Oleh: Kamaruddin Azis, spesialis kolaborasi pembangunan daerah
PELAKITA.ID – Kemacetan lalu lintas di kawasan Metropolitan Makassar atau Mamminasata bukan lagi sekadar keluhan harian masyarakat. Ia telah menjadi persoalan pembangunan yang nyata, memengaruhi produktivitas, efisiensi ekonomi, kualitas hidup warga, hingga daya saing kawasan metropolitan terbesar di Indonesia Timur.
Kesadaran akan urgensi persoalan ini kembali mengemuka dalam sejumlah pertemuan yang saya ikuti bersama perwakilan European Investment Bank (EIB), di antaranya Ibu Sunita, Pak Francisco, serta tim Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, kami bertemu dengan Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, serta jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan.
Pertemuan tersebut bukanlah agenda yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari rangkaian diskusi dan inisiatif yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir untuk mencari solusi atas problem transportasi massal di kawasan Mamminasata yang meliputi Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, dan Kabupaten Maros.
Persoalan yang Dirasakan Ribuan Orang Setiap Hari
Bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas di kawasan Mamminasata, kemacetan bukanlah isu abstrak.
Ribuan kendaraan terjebak antrean panjang pada jam-jam sibuk di berbagai titik strategis. Kawasan Jembatan Kembar yang menghubungkan Makassar dan Gowa menjadi salah satu contoh paling nyata. Pada jam berangkat dan pulang kerja, ruas ini kerap mengalami kepadatan yang menguras waktu dan energi masyarakat.
Situasi serupa juga terjadi di kawasan Barombong. Arus kendaraan yang menghubungkan Makassar dengan wilayah Galesong dan Takalar sering mengalami perlambatan akibat tingginya volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan yang tersedia.
Di sisi lain, kawasan Mandai dan akses menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin juga menghadapi tekanan yang sama. Pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat yang terus meningkat tidak diimbangi dengan sistem transportasi massal yang memadai.
Tiga contoh tersebut cukup menggambarkan bahwa persoalan transportasi di Mamminasata telah melampaui batas administratif masing-masing daerah. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara parsial oleh satu pemerintah daerah saja, melainkan membutuhkan pendekatan metropolitan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Mengapa Transportasi Massal Menjadi Kebutuhan Mendesak
Kawasan Mamminasata terus tumbuh sebagai pusat ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan jasa di Indonesia Timur.
Pertumbuhan ini membawa konsekuensi berupa meningkatnya mobilitas penduduk antarwilayah. Setiap hari masyarakat bergerak dari Maros menuju Makassar, dari Gowa ke pusat kota, dari Takalar ke kawasan industri dan perdagangan, serta sebaliknya.
Tanpa sistem transportasi massal yang efektif, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi akan terus meningkat. Akibatnya, kemacetan menjadi semakin parah dan biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat pun semakin besar.
Kesadaran inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan beberapa tahun lalu untuk mengajukan permohonan asistensi kepada Kementerian Perhubungan dan Bappenas terkait pengembangan sistem transportasi massal terintegrasi di kawasan Mamminasata.
Tujuannya sederhana tetapi sangat strategis: menghadirkan sistem transportasi yang mampu menghubungkan berbagai wilayah secara efisien, aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Dukungan Mitra Internasional
Besarnya tantangan tersebut ternyata juga menarik perhatian berbagai lembaga pembangunan internasional.
European Investment Bank (EIB) dan GIZ menjadi dua mitra yang secara aktif memberikan dukungan terhadap upaya pemerintah dalam merancang sistem transportasi massal yang lebih baik.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah penyusunan studi kelayakan atau feasibility study untuk pengembangan sistem Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Mamminasata.
Kajian ini dilakukan sebagai penyempurnaan terhadap berbagai program transportasi yang telah dirintis sebelumnya. Selama bertahun-tahun, berbagai infrastruktur pendukung transportasi publik telah dibangun, mulai dari halte hingga fasilitas pendukung lainnya. Namun dalam praktiknya, banyak fasilitas tersebut belum mampu berfungsi secara optimal karena belum didukung sistem transportasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Karena itu, studi yang dilakukan saat ini diharapkan tidak berhenti pada penyusunan dokumen semata, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan yang konkret bagi pemerintah.
Komitmen Pemerintah Daerah
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, terlihat adanya komitmen yang cukup kuat dari pemerintah daerah untuk membenahi sistem transportasi di kawasan Mamminasata.
Pemerintah Kota Makassar menunjukkan keseriusan dalam mendukung pengembangan transportasi massal yang lebih modern dan terintegrasi. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga terus mendorong berbagai proyek strategis yang dapat memperkuat konektivitas kawasan.
Salah satu inisiatif yang telah berjalan adalah pengembangan jalur Kereta Api Trans Sulawesi yang menghubungkan Makassar dan Parepare. Dalam jangka panjang, jaringan ini diharapkan dapat terus berkembang hingga menjangkau wilayah yang lebih luas di Pulau Sulawesi.
Selain itu, pembangunan jalan layang dan peningkatan kapasitas jaringan jalan juga menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi kemacetan yang selama ini menjadi persoalan utama.
Namun demikian, berbagai proyek infrastruktur tersebut perlu diintegrasikan ke dalam satu sistem transportasi yang saling terhubung agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.
Dari Studi Menuju Implementasi
Salah satu hal penting yang mengemuka dalam diskusi adalah bagaimana memastikan bahwa hasil studi kelayakan tidak berhenti sebagai dokumen teknis.
Hasil feasibility study yang telah disusun harus menjadi masukan nyata bagi para pengambil kebijakan. Dokumen tersebut perlu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah yang konkret, terukur, dan memiliki kepastian pembiayaan.
Dalam sistem perencanaan nasional, proyek-proyek strategis biasanya melalui tahapan yang cukup panjang sebelum dapat direalisasikan. Salah satu tahapan penting adalah masuknya proyek ke dalam Green Book Bappenas.
Masuknya suatu proyek ke dalam Green Book menunjukkan bahwa proyek tersebut telah memiliki tingkat kesiapan yang lebih matang dan berpeluang memperoleh dukungan pembiayaan dari berbagai sumber, termasuk lembaga pembangunan internasional.
Dari berbagai pembahasan yang berlangsung, terlihat bahwa European Investment Bank memiliki keinginan kuat untuk mendorong agar proses tersebut dapat terus berlanjut hingga mencapai tahap implementasi.
Dengan kata lain, perhatian yang diberikan tidak hanya berhenti pada penyusunan kajian, tetapi juga pada upaya memastikan bahwa rekomendasi yang dihasilkan dapat diwujudkan dalam bentuk program nyata.
Membangun Masa Depan Mamminasata
Transportasi massal bukan semata-mata persoalan kendaraan, halte, atau jalur khusus.
Ia adalah bagian dari visi pembangunan kawasan metropolitan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing. Kawasan Mamminasata membutuhkan sistem mobilitas yang mampu menghubungkan masyarakat dengan pusat-pusat ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, dan kawasan permukiman secara cepat dan terjangkau.
Karena itu, berbagai inisiatif yang sedang didorong saat ini patut mendapatkan dukungan bersama.
Kemacetan yang terjadi di Gowa, Takalar, Maros, dan Makassar tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima begitu saja. Persoalan tersebut harus dijawab melalui kebijakan yang terencana, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Harapannya, berbagai langkah yang saat ini sedang diupayakan oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta mitra pembangunan internasional dapat segera diwujudkan menjadi program nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Membangun transportasi massal yang modern memang membutuhkan waktu, komitmen, dan investasi yang tidak sedikit. Namun manfaat jangka panjang yang akan diperoleh jauh lebih besar: mobilitas yang lebih baik, ekonomi yang lebih efisien, lingkungan yang lebih sehat, dan kualitas hidup masyarakat yang meningkat.
Pada akhirnya, keberhasilan membangun sistem transportasi massal di Mamminasata bukan hanya tentang mengurai kemacetan. Lebih dari itu, ia adalah bagian dari upaya membangun Sulawesi Selatan dan memperkuat posisi Metropolitan Makassar sebagai salah satu pusat pertumbuhan utama Indonesia di masa depan.









