dengan Jasa Boga di beberapa Lecture Theatre LT Unhas kala itu,” kenang Awal.

Jasa Boga yang dimaksudnya adalah kantin di Kampus Unhas Tamalanrea yang merupakan tempat ngumpul mahasiswa, bermain kartu, tempat membincang kehidupan kampus mereka.

“Salah satu yang banyak mengajak jejaring untuk datang di masa-masa awal pendirian Kopzione itu adalah om Didies ini,” ucap Awal.

“Iya, itu tidak bisa diingkari, perannya sangat kuat dalam mengajak jejaringnya, mulai dari SMP 6 sampai kampus, dari jejaring Jasa Boga termasuk komunitas pemusik.,” terang Awal.

Tiba-tiba Didies berbisik ke Awal.

“Ada-mi Pak Menteri datang, adami di Hertasning,” bisiknya.

Menteri yang dia maksud adalah Syahrul Yasin Limpo. SYL datang ke Hometown Kopizone malam itu.

***

Didies, atau lengkapnya Didies Abdi Abubaeda saat bertemu Pelakita.ID menyebut apa yang dilakukan selama ini untuk Kopizone itu murni demi mempromosikan Kopizone.

Dia menyebut intens mengajak teman semasa sekolah, mulai dari SMP 6 hingga jejaring kampus Unhas, sejak awal murni karena pertemanan.

Suasana Hometown Kopizone pada Ahad, 23/4/2023 (dok: Pelakita.ID)

“Jangan lupa bos, ini juga jejaring SMP 6,” imbuhnya.

Dia mengingatkan ada banyak kawan-kawan sedari awal yang ikut membesarkan Kopizone dan tidak boleh dilupakan. “Peran mereka sangat vital saat awal-awal dan saat Kopizone perlu promosi dan pengembangan.”

Menurutnya, mereka itu bekerja dengan sukarela, selain karena beberapa kawan itu dari sekolah yang sama, atau kuliah bersama juga karena mereka spunya komitmen yang sama menjadikan. “Kopizone ini solidaritas, ajang bersamaan.”

Apa yang disampaikan Awal dan Didies itu dibenarkan oleh Marwan Hussein.

Meski mengaku belakangan hadir di Kopizone karena bertahun-tahun berkegiatan di daerah, namun dia melihat banyak orang media seperti dari Tribun saat mulai didirikan.

“Ada Dahlan Dahi, Thamzil Tahir hingga A.S Kambie,” ucap Marwan.

“Mereka itu menjadikan Goolagong Dg Sija hingga Kopzone sebagai tempat mencari informasi pemberitaan karena warkop banyak dikunjungi tokoh masyarakat, aktor poliik dan pejabat daerah,” sebut Marwan seraya menuju arah lokasi Kopizone pertama.

Terkait itu, Awaluddin Lasena pun mengaku perjalanan Kopzione tak selalu mudah.  Sosok yang disebut sebagai ‘pemegang rincik’ Kopizone ini mengaku pernah memboyong Kopizone dari Panakukang ke pantai barat Makassar.

Foto bersama pengunjung dengan SYL Daeng Kawang (dok: istimewa)

“Kami pernah bawa Kopizone ke dekat RRI, dengan nama Kopizone Corner,” jelasnya.

Yang tak terlupa dari Goolagong Dg Sija menurut Awal adalah sejarah yang dibuat dengan bekerja sama Majalah Matra, Lion Air, Tribun Timur dengan membuat dialog publik.

“Yang pertama membuat acara Nobar Piala Dunia adalah kami di Kopizone. Yang pertama mengadakan live music “Coffee Night Jazz” reguler setiap Jumat malam selama 4 bulan yang disiarkan secara lsangsung oleh Radio TSFM,” ungkap Awal.

“Saat itu, penjualan kopi saat peak bisa mencapai 1200 gelas sehari. Bukan penjualan online nah karena belum ada saat itu,” kenangnya.

Dari Jakarta, sahabat penulis di Smansa 89 Rani Dasayauri Mappangara ikut berbagi kisah.

“Jangan lupa juga Kopizone jadi tempat kumpul anak-anak sepeda, bahkan ada RBS Rani Bike Shop. Ada kegiatan Ramadan berbuka puasa dengan anak panti asuhan,” sebut Rani.

Pengacara di Jakarta Isdar Yusuf ikut berbagi cerita. “Kami jadi saksi semua, waktu saat awal-awal Goolagong dibuat,” kenang Isdar.

“Yang bawa saya ke sana, almarhum Azis, Lalu saya ajak Kak Il, Ilham Hanadie, juga. Awalnya pelanggan cuma enam orang pagi dan enam orang sore. Di antaranya Nash, Yudi Egos dan itu-ituji,” imbuhnya.

“Awal mulai bisa melonjak beberapa ratus gelas. Kita buat acara namanya Pilpres Pilpres SBY-JK waktu ituu,” tambah Isdar.

Menurut rider Moge ini, yang menarik acaranya, karena dian koleganya datangkan pembicara dari Jkakarta.

“Langsung Phoenam tenggelam waktu itu, ingat sponsor waktu itu kami dapatkan dari Jakarta, jangan lupa Bang Chikon,” sebutnya.

Sosodara, masih banyak cerita yang berkaitan dengan geliat Warkop Kopizone di Makassar, tentu dari berbagai lapisan masyarakat, penikmat kopi dan pengunjung yang punya pengalaman inspiratif.

Anda pembaca misalnya, ada kisah terkait Kopizone?

Informasi yang dipaparkan di atas menggambarkan betapa warkop di Makassar telah menjadi oase sosial dan ekonomi.

Telah menjadi harapan bagi banyak orang untuk terhubung, untuk terjalin sebagai bagian dari denyut kota seperti Kota Metropolitan Makassar, hub di Indonesia bagian timur.

Semoga terus langgeng dan jadi bagian dari perubahan kehidupan kota yang lebih baik ke depan…

Bersambung…

 

Penulis: K. Azis

Related posts