KOLOM Andi Iqbal Burhanuddin: Pesta yang menyiksa laut

  • Whatsapp
Prof Andi Iqbal Burhanuddin (dok: istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Pembatasan interaksi langsung selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan kita. Termasuk di dalamnya pola konsumsi dan perilaku masyarakat.

Situasi pandemi yang penuh keterbatasan membuat momen acara resepsi, gathering sosial, pesta pernikahan hingga ulang tahun tidak bisa diselenggarakan sama seperti sebelumnya.

Read More

Minggu lalu, saya dan mungkin anda juga, menghadiri undangan kawinan sejawat berturut-turut tiga acara dalam sehari.  Berhubung pelaksanaan acaranya sesuai protokol kesesehatan sehingga acara ngobrol-ngobrol santai serta cengkerama tidak lagi ada seperti biasanya.

Untuk tidak mengurangi esensi acara adat istiadat pernikahan dan mencegah kerumunan, acara prasmanan ditiadakan dan oleh panitia  telah disiapkan voucher  untuk ditukarkan dengan bingkisan dalam wadah serba plastik setelah silatuhrahim, lempar senyum tanpa jabat tangan dan cipika-cipiki lagi dengan yang punya hajatan.

Wadah plastik dalam bingkisan pengganti prasmanan di berbagai acara hajatan  tanpa disadari menjadi pendorong peningkatan jumlah produksi sampah plastik di laut yang kini semakin mengkhawatirkan.

Hampir semua dari kita menggunakan produk plastik  dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa plastik yang diproduksi adalah penyebab utama dari pencemaran di perairan, udara dan polusi tanah yang merusak lingkungan karena racun kimia seperti Etilen oksida, xylene, dan benzene yang dikandungnya.

Plastik merupakan produk non-biodegradable yang mempunyai potensi dalam membuat kerusakan bagi lingkungan karena memakan waktu sekitar 500 – 1000 tahun untuk dapat terurai.

Selama pembuatannya, banyak bahan kimia berbahaya yang dipancarkan dapat menyebabkan penyakit pada manusia maupun mahluk lainnya.

Sekitar  tahun 1860-an  manusia menciptakan materi plastik yang ringan, kuat dan rendah biaya produksinya sehingga dengan cepat dapat menggantikan bahan baku berbagai jenis barang.

Plastik yang awalnya dibuat dari bahan bakar fosil, kini telah terkandung dalam segala sesuatunya, seperti kemasan makanan, meringankan beban pesawat, mobil, hingga  merevolusi bidang kedokteran.

Namun hari ini, benda yang telah membuat kehidupan kita lebih mudah ini, sekitar 8 juta ton bermuara pada pencemaran laut setiap tahunnya. Angka tersebut amat mencengangkan para ilmuan yang menghitungnya pada tahun 2 000 bahwa produksi massal plastik baru mulai sekitar tahun 1950-an hanya 8,3 milliar ton plastik yang harus ditangani.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 6,5 miliar ton sudah menjadi sampah. Dan dari sampah itu, ada 5,7 miliar ton tidak pernah sampai ke tempat daur ulang.

Wabah pandemi virus corona, COVID-19, yang melanda dunia seiring dengan meningkatnya belanja online dan pemanfaatan  plastik pada acara kawinan di masa pandemi memberikan kontribusi berupa sampah plastik cukup tinggi.

Olehnya itu, Aksi global diperlukan untuk mengatasi masalah ini dengan bekerja keras bersama-sama antara pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan bisnis, dan organisasi non-profit untuk membantu memecahkan masalah pencemaran plastik.

Riset-riset perlu terus dilakukan  untuk mengungkap dan memecahkan masalah plastik bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Upaya untuk mengelola dan menggunakan plastik bekas agar dapat digunakan kembali atau diolah menjadi barang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan memiliki nilai jual perlu ditingkatkan.

Tanpa adanya upaya perbaikan dan kesadaran maka jumlah kumulatif sampah plastik yang masuk ke laut dari daratan akan meningkat sangat besar, diperkirakan potensi sampah plastik ke laut pada tahun 2025 sebesar 250 juta ton.

Pesta-pesta kita, baik ulang tahun, perkawinan, atau gathering komunitas yang menggunakan wadah plastik, secara tidak langsung telah menyiksa tanah, sungai, lautan kita. Eksosistem kita dijejali sesampahan dan itu sudah harus ditinjau ulang.

Jika tidak bisa menyudahinya, setidaknya, memastikan bahwa plastik yang kita gunakan tertangani dengan baik.

 

Baraya, 22 September 2021

 

Editor: K. Azis

Related posts