PELAKITA.ID – Musibah tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, menjadi salah satu kecelakaan pelayaran paling menyita perhatian di Sulawesi Selatan pada Juli 2026.
Kapal yang melayani rute Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar, itu tenggelam setelah mengalami gangguan mesin di tengah kondisi cuaca yang memburuk.
Hingga hari kelima operasi pencarian, tim SAR gabungan masih berupaya menemukan penumpang yang belum diketahui keberadaannya.
Berikut sejumlah fakta penting mengenai insiden tersebut.

Berangkat dari Pulau Jampea
KM Nurul Salsa bertolak dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu, 15 Juli 2026, sekitar pukul 05.00 WITA.
Kapal tersebut menjadi salah satu moda transportasi utama masyarakat kepulauan yang menghubungkan wilayah selatan Kepulauan Selayar dengan ibu kota kabupaten.
Selain mengangkut penumpang, kapal juga membawa barang kebutuhan masyarakat, termasuk kendaraan bermotor, kopra, dan ternak.
Mengalami Mati Mesin di Tengah Laut
Menurut Basarnas Makassar, kapal mengalami gangguan mesin saat berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi, sekitar 43 mil laut dari Pelabuhan Benteng.
Dalam kondisi angin kencang dan gelombang yang dilaporkan mencapai sekitar 2–2,5 meter, kapal akhirnya tidak mampu bertahan dan tenggelam. Cuaca buruk menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses evakuasi maupun pencarian korban.
Jumlah Penumpang Terus Berubah
Salah satu persoalan yang muncul sejak awal adalah perbedaan data jumlah penumpang. Laporan awal menyebut kapal membawa sekitar 50 orang. Setelah proses verifikasi bersama keluarga korban, aparat desa, operator kapal, dan instansi terkait, jumlah tersebut meningkat menjadi 74 orang, kemudian diperbarui kembali menjadi 78 orang. Perubahan ini menunjukkan pentingnya validitas manifes penumpang dalam setiap pelayaran antarpulau. (Laporan Antara)
Lima Penumpang Bertahan Hidup Empat Hari di Laut
Salah satu kisah paling dramatis dalam tragedi ini adalah ditemukannya lima penumpang dalam keadaan selamat setelah bertahan selama sekitar empat hari di laut.
Mereka berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada rompong atau rumah ikan milik nelayan hingga akhirnya ditemukan kapal yang melintas di sekitar Pulau Mattalang. Penemuan tersebut memberi harapan baru di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung.
5. Operasi SAR Melibatkan Banyak Unsur
Pencarian korban melibatkan Basarnas Makassar, TNI AL, Polairud, BPBD, pemerintah daerah, nelayan setempat, hingga unsur udara dan kapal-kapal SAR.
Area pencarian diperluas mengikuti prediksi hanyut korban berdasarkan arus, angin, dan gelombang laut. Koordinasi lintas lembaga menjadi faktor penting mengingat lokasi kejadian berada di perairan terbuka yang memiliki dinamika arus cukup kompleks.
6. Polisi Mulai Menyelidiki Penyebab Kecelakaan
Di samping operasi kemanusiaan, Kepolisian juga membuka penyelidikan terhadap penyebab tenggelamnya kapal. Nahkoda bersama sembilan anak buah kapal (ABK) telah dimintai keterangan.
Penyidik melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kapal, prosedur pelayaran, serta mencocokkan data manifes dengan identitas korban untuk memastikan seluruh fakta peristiwa dapat diungkap secara objektif.
7. Pengingat Pentingnya Keselamatan Pelayaran Kepulauan
Tragedi KM Nurul Salsa kembali mengingatkan bahwa transportasi laut merupakan urat nadi kehidupan masyarakat kepulauan Indonesia, termasuk di Selayar.
Karena itu, aspek keselamatan tidak boleh dipandang sebagai formalitas administratif semata. Kelaikan kapal, akurasi manifes penumpang, kesiapan alat keselamatan, informasi cuaca, serta kepatuhan terhadap prosedur pelayaran harus menjadi prioritas utama agar kecelakaan serupa tidak terus berulang.
Wilayah sekitar Pulau Jampea dan Kepulauan Selayar merupakan jalur pelayaran yang setiap hari menghubungkan pulau-pulau kecil dengan pusat pemerintahan dan ekonomi.
Mobilitas masyarakat yang tinggi membuat peningkatan standar keselamatan pelayaran menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya bagi operator kapal, tetapi juga bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam sistem transportasi laut nasional.
Redaksi









