Kolom Yarifai Mappeaty: Jangan Lupa, Kamu Dulu Makanannya Itu Nasi Jagung: Nasihat Buat Gus Imin

  • Whatsapp
Kolom Yarifai Mappeaty (dok: istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Tatkala mendengar nasi jagung disebut, maka yang akan terbayang oleh kita adalah nasi beras campur jagung, dan atau nasi yang sepenuhnya terbuat dari jagung, dan di atasnya dibubuhi kelapa yang sudah diparut.

Bagi masyarakat Jawa Timur, menyebut yang pertama sebagai ampok, dan yang kedua adalah blendung.

Masyarakat nusantara yang beragam, hampir semua mengenal nasi jagung dengan sebutan yang juga berbeda-beda. Tetapi kendati begitu, semua sama bahwa nasi jagung merupakan makanan pokok alternatif pengganti nasi beras.

Read More

Disebut demikian karena masyarakat pada umumnya, terutama masyarakat di pedesaan, nasi jagung dikonsumsi pada saat terjadi situasi di mana beras sulit diperoleh. Baik karena terjadi kemarau panjang maupun karena faktor lain yang mengganggu suplai dalam jangka Panjang.

Pada masa bocah dahulu di kampung, di pedalaman Sulawesi Selatan, tak berapa lama setelah usai panen padi, jerami bekas panen setelah kering, dibakar, untuk persiapan menanam jagung. Begitu hujan musim barat turun pertama kali, musim tanam jagung pun dimulai.

Setiap tahun selalu begitu, sampai menjadi semacam rutinitas tahunan. Pernah muncul di benak saya yang masih belia, untuk apa? Dijual juga, tidak. Sebab, realitasnya, jagung ketika itu, secara ekonomi memang relatif tak punya nilai. Sehingga lebih banyak menjadi makanan ayam ketimbang dikonsumsi sendiri, khususnya stok jagung yang sudah lebih 3 tahun.

Setelah besar baru paham, bahwa menanam jagung sebenarnya, bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tetapi juga sebagai sebuah kearifan lokal bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam kaitan dengan urusan logistik keluarga. Yaitu, sebuah tradisi mengantisipasi terjadinya kemarau panjang.

Mereka yang mencoba abai, akan benar-benar merasakan akibatnya.

Kala usiaku baru sekitar lima tahunan – belum sekolah tapi ingatanku sudah bekerja dengan sangat baik – terjadi kemarau panjang. Ternak kurus kering sampai banyak yang mati. Tanah persawahan kering merengkah. Rengkahannya demikian lebar sampai kaki kerbau kerap terperangkap di dalamnya.

Setiap pagi, saya selalu menyaksikan orang-orang di kampung pergi ke hutan mencari umbi-umbian yang bisa dimakan. Tanpa kusadari, ibu rupanya memperhatikanku.

“Nak, itu contoh orang yang malas menanam jagung,” nasihatnya lembut sambil menepuk pundakku dari belakang. Saat itulah baru saya mengerti, mengapa setiap tahun keluarga kami tak pernah alfa menanam jagung. Dan, kami sekeluarga kerap makan nasi jagung.

Di luar itu, memang ada masyarakat lebih banyak mengonsumsi nasi jagung ketimbang beras, karena faktor ekonomi. Kepada merekalah zakat fitrah dibagikan setiap tahun.

Artinya, nasi jagung pun menjadi ukuran kemiskinan. Sebuah indikator kemiskinan yang amat sederhana namun akurat.

Setelah bertahun-tahun, kenangan akan nasi jagung itu kembali muncul secara tak sengaja. Di chanel youtube, saya menemukan sebuah acara televisi bertajuk “Satu Jam Lebih Dekat” yang diasuh oleh Indy Rahmawati di Tv One yang tayang pada dua tahun lalu.

Tamunya adalah Abdul Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, yang kerap disapa Cak Imin atau Gus Imin.

Tadinya, saya menontonnya dengan ogah-ogahan sembari mempercepatnya biar cepat habis. Sebab sejujurnya, tak terlalu ingin tahu karena kurang berkenan saja.

Mungkin karena pandangan subyektif saya terhadap kyai-kyai besar NU di Jawa yang saya anggap lebih kurang seperti “Baron” di Eropa, sebagai penguasa sumber daya lokal, khususnya tanah.

Sementara Cak IMIN adalah darah biru keturunan kyai besar pendiri NU. Satu-satunya yang membuatku berpikir positif, bahwa faktanya, mereka ulama besar yang merupakan pewaris Nabi.

Dalam kondisi ogah-ogahan menonton, sampailah pada bagian di mana Abdul Halim Iskandar, kakak tertua Cak Imin yang disapa Gus Halim, memberikan oleh-oleh dari Jombang dalam bentuk dos kecil kepada Cak Imin.

Begitu Cak Imin membukanya, isinya ternyata satu tongkol jagung kuning. “Wow!” seru Cak Imin surprise. Diambilnya jagung itu lalu diciumnya.

Meskipun tersenyum, namun tampak haru sekilas di matanya, seolah menerawang jauh ke masa silam.

Di sisi lain, Gus Halim kemudian bercerita tentang keluarga dan masa kecil mereka di Jombang yang terbiasa makan nasi jagung.

“Saya ingatkan, jangan lupa kalau dulu, kamu makanannya itu nasi jagung,” ujar Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi itu menasihati adiknya sambil tertawa.

Meski guyon, namun tetap saja membuat saya terperanjat. Bagaimana tidak. Sebab sosok yang saya persepsi sebagai keturunan “Baron Jawa” itu, ternyata masa kecilnya juga akrab dengan nasi jagung, sama sepertiku.

Pantas saja lebih suka disapa “Cak” ketimbang “Gus”, menunjukkan kalau ia memang bersahaja, sama sekali bukan dibuat-buat.

Nasi jagung adalah simbol kemiskinan, sedangkan kemiskinan masih menjadi milik rakyat kecil. Sehingga yang paling tahu tentang kemiskinan dan rakyat kecil, adalah mereka yang pernah merasakan kemiskinan dan hidup sebagai rakyat kecil.

Ah, saya tiba-tiba merasa sangat dekat dengan Gus Imin dalam kenangan nasi jagung.

“Maafkan saya, Gus, telah keliru menilai sampeyan selama ini,” bisikku dalam hati.[ym]


Makassar, 24 Oktober 2023

Related posts