Makassar Tuan Rumah PAIR Annual Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Indonesia–Australia untuk Riset dan Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Pelakita.ID

PELAKITA.ID – MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) akan menjadi tuan rumah PAIR (Partnership for Australia-Indonesia Research) Annual Meeting 2026 yang berlangsung pada 20–23 Juli 2026 di UNHAS Hotel & Convention, Makassar.

Pertemuan tahunan ini mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, pemerintah daerah, mitra pembangunan, serta perwakilan Australia dan Indonesia untuk memperkuat kolaborasi riset yang berdampak pada kebijakan publik, khususnya di kawasan Sulawesi.

Kegiatan diawali pada 20 Juli 2026 dengan agenda kedatangan peserta serta AIC Partner University Leaders Forum, sebuah forum tertutup yang mempertemukan pimpinan perguruan tinggi mitra Australia-Indonesia Centre (AIC).

Forum ini diselenggarakan di Ruang Rapat A, Lantai 4 Rektorat Universitas Hasanuddin dan juga dapat diikuti secara daring melalui Zoom.

Puncak kegiatan berlangsung pada 21 Juli 2026 melalui Opening Ceremony, Showcase, dan High-Level Plenary di Ballroom Hotel Unhas.

Acara dibuka dengan penampilan Paduan Suara Universitas Hasanuddin dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Jamaluddin Jompa dan Executive Director Australia-Indonesia Centre (AIC), Boyd Whalan.

Sejumlah pejabat tinggi dari Indonesia dan Australia turut memberikan sambutan kehormatan, di antaranya Paula Gerhardt, Counsellor of Knowledge, Innovation and Humanitarian pada Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia; Dr. Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi; Dr. Ayom Widipaminto dari LPDP; Gubernur Gorontalo Dr. Ir. H. Gusnar Ismail yang memaparkan visi transisi energi bersih di Gorontalo; serta Todd Dias, Konsul Jenderal Australia di Makassar.

Agenda pembukaan juga diisi pengumuman penerima hibah riset putaran kedua DFAT–MoHEST serta pidato kunci Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sesi pleno menghadirkan tiga diskusi utama yang mencerminkan fokus kerja sama PAIR.

Talkshow pertama mengangkat tema Industri Rumput Laut Berkelanjutan, dipandu Prodita Sabarini (The Conversation Indonesia), dengan narasumber Dr. Shinta Werorilangi (Universitas Hasanuddin), Prof. Daniel Prajogo (Monash University), Aditya Herry Emawan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr. Muhammad Ilyas (Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan), Safaruddin Sanusi DM (Kepala DKP Sulawesi Barat), serta Arman Arfah dari KOSPERMINDO/ASPPERLI.

Talkshow kedua membahas Transisi Energi Bersih, dipandu Monica Agnes Sylvia (Australia-Indonesia Centre), dengan panelis Prof. Sherah Kurnia (University of Melbourne), Prof. Ir. Nizam (Universitas Gadjah Mada), Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Dr. Elvira Katuuk (Kepala Bappeda Sulawesi Utara), Felia Salim (GEAPP), serta Prof. Yos Sunitiyoso dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.

Sementara itu, Talkshow ketiga mengangkat tema Perubahan Iklim dan Kesehatan, dipandu Chitra Retna, dengan menghadirkan Dr. Ariane Utomo (University of Melbourne), Prof. Yani Taufik (Universitas Halu Oleo), Dr. Ansariadi (Universitas Hasanuddin), Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, serta Dr. Dante Rigmalia, Ketua Komite Nasional Disabilitas.

Memasuki 22 Juli 2026, peserta mengikuti rangkaian Policy Forums: Science to Policy Pathway, yang menjadi inti pembahasan hasil riset tahun pertama sekaligus penyusunan agenda riset tahun kedua.

Tiga forum berlangsung secara paralel dengan fokus berbeda, yaitu Circular Economy Solutions in the Seaweed Sector, Net Zero Energy Transition on Healthcare Facilities, dan Climate Change and Health.

Ketiga forum bertujuan menyempurnakan draft policy brief melalui masukan dari mitra dampak (impact partners), memastikan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, relevan dengan kebutuhan daerah, sekaligus menyusun prioritas riset tahun kedua.

Forum pertama mengenai ekonomi sirkular sektor rumput laut membahas lima topik utama, mulai dari pengelolaan bibit rumput laut unggul, pemanfaatan Ulva reticulata untuk bioekonomi biru, pengurangan polusi plastik dalam budidaya rumput laut, penguatan kebijakan ekonomi sirkular, hingga integrasi data geospasial, sosial ekonomi, produksi, dan lingkungan untuk tata kelola budidaya rumput laut yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Forum ini dibuka oleh Paula Gerhardt (DFAT) dan Prof. Ketut Adnyana dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.

Forum kedua mengenai transisi menuju fasilitas kesehatan net zero mengangkat berbagai isu strategis, seperti pembangunan puskesmas pesisir rendah karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim, integrasi layanan kesehatan primer dalam strategi transisi hijau daerah, model pembiayaan fasilitas kesehatan net zero, transformasi pengelolaan sampah nonmedis di puskesmas, serta pelibatan masyarakat dalam mendukung layanan kesehatan rendah emisi di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Sesi dibuka oleh Isaac Bennett, Konsul Australia di Makassar, bersama Prof. Yos Sunitiyoso.

Sementara itu, forum ketiga mengenai Perubahan Iklim dan Kesehatan membahas penguatan sistem kesehatan yang tangguh terhadap iklim, perlindungan sosial adaptif berbasis Program Kampung Iklim (ProKlim), penguatan tata kelola kebijakan kesehatan untuk penanganan demam berdarah dan diare, serta peningkatan kapasitas respons kesehatan terhadap perubahan iklim dengan fokus pada kesehatan seksual dan reproduksi di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Forum dipandu Chitra Retna dan Jane Aquarisa, dengan sambutan dari Purwana (LPDP) dan Isaac Bennett.

Rangkaian PAIR Annual Meeting 2026 ditutup pada 23 Juli 2026 melalui Closing Ceremony di Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin.

Penutupan akan diisi sambutan Rektor Universitas Hasanuddin, Executive Director AIC, pidato kunci Gubernur Sulawesi Selatan, diskusi panel bertajuk “Reflections on Climate Change: Indonesia & Australia Working Together”, serta sambutan penutup oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia dan acara perpisahan bagi Konsul Jenderal Australia di Makassar.

Setelah itu, peserta mengikuti kegiatan team building dan kunjungan budaya ke Benteng Rotterdam dan Museum La Galigo sebagai bagian dari penguatan jejaring kolaborasi antarpeneliti dan mitra pembangunan.

PAIR Annual Meeting 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama riset antara Indonesia dan Australia.

Melalui pendekatan science to policy, forum ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih aplikatif, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta memastikan hasil penelitian memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi.