14 Hari di Oman: Terpikat Keindahan dan Keramahan Warga Kota Muscat (Bagian 1)

  • Whatsapp
Roti, pemberian Oman Airr bersama teh di hotel Radisson, dan bendera Oman di Tab Samsung. Selamat datang di Oman (dok: Pelakita.ID)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID  – Perjalanan bermula tanggal 24 Desember 2023. Saya dan Imran Lapong sepakat jalan berdua ke Kota Muscat Oman. Makassar – Jakarta – Muscat.

Dua jam Makassar – Jakarta, tujuh setengah jam Jakarta – Muscat. Ini perjalanan terlama di udara setelah Jakarta – Makassar – Manokwari yang pernah saya tempuh.

Jangan khawatir, sebelum berangkat saya sudah googling dan berselancar tentang Kota Muscat, sejarah, geografi, destinasi wisata dan bagaimana kehidupan di Muscat, kota yang disebut sealah satu kota terindah di dunia.

Read More

Oman, negara yang sungguh maju dan makmur di bawah Pemerintahan mendiang Sultan Al Qaboos bin Said. Yang mulia mangkat dua tahun lalu.

Kami akan ke Salalah, satu kawasan di Oman yang disebut sangat eksotik dan punya musim Al Khareef yang tersohor untuk momentum kepariwisataan.

Suasana di depan Aqar Square (dok: Pelakita.ID)

Sahabat sekalian, kami dapat kursi bagian agak depan sebelah kiri  pesawat Oman Air.  Saya dekat window, Imran di tengah bersama puluhan jemaah umroh via Muscat. Pesawatnya cukup besar dengan sembilan deret kursi.

Yang saya ingat dari perjalanan ini adalah betapa repotnya kalau kursi kita dekat jendela, sementara di ‘isla’ diisi oleh orang lain yang kita tidak kenal dan doyan tidur.

Kami berangkat pagi pukul 7 di Makassar, tiba di Muscat pukul 7 malam. Waktu Makassar lebih cepat 4 jam dari Muscat. Urusan juga nampak mudah, status visa on arrival kami lancar. Petugas di bandara Muscat ramah dan murah senyum.

“From Indonesia? Welcome to Muscat!” sambut mereka.

Tanggal 25 Desember 2023, atau sehari setelah tiba di Muscat, saya dan sahabat perjalanan Muhammad Imran langsung tancap gas, meeting dengan mitra pengundang di sana. Kesan pertama sungguh berbahagia.

Respon mereka di luar dugaan, sangat ramah, seramah-ramahnya.

Betul kata orang-orang, warga Muscat dikenal ramah dan bersahabat.

Pertemuan digelar di Aqar Square, Muscat. Pusat perkantoran baru di Kota Muscat, yang juga kantor pihak yang mengundang kami.

Dari sini nampak Oman Mall, IKEA, dan Kantor Oredoo nan indah. Oh iya, di Oman, kartu Telkomsel harus kami ganti dengan Vodafone.

Saya akan ceritakan pada bagian kedua setelah ini. Di sini, saya juga bertemu Adil, pria asal Bogor yang kerja jadi barista.

***

Tiga orang perempuan, salah satunya CEO, dan dua pria menjadi orang Muscat pertama yang kami kenal, salami dan langsung berbagi cerita.

Pertemuan berlangsung lancar, mereka bercerita tentang apa yang menjadi alasan mengundang, apa yang menjadi visi misi lembaga mereka dan bagaimana mereka menemukan kami jagad maya. Ha-ha.

“Terima kasih sudah menerima undangan kami.”

“Terima kasih sudah jauh-jauh dari Makassar, ke sini, meski kita baru pertama kenal.”

Senyum ramah, panduan, keterbukaan informasi, dan bagaimana mereka memberi kami keleluasaan di kantor baru mereka sungguh bikin nyaman. Alhamdulillah.

Penjelasan mereka relevan dengan apa yang selama ini kami kerjakan sebagai alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas. Let’s see. Saya dan Imran sesama alumni ITK Unhas.

Suasana di depan hotel (dok: Pelakita.ID)

Pendek cerita mereka ingin mendapat perspektif maritim, mendengarkan pengalaman terlibat dalam sejumlah program terutama berkaitan dalam pemanfaatan rumput laut sebagai basis pengembangan ekonomi masyarakat, konservasi lingkungan termasuk untuk alternatif penyerapan karbon atau net zero emissions.

Selama ini Oman dikenal sebagai negara penghasil minyak, ada banyak oil refinery di sini. Mereka ingin ke laut, ke pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan.

Salah satu proyek yang mereka peroleh terkait pengalaman saya menjadi ‘social advisor’ uintuk proyek budidaya rumput laut yang dikerjakan Destructive Fishing Watch Indonesia di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat.

Informasinya ada di Linkedin. Termasuk saat mewartakan budidaya rumput laut dan pengelolaannya sebagai basis ekonomi pada program CCDP IFAD tahun 2016 hingga 2017.

Saya sempat bertanya ke mereka: How did you find me?

Imran adalah alumni Kelautan Unhas yang juga pernah kuliah di Gueensland University Australia dan mendalami rumput laut, dia pernah kerja proyek ACIAR di Indonesia dan berteman kawan saya Mike Rimmer (semasa di Aceh), karena itu kami berdua bisa leluasa merespon saat mereka bertanya tentang sisi luar dalam rumput laut.

Begitulah sosodara.

Saya lebih terttarik berbagi kisah dari laman ini tentang betapa indahnya Kota Mucsta. Kebetulan kami menginap di
Radisson Panorama Hotel yang sangat strategis dan bisa mengakses banyak tempat asik. Hotel ini sebelahan sama mall Panorama.

Dari Radisson, di hari pertama, jelang petang sudah lihat purnama, subuh hari saya dapat rembulan bertengger di pelepah kurma.

Orang hotel ramah-ramah. Mulai dari resepsions, penjemput di bandara dan mereka yang menyiapkan sarapan, makan siang dan malam. Memang sebagian besar yang saya tanya mengaku dari India, ada Calcutta, Hyderabad hingga Delhi. Semuanya muslim.  Ada juga Asia, dari Filipina, namanya Jenny.

“Taksi?” jawab pria-pria bersongkok di depan hotel. Satu dua orang, ramah, sekali bertanya dan pergi.

Pada tanggal 25 Desember 2023 itu, setelah meeting, atau sore harinya, saya iseng berjalan kaki untuk melihat Masjid Mohammed Al Aameen yang kesohor. Saya ambil sisi belakang hotel. Di benak juga berharap bisa berkunjung ke Masjid Agung Sultan Al Qaboos, salah satu masjid terbesar di dunia.

Pria ini sedang menikmati sebatang di depan hotel (dok: Pelakita.ID)

Masjid ini terlihat dari hotel, terasa dekat meski saat adzan berkumandang masih ada dua blok jalan harus saya lewati, terpaksa balik lagi ke hotel.

Di depan hotel satu per satu mobil mewah terparkir. Demikian pula di depan kantor sementara kami. Lamborghni, Porsche, BMW, hingga Jeep kerap menampakkan diri. Jadilah saya iseng pura-pura buka pintu, kesiang!

Ommale!

Pada hari kedua ini, Imran juga mulai iseng ke mall, ke swalayan, deh ini anak, belumpi sepekan di sana, carimi Indomie.

Ohya, ada perbedaan waktu sekitar 4 jam antara Indonesia dan Oman. Jika sudah pukul 7 malam di Muscat itu berada jelang dinihari ini Indonesia, pada situasi itu, mengantukmaki juga. Jam biologi meminta supaya segera tidur.

Tanggal 25 Desember 2023. kami harus bersiap sebab tanggal 26 keeesokan harinya kami diajak jalan-jalan ke Daerah Salalah.

Salalah adalah kawasan yang saya temukan di Youtube dengan kurang lebih 20 kawasan wisata yang terkenal. Saya akan cerita pada bagian dua atau tanggal 26 Desember 2023.

Sosodara, foto-foto yang saya bagikan ini tertanggal 25 Desember 2023.

Di dalamnya ada suasana Muscat International Airport nan megah, sajian di hotel, suasana kamar hotell, view dari balkoni, ikan pallu ce’la tenggiri, jeruk Bali, Porsche, bulan purnama depan hotel, suasana di depan kantor kami.
Selamat menikmati.

____
Tamarunang, 8/1/2024.

Denun

Related posts