Oleh: Darmin Eppe’, pelaku UMKM, tinggal di Galesong
PELAKITA.ID – Galesong merupakan salah satu kawasan pesisir di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, yang menghadap langsung ke Selat Makassar. Kehidupan masyarakatnya sejak lama bertaut dengan laut, mulai dari aktivitas penangkapan ikan hingga tradisi bahari yang diwariskan lintas generasi.
Di antara tradisi tersebut, patorani menjadi salah satu identitas masyarakat Galesong yang lekat dengan keberanian melaut dan pengetahuan tentang sumber daya laut.
Patorani adalah sebutan bagi nelayan yang melakukan perjalanan ke laut lepas untuk mencari telur ikan terbang. Mereka dapat berbulan-bulan berada di laut, menghadapi perubahan cuaca dan gelombang demi memperoleh hasil tangkapan.
Dalam perjalanan itu, mereka tidak hanya mencari telur ikan terbang, tetapi juga menangkap ikan lain, termasuk ikan mahi-mahi yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama kadapangang.
Kadapangang memiliki cerita tersendiri dalam kehidupan masyarakat pesisir Galesong. Ikan ini tidak sekadar menjadi hasil tangkapan yang dibawa pulang, tetapi juga hadir dalam kebiasaan pengolahan dan tradisi berbagi.
Ketika masih berada di laut, sebagian hasil tangkapan kadapangang dikeringkan sehingga lebih mudah dibawa pulang dan dimanfaatkan setelah perjalanan panjang berakhir.
Ada kehangatan dalam kebiasaan membawa pulang kadapangang untuk dibagikan kepada keluarga dan kerabat. Hasil melaut tidak selalu dimaknai sebagai urusan ekonomi semata, tetapi juga menjadi bagian dari hubungan sosial yang terus dipelihara.
Dari laut yang luas, nelayan membawa pulang sesuatu yang kemudian menghubungkan mereka kembali dengan rumah, keluarga, dan lingkungan kampung.
Di dapur masyarakat Galesong, kadapangang memiliki cara penyajian yang sederhana, tetapi menggugah selera. Ikan ini dapat digoreng hingga matang, lalu disantap bersama racak mangga, olahan mangga bercita rasa segar yang menghadirkan perpaduan rasa gurih dan asam.
Kombinasi tersebut menjadikan kadapangang bukan hanya lauk untuk mengenyangkan perut, melainkan juga sajian yang mengingatkan orang pada cita rasa khas pesisir.
Kadapangang juga bisa diolah dengan cara ditumis bersama bumbu bercita rasa asam dan lombok biji, sebutan lokal untuk cabai yang memberikan sensasi pedas.
Ketika disajikan bersama nasi putih hangat, hidangan ini menghadirkan kesederhanaan kuliner rumah tangga masyarakat pesisir. Sayuran dapat melengkapi sajian apabila tersedia, tetapi kekuatan rasanya tetap bertumpu pada ikan dan racikan bumbu yang akrab dengan lidah masyarakat setempat.

Keistimewaan kadapangang terletak pada hubungan antara hasil laut, pengetahuan lokal, dan kebiasaan makan masyarakat. Cara mengolah ikan, pilihan bumbu, hingga pendamping seperti racak mangga menunjukkan bahwa kekayaan kuliner pesisir tidak selalu membutuhkan bahan yang rumit.
Bahan utama yang berasal dari laut, dipadukan dengan hasil kebun dan keterampilan memasak yang diwariskan, sudah cukup membentuk identitas rasa yang khas.
Di balik cita rasanya, kadapangang juga menyimpan peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan kuliner dan perdagangan hasil perikanan Galesong.
Pengolahan ikan kering, misalnya, dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan hasil tangkapan yang memudahkan penyimpanan dan distribusi. Jika dikelola dengan baik, produk ini berpotensi diperkenalkan lebih luas sebagai pangan khas pesisir, dengan tetap memperhatikan mutu, kebersihan, dan keberlanjutan sumber daya ikan.
Pengenalan kadapangang sebagai kuliner lokal juga dapat memperkuat daya tarik Galesong bagi orang yang ingin mengenal kehidupan masyarakat pesisir melalui makanan.
Cerita tentang patorani, perjalanan panjang di laut, pengolahan ikan, dan kebiasaan berbagi memberikan nilai tambah yang tidak ditemukan hanya dengan melihat ikan sebagai komoditas dagang. Di sinilah kuliner menjadi pintu masuk untuk memahami budaya maritim dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Pesisir Galesong bukan hanya menyimpan cerita tentang keberanian para pelaut dan hasil tangkapan dari Selat Makassar, tetapi juga tentang rasa yang tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan laut.
Kadapangang menjadi salah satu penanda hubungan itu: hadir dari perjalanan patorani, diolah dengan cara yang akrab, disajikan di meja makan, dan dibagikan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Aroma kadapangang, dengan demikian, adalah aroma laut sekaligus aroma rumah bagi masyarakat Galesong.









