Dari Hobi Menjadi Peluang, Arsal Kembangkan Peternakan Ayam Alope di Tompobulu Maros

  • Whatsapp
Sebelumnya, Arsal menerima bantuan 1.000 day old chick (DOC) sekitar enam bulan lalu. Pemerintah Kabupaten Maros juga membangun kandang berukuran 5 x 35 meter sebagai fasilitas utama budidaya.

Usaha yang baru berjalan sekitar tujuh bulan ini mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Maros melalui alokasi APBD, disertai pendampingan teknis dan manajemen dari Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas).

PELAKITA.ID – Berawal dari keinginan mengembangkan ayam lokal unggulan, Arsal kini sukses merintis peternakan ayam Alope di Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.

Usaha yang baru berjalan sekitar tujuh bulan ini mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Maros melalui alokasi APBD, disertai pendampingan teknis dan manajemen dari Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Peternakan yang berjarak sekitar 20 kilometer di sebelah timur Kota Maros tersebut kini telah memiliki sekitar 500 ekor indukan.

Sebelumnya, Arsal menerima bantuan 1.000 day old chick (DOC) sekitar enam bulan lalu. Pemerintah Kabupaten Maros juga membangun kandang berukuran 5 x 35 meter sebagai fasilitas utama budidaya.

Alope di Kandang Pak Arsal (dok: Istimewa)

Ke depan, kapasitas usaha akan diperluas dengan pembangunan kandang tambahan berukuran 5 x 30 meter.

Menurut Arsal, ayam Alope dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan dibanding ayam kampung biasa. Selain ukuran tubuh yang lebih besar, ayam ini memiliki ciri fisik yang khas sehingga mudah dikenali.

“Dia ayam kampung betulan,” ujar Arsal saat ditemui Pelakita di Hotel Unhas and Convention, Jumat, 16 Juli 2026.

Ia menjelaskan, bobot indukan dewasa dapat mencapai sekitar tiga kilogram. Dalam mengembangkan usaha tersebut,

Arsal memperoleh pendampingan dari dosen Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Ichsan dan Prof. Syahdar Baba, terutama terkait teknik budidaya dan pengelolaan ternak.

Sumber: Prof. Syahdar Baba (Dekan Peternakan Unhas)

Sistem pemeliharaan dilakukan secara terkontrol. Setiap kandang diisi sekitar 40 ekor ayam dengan komposisi satu pejantan untuk lima betina.

Secara berkala, ayam juga dilepas pada area penggembalaan yang telah dikendalikan agar tetap memperoleh ruang gerak yang baik.

Produktivitas ternak pun cukup menjanjikan. Dari sekitar 200 butir telur yang dihasilkan, sebanyak 60 butir dapat dimasukkan ke dalam mesin penetas setiap lima hingga enam hari.

Arsal mengatakan cita rasa telur ayam Alope tetap menyerupai telur ayam kampung pada umumnya.

Selain mengembangkan ayam Alope, Arsal juga mengelola usaha budidaya ikan lele dengan sistem bioflok. Saat ini terdapat sekitar 45 ribu ekor lele yang dipelihara sebagai bagian dari diversifikasi usaha peternakannya.

Dalam operasional sehari-hari, pengelolaan kandang ayam kini dipercayakan kepada putranya, Muhammad Rizki Wahyu, alumni Program Peternakan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Untuk menghasilkan ayam siap jual, dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan sejak DOC. Masa awal DOC berlangsung sekitar tiga minggu, kemudian dilanjutkan masa pembesaran selama kurang lebih dua bulan hingga bobot ayam mencapai sekitar satu kilogram.

DOC dari generasi keenam Alope di Tompobulu milik Pak Arsal

Harga jual ayam Alope saat ini berkisar Rp50 ribu per ekor, meski dalam kondisi tertentu Arsal juga menjualnya dengan harga Rp40 ribu per ekor.

“Selama dua bulan itu bisa mencapai satu kilogram bobotnya,” jelas Arsal.

Ia menambahkan, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) ayam Alope tergolong sangat baik, mulai dari fase DOC hingga memasuki masa pembesaran.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat budidaya ayam lokal unggulan ini memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan bagi peternak di Kabupaten Maros.

Penulis Denun