Kolom K Azis: Nelayan Galesong, pada ruang dan waktu

  • Whatsapp
Penulis saat berlayar ke Taka Bonerate dengan perahu layar dari Pulau Rajuni (dok: istimewa)

DPRD Makassar

Taka Bonerate adalah wilayah transisi sebelum mereka memilih untuk mencari hasil laut yang lebih banyak di selatan, di Flores, Rote hingga menyeberang ke teritori Australia Utara.

PELAKITA.ID – Sebagai yang lahir di awal tahun 70-an di pesisir Galesong, Takalar, saya beruntung bisa merekam denyut pesisir di sana termasuk transformasinya pada ruang dan waktu.

Dari Kampung Bayowa, Lanna, Suli hingga Kampong Beru di utara. Galesong sendiri adalah kawasan yang membentang dari Mangindara di selatan hingga Aeng Batu-Batu di utara berbatas Barombong. Saya menyebutnya sebagai Galesong Raya, bumi para pelaut.

Read More

Di rentang tahun 70-an hingga 80an kami mencatat denyut aktivitas perikanan yang sarat pengetahuan, keterampilan, tradisi, budaya, sekaligus pertarungan dinamika internal-eksternal seperti pada ragam inovasi teknologi dan modernitas.

Antara tetap menggunakan layar atau bergantung sepenuhnya pada mesin-mesin. Di Galesong itu, kita bisa melihat nelayan pancing, pemasang bubu, pencari teripang, talibbo – kima, sebelum dilarang, patorani  – pencari telur ikan terbang – hingga parengge (purse-seine) yang datang belakangan di ujung tahun 80an.

Juga paondara, para pencari hiu yang mengembara hingga Kapoposang dan Pulau Ambo.

Di rentang itu, saya boleh menyebut Tassang, yang acap menyuplai kami ikan karang hasil bubu tindis yang dipasang di sekitar Pulau Sanrobengi. Ikan baru seperti papakulu’, beronang dan lain sebagainya.

Tassang dan keluarganya, tetangga kami di Kampong Jempang – kini Desa Kalukuang yang hingga kini saya tak tahu di mana rimbanya.

Selain Tassang, ada beberapa nama yang mengarahkan saya pada keahlian mereka membawa perahu sampan besar ‘balolang’ yang digunakan mengarungi Selat Makassar hingga Laut Flores.

Ada satu keluarga Daeng Tobo, dan terkenal sebagai pembuat ikan pindang (palluce’la) dan pemancing ikan merah di Taka Bonerate. Yang berbeda, mereka datang ke Taka Bonerate di saat musim barat dengan menggunakan perahu kecil, ya, balolang itu.

Pada bulan Februari atau Maret, saat musim barat menua, mereka biasa membawa banyak sekali ikan kering dari Taka Bonerate.

Dengan mengubah sedikit saja ukuran balolang (sampan bercadik) menjadi biseang (perahu) baggo’ atau biseang patorani yang lambung perahunya buncit akan memudahkan untuk mengarungi Laut Flores hingga jauh.

Perahu yang model ini saya masih rasakan saat diajak kakek ke Pulau Sanrobengi. Perahu khas patorani yang lebar dan dengan konstruksi geladak dan palka yang dinamis.

Bertemu Alimuddin Daeng Sija’, nelayan asal Kampung Pa’la’lakkang, Galesong di Desa Tanjung Dewa, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (dok: K. Azis)

Yang saya suka adalah berbaring di salah satu sisi atap atau palka yang serupa atap rumah atau duduk di bagian belakang sembari memegang guling (kemudi). Dilapis daun kelapa atau bilah bambu yang dijalin sebagai alas. Sebagia perahu masih mengikuti model ini namun tak seteduh yang dulu sebab mereka tak disesaki oleh mesin kapal. Mesin yang bising dan panas.

Migrasi nelayan Galesong ke Taka Bonerate ini saya masih dapat di tahun 90-an hingga 2000-an.Mereka berbondong ke pulau-pulau dalam taman nasional itu demi berburu ikan simbula sardin besar untuk dipindang, pallu ce’la.

Saya menemukan banyak nelayan Kalongkong, Tamasongo yang bermukim di Pulau Tinabo dan Rajuni Kecil dengan membawa bale’-bale’ untuk pindang simbula.

Bukan hanya itu, di Pulau Tarupa, beberapa nelayan Pa’la’lakkang atau Kampung Beru datang ke Pulau Tarupa dan Pasitallu membeli hasil laut seperti teripang hingga sirip hiu. Sebutlah Nurdin, Azis, hingga Haji Tiro yang fenomenal sebagai pelaut sekaligus pedagang. Saya melihat mereka wara-wiri sebagai pedagang.

Taka Bonerate adalah wilayah transisi sebelum mereka memilih untuk mencari hasil laut yang lebih banyak di selatan, di Flores, Rote hingga menyeberang ke teritori Australia Utara.

Wajar jika kemudian, beberapa armada pencari ikan asal Galesong dan pulau-pulau seperti Barrang Caddi, Kodingareng hingga Barrang Lompo dilaporkan sampai pulau di Ashmore Reef Australia mencari teripang, sirip hiu dan hasil laut lainnya seperti lola.

Perjalanan yang lambat laun menjadi tragedi buat mereka karena kapal-kapal yang ditangkap akan dibakar oleh Pemerintah Australia. Tahun 90an awal adalah fase tragedi itu, belasan perahu orang berbahasa Makassar dibakar di Australia.

Penetrasi nelayan Makassar (berbahasa Makassar) di atas ke perairan-perairan kaya sumber daya alam bisa dimaknai sebagai muara dari sejarah perikanan yang telah mereka lakoni dan kuasai sedari dulu. Buah dari kecemerlangan tradisi Maritim Kerajaan Gowa itu.

Saat ini keberadaan mereka dapat dilihat seperti di Kepulauan Sapuka, Sabalana, Balo-baloang, hingga Pasitallu, Karompa, hingga yang paling jauh Fak Fak Papua.

Data yang dipunyai DKP Papua Barat menyebutkan bahwa ada 446 kapal nelayan pencari ikan terbang asal Sulawesi Selatan (Galesong, Takalar) di Kabupaten Fak Fak. Perahu-perahu pencari telur ikan terbang dan ikan pelagis di pelabuhan perikanan Sorong (dok: K. Azis)

Saat ini, jelang musim pencarian ikan terbang, ratusan nelayan Galesong Raya akan bermigrasi ke timur, bermukim di Papua demi mencari telur ikan.

Cerita singkat tersebut di atas memberi kita keyakinan bahwa dulu, mereka pasti telah sampai ke Australia, telah sampai di Marege, saat mesin sebagai alat pendorong perahu belum mereka pasang, hanya bermodal angin dan kecakapan melihat bintang.

 

Penulis: K. Azis

Related posts