Kita sedang menghadapi tekanan ganda. Aktivitas manusia memperlemah daya tahan ekosistem, sementara perubahan iklim mempercepat kerusakannya.
PELAKITA.ID – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus rumah bagi salah satu kekayaan hayati laut paling penting di planet ini. Di balik keindahan bawah laut Nusantara, terdapat ancaman terhadap terumbu karang semakin nyata akibat perubahan iklim dan tekanan aktivitas manusia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian utama Prof. Ir. La Ode Muhammad Yasir Haya, S.T., M.Si., Ph.D. dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhan sebagai Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO), Rabu, 29 Juli 2026.
Mengangkat tema pengelolaan ekosistem pesisir berbasis eksplorasi dan pemodelan ilmiah, Prof. Yasir menegaskan bahwa masa depan laut Indonesia sangat bergantung pada kemampuan bangsa ini memahami perubahan yang sedang berlangsung dan meresponsnya melalui ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, serta kebijakan yang berbasis data.
“Terumbu karang bukan sekadar bentang alam bawah laut yang indah. Ia merupakan fondasi kehidupan bagi jutaan masyarakat pesisir sekaligus penyangga keberlanjutan sumber daya kelautan Indonesia,” tegasnya.
Indonesia, Jantung Terumbu Karang Dunia
Dalam paparannya, Prof. Yasir mengawali dengan menggambarkan posisi strategis Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Berada di kawasan Coral Triangle, Indonesia memiliki sekitar 18 persen dari total terumbu karang dunia, dengan luas mencapai sekitar 50.875 kilometer persegi.
Keberadaan terumbu karang, menurutnya, memiliki fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial yang tidak tergantikan.
Ekosistem tersebut menjadi habitat bagi ribuan spesies ikan dan biota laut, melindungi garis pantai dari abrasi, menopang industri perikanan dan pariwisata bahari, sekaligus menjadi indikator utama kesehatan lingkungan laut.
Karena itu, kerusakan terumbu karang bukan hanya berarti hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga mengancam ketahanan pangan, ekonomi masyarakat pesisir, dan keberlanjutan pembangunan kelautan Indonesia.
Ancaman Datang dari Dua Arah
Di balik potensi besar tersebut, Prof. Yasir mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan. Secara global, lebih dari 75 persen terumbu karang berada dalam kondisi terancam. Namun situasi Indonesia bahkan lebih serius.
Lebih dari 85 persen terumbu karang Indonesia kini menghadapi ancaman pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Sementara itu, sekitar 70,21 persen kawasan terumbu karang nasional berada dalam kondisi sedang hingga buruk.
Menurutnya, kerusakan tersebut dipicu oleh dua tekanan besar yang terjadi secara bersamaan.
Pertama adalah tekanan antropogenik berupa penangkapan ikan yang destruktif, pencemaran, sedimentasi, reklamasi, hingga pembangunan kawasan pesisir yang tidak terkendali.
Tekanan kedua berasal dari perubahan iklim global yang meningkatkan suhu permukaan laut, memicu pengasaman laut, serta memperbesar frekuensi kejadian pemutihan karang (coral bleaching).
“Kita sedang menghadapi tekanan ganda. Aktivitas manusia memperlemah daya tahan ekosistem, sementara perubahan iklim mempercepat kerusakannya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya kerusakan yang terus berlangsung, tetapi juga masih terbatasnya data ilmiah yang mutakhir sebagai dasar penyusunan kebijakan konservasi.

Sains Menjadi Fondasi Pengelolaan Laut
Sebagai ilmuwan di bidang eksplorasi dan pemodelan ekosistem pesisir-lautan, Prof. Yasir menawarkan pendekatan berbasis sains sebagai fondasi utama pengelolaan sumber daya kelautan.
Menurutnya, konservasi tidak lagi cukup dilakukan hanya melalui perlindungan kawasan, tetapi harus didukung oleh pemantauan lingkungan yang komprehensif, pemodelan spasial, teknologi penginderaan jauh, serta analisis multidisiplin.
Dalam risetnya, berbagai parameter lingkungan dipantau secara berkelanjutan, mulai dari suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature), tingkat keasaman (pH), hingga kandungan nutrien seperti nitrat dan fosfat.
Peningkatan suhu laut yang telah melampaui 30 derajat Celsius, menurutnya, menjadi pemicu utama stres termal yang menyebabkan pemutihan karang. Di sisi lain, peningkatan kandungan nutrisi akibat pencemaran memicu eutrofikasi yang memperbesar risiko munculnya berbagai penyakit pada karang.
“Perubahan kecil pada parameter lingkungan dapat berdampak besar terhadap kesehatan ekosistem terumbu karang,” katanya.
Empat Pilar Penelitian Terumbu Karang
Dalam orasinya, Prof. Yasir menjelaskan bahwa pendekatan penelitiannya dibangun melalui empat tahapan utama yang saling berkaitan.
Tahap pertama adalah pemetaan ekosistem menggunakan citra satelit dan teknologi penginderaan jauh untuk memonitor perubahan tutupan karang secara berkala. Pendekatan ini telah diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan serta Kabupaten Muna Barat.
Tahap kedua adalah valuasi ekonomi, yakni menghitung nilai manfaat sekaligus kerugian ekonomi akibat kerusakan terumbu karang. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem dapat menyebabkan kehilangan manfaat ekonomi hingga jutaan dolar Amerika Serikat.
Tahap ketiga berupa analisis status keberlanjutan, menggunakan metode Rapid Appraisal for Fisheries (Rapfish) dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Melalui pendekatan ini, aspek ekologi, sosial, ekonomi, kelembagaan, dan hukum dianalisis secara terpadu sehingga menghasilkan gambaran utuh mengenai tingkat keberlanjutan pengelolaan kawasan pesisir.
Tahap terakhir adalah penyusunan strategi pengelolaan adaptif, yang menempatkan sosialisasi kepada masyarakat, penegakan hukum lingkungan, rehabilitasi terumbu karang, serta penguatan tata kelola sebagai prioritas utama.
Menurut Prof. Yasir, keempat tahapan tersebut merupakan satu kesatuan yang harus berjalan secara simultan agar kebijakan konservasi benar-benar efektif.
Menuju Terumbu Karang Adaptif Perubahan Iklim
Sebagai penutup orasinya, Prof. Yasir memperkenalkan peta jalan penelitian (research roadmap) yang akan menjadi arah pengembangan risetnya hingga tahun 2030.
Pada periode 2024–2025, penelitian difokuskan pada identifikasi penyakit karang melalui pendekatan biologi molekuler dan analisis DNA.
Tahap berikutnya, pada 2025–2026, diarahkan pada pengembangan teknologi rekayasa karang yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Memasuki 2026–2027, penelitian akan diperluas pada kajian karbon biru (blue carbon) di ekosistem terumbu karang sebagai bagian dari kontribusi sektor kelautan terhadap mitigasi perubahan iklim.
Sementara pada periode 2028–2030, fokus utama adalah membangun basis data Karang Adaptif terhadap Perubahan Iklim di kawasan Coral Triangle sebagai referensi ilmiah bagi pengambilan kebijakan nasional maupun regional.
Menurutnya, roadmap tersebut bukan sekadar agenda akademik, tetapi merupakan upaya membangun sistem pengelolaan pesisir yang adaptif, berbasis bukti ilmiah, serta mampu menjawab tantangan perubahan iklim di masa depan.
Investasi untuk Masa Depan Laut Indonesia
Di penghujung orasinya, Prof. Yasir mengingatkan bahwa konservasi terumbu karang tidak boleh dipandang sebagai beban pembangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bangsa.
Keberhasilan menjaga terumbu karang akan menentukan produktivitas perikanan nasional, ketahanan pangan masyarakat pesisir, perlindungan kawasan pantai, hingga keberlangsungan ekonomi biru Indonesia.
Melalui penguatan riset, inovasi teknologi, kolaborasi multipihak, dan kebijakan yang berbasis data ilmiah, ia optimistis Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
“Ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi setiap kebijakan pengelolaan laut. Dengan memahami dinamika ekosistem secara ilmiah, kita tidak hanya menyelamatkan terumbu karang, tetapi juga menjaga masa depan jutaan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada laut,” tutup Prof. La Ode Muhammad Yasir Haya.
___
Editor Kamaruddin Azis









