BOSKA Coffee

  • Whatsapp
Kopi terbaik ada di BOSKA (dok: Cindenk)

PELAKITA.IDArtikel ini ditulis oleh Rusman Madjulekka, jurnalis senior asal Makassar yang kini berdomisili di Jakarta. Tulisan tentang satu tempat nongkrong yang belakangan ini banyak menyedot perhatian anak-anak Makassar yang ada atau berdomisili di Jakarta. Seperti apa? Simak yuk!

***

Read More

“Yuk ngopi di Boska,” ajak seorang kawan.

“Boska”, entah berapa kali saya mendengar orang menyebutnya di awal tahun 2021. Kopi apa lagi nih? atau pikirku hanya tempat ngopi biasa. Apalagi saya bukan tergolong seorang coffeeholic sehingga ceritanya berlalu.

Pertengahan Maret 2021, ajakan tersebut datang lagi. Kali ini saya tak bisa menolak lagi. Hitung-hitung, setidaknya dapat mengobati rasa penasaran sebelumnya.

“Selamat datang di Boska,” sapa pelayan menyambut ramah menjelang siang.Lokasinya berada pas di sudut dalam kompleks ruko kawasan Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan.

Bagi yang naik KRL commuter, tak begitu jauh dari stasiun pasar minggu baru. Dari luar, nampak eksklusif. Tetapi begitu berada di dalam, kesan itu sirna, karena justru mulai terasa bersahabat dengan penataan kursi,meja dan interior yang bikin betah.

Beberapa pengunjung masuk dan langsung naik ke lantai dua. Belum begitu ramai, jadi bebas memilih meja di lantai satu. Dan memungkinkan saya bisa melihat langsung ekspresi sang barista meracik kopi. Saya mengamati, sebagai sebuah coffee shop, jelas “Boska” dirancang dan didesain dengan sebuah konsep yang berbeda dengan kedai kopi pada umumnya.

Pengelola “Boska” memang menempatkan ruangan di lantai satu bagi pengunjung yang menyeruput kopi sembari merokok, meski tidak ada tulisan smoking area.Tapi tak perlu kuatir, karena telah disiapkan penyedot asap rokok sehingga meskipun kursi terisi penuh sekalipun ruangan tetap terasa segar dan adem.

Sedangkan di lantai dua disiapkan bagi pengunjung yang tidak merokok plus VIP room yang bisa juga untuk meeting. Dibagian timur dekat tangga, ada dua toilet serta tempat wudhu dan salat.  Yang tak kalah penting, toliter dan tempat salat itu bersih, bahkan sajadahnya pun harum, pertanda sering dilaundry.

Mungkin karena penataan ruang yang egaliter, saya perhatikan, kedai kopi “Boska” jadi sangat familiar juga bagi kum hawa. Selama ini dikesankan kedai kopi hanya didominasi kaum lelaki, namun di Boska berbeda. Bahkan di Boska, mereka terlihat nyaman ngobrol dan bercengkrama tanpa merasa risih.

“Memang target pengunjung kami, dari segmen karyawan, family dan kalangan milenial atau komunitas,” ujar Bowo (38), manager pengelola “Boska” Coffee saat berbincang dengan saya dan Awaluddin, kawan yang kerap memprovokasi diriku bertandang ke “Boska”.

Soal menu? Meski sang owner, Darwis Ismail, berasal dari Makassar,Sulawesi Selatan tapi kedai kopi Boska tetap menyajikan berbagai jenis kopi dengan cita rasa nusantara. “Jadi semua lidah orang Indonesia cocok di sini,” timpalnya bernada promosi.

“Apa kabar bos, Siap bosque. Minta tolong bos”, begitu sapaan yang akrab terdengar di telinga kita. Apalagi ikut dipopulerkan oleh artis Baim Wong dalam setiap acara yang dibawakannya di televisi; Halo Bosgue!.

Bahkan di kalangan anak gaul sapaan itu dimodifikasi dengan sebutan “Mas Bro”.

Kebetulan sang owner, cerita Awaluddin, sering disapa maupun mengucapkan kata ‘bos’ di belakang kalimat. Baik di media sosial, atau perbincangan fisik harian. Selalu ada kata ‘bos’ di akhirnya.

Dalam dialek Makassar, kata bos itu juga sangat familiar dengan sapaan ‘Boska”, semacam panggilan keakraban atau kehormatan kepada partner percakapan.

Akhirnya, karena terbiasa dengan panggilan ‘bos’ atau ‘boska’ akhirnya disepakati menjadi nama dan brand kedai kopi ini.

Apalagi, menurut Awalaudin, karena ternyata memanggil bos kepada orang lain itu banyak manfaatnya. Salahsatunya membuang ego pribadi dan belajar ‘melayani’ orang lain.

“Kata ‘bos’ identik dengan atasan atau pelanggan. Sedangkan atasan atau pelanggan harus dilayani dengan baik. Memanggil orang lain bos secara bawah sadar memaksa kita untuk belajar siap membantu orang lain, tanpa memandang status mereka,” ungkapnya.

Saya jadi teringat dalam teori manajemen ada konsep ‘servant leadership’ yang dimotori oleh Robert K.Greenleaf. Hipotesanya indah sekali: pemimpin yang baik itu pemimpin yang menjadi ‘pelayan’ orang yang dipimpinnya.

Pelayan dalam artian bukan mengerjakan semua pekerjaan, tapi selalu siap membantu dalam kapasitasnya sebagai seorang leader. Dan itu berarti mendengarkan aspirasi, memimpin dengan hati dan empati, memperjuangkan kebutuhan dan perkembangan tim yang diasuhi, memiliki visi, dan berusaha mewariskan ‘legacy’.

Bukankah begitu, Boska?

Editor: K. Azis

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *