PELAKITA.ID – Di tengah tingginya permintaan masyarakat terhadap ayam kampung, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan sebuah inovasi yang menjanjikan.
Melalui riset pemuliaan yang berlangsung selama bertahun-tahun, lahirlah Ayam ALOPE UNHAS-1, galur ayam kampung unggul yang dirancang memiliki pertumbuhan lebih cepat, ukuran tubuh lebih besar, namun tetap mempertahankan cita rasa khas ayam kampung yang menjadi favorit masyarakat.
Ayam ALOPE UNHAS-1 bukanlah ayam broiler atau hasil persilangan komersial. Sebaliknya, ayam ini merupakan galur ayam kampung asli yang dikembangkan melalui program seleksi genetik secara berkelanjutan hingga enam generasi.
Program penelitian tersebut dipimpin oleh tim peneliti Fakultas Peternakan Unhas dengan dukungan pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sebelum akhirnya resmi diluncurkan pada September 2025 sebagai salah satu inovasi unggulan hasil riset perguruan tinggi.
Menjawab Tantangan Produktivitas Ayam Kampung
Selama ini ayam kampung dikenal memiliki rasa daging yang lebih gurih, tekstur yang lebih padat, serta nilai jual lebih tinggi dibanding ayam ras. Namun, produktivitasnya relatif rendah karena pertumbuhannya lambat dan bobot panennya terbatas.
Melalui Ayam ALOPE UNHAS-1, para peneliti Unhas berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menghasilkan ayam yang tetap memiliki karakteristik ayam kampung, tetapi mampu tumbuh lebih cepat dan menghasilkan bobot tubuh yang lebih besar. Tujuannya adalah meningkatkan pendapatan peternak tanpa menghilangkan cita rasa yang menjadi keunggulan ayam lokal.
Bobot Lebih Besar, Tetap Berkarakter Ayam Kampung
Salah satu keunggulan utama Ayam ALOPE UNHAS-1 adalah ukuran tubuhnya. Dalam pemeliharaan yang baik, indukan dapat mencapai bobot sekitar tiga kilogram, jauh lebih besar dibanding rata-rata ayam kampung biasa.
Selain ukuran tubuh, ayam ini juga memiliki penampilan khas sehingga mudah dikenali sebagai ayam kampung. Dagingnya tetap memiliki tekstur padat dan rasa yang identik dengan ayam kampung tradisional, sehingga tetap diminati pasar.
Karakter inilah yang membuat Ayam ALOPE UNHAS-1 dipandang sebagai alternatif menarik bagi peternak rakyat yang ingin meningkatkan produktivitas tanpa harus beralih ke ayam broiler.
Didukung Riset Genetika Modern
Pengembangan Ayam ALOPE UNHAS-1 tidak hanya mengandalkan seleksi ukuran tubuh. Tim peneliti juga melakukan berbagai penelitian mengenai genetika, nutrisi, reproduksi, hingga teknologi penetasan.
Beberapa penelitian bahkan mengkaji pemanfaatan L-Arginine pada fase embrio untuk meningkatkan pertumbuhan ayam setelah menetas. Pendekatan ilmiah tersebut menjadi dasar dalam menghasilkan galur ayam yang lebih stabil, sehat, dan produktif.
Selain itu, penelitian juga terus dilakukan terhadap formulasi pakan, efisiensi reproduksi, serta manajemen pemeliharaan agar ayam dapat dikembangkan secara luas oleh peternak rakyat.
Dari Laboratorium Menuju Peternakan Rakyat
Setelah resmi diperkenalkan, fokus pengembangan Ayam ALOPE UNHAS-1 bergeser dari laboratorium menuju masyarakat. Fakultas Peternakan Unhas mulai membangun jejaring bersama pemerintah daerah dan kelompok peternak untuk memperbanyak indukan serta memproduksi DOC (day old chick).
Salah satu daerah yang menjadi lokasi pengembangan adalah Desa Tompobulu, Kabupaten Maros. Pemerintah Kabupaten Maros bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Unhas membangun kawasan percontohan budidaya Ayam ALOPE sebagai pusat pembibitan dan pengembangan ayam kampung unggul.
Kisah Arsal, Peternak yang Mengembangkan Ayam ALOPE
Di Desa Tompobulu, Arsal menjadi salah satu peternak yang dipercaya mengembangkan Ayam ALOPE UNHAS-1.
Usaha yang baru dirintis sekitar tujuh bulan lalu memperoleh dukungan Pemerintah Kabupaten Maros melalui APBD berupa pembangunan kandang berukuran 5 x 35 meter, serta pendampingan teknis dari Fakultas Peternakan Unhas.
Berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Maros, peternakan tersebut kini memiliki sekitar 500 ekor indukan, setelah sebelumnya menerima 1.000 DOC sebagai populasi awal.
Menurut Arsal, Ayam ALOPE memiliki sejumlah keunggulan dibanding ayam kampung biasa.
“Dia ayam kampung betulan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ayam ini memiliki ukuran lebih besar, warna tubuh yang khas, serta mudah dikenali sebagai ayam lokal.
Bobot indukan bahkan dapat mencapai sekitar tiga kilogram.
Dalam mengelola peternakannya, Arsal mendapat pendampingan langsung dari dosen Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Ichsan dan Prof. Syahdar Baba, terutama mengenai teknik budidaya dan manajemen pemeliharaan.

Produktivitas Menjanjikan
Pemeliharaan dilakukan secara semi-intensif dengan populasi sekitar 40 ekor per kandang. Komposisi pejantan dan betina diatur sekitar 1:5, sementara ayam secara berkala dilepas pada area penggembalaan yang telah dikontrol.
Produktivitasnya juga cukup tinggi. Dari sekitar 200 butir telur yang dihasilkan, sekitar 60 butir dapat dimasukkan ke mesin penetas setiap lima hingga enam hari. Menurut Arsal, rasa telur Ayam ALOPE tetap sama seperti telur ayam kampung pada umumnya.

Untuk menghasilkan ayam siap jual dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan, dimulai dari fase DOC selama tiga minggu, kemudian masa pembesaran sekitar dua bulan hingga bobot ayam mencapai satu kilogram.
Harga jualnya berkisar antara Rp40.000 hingga Rp50.000 per ekor, dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang sangat baik sejak fase DOC hingga pembesaran.
Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Pengembangan Ayam ALOPE UNHAS-1 mendapat perhatian pemerintah karena dinilai mampu mendukung ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. Kementerian Pertanian bahkan mengalokasikan dukungan pengembangan indukan dalam skala lebih besar agar ayam ini dapat diproduksi secara luas oleh peternak rakyat.
Ke depan, Ayam ALOPE UNHAS-1 diharapkan tidak hanya menjadi hasil riset akademik, tetapi juga menjadi komoditas unggulan nasional yang mampu meningkatkan pendapatan peternak, memperkuat ekonomi desa, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat akan ayam kampung berkualitas.
Dengan memadukan inovasi genetika, pendampingan ilmiah, dan kolaborasi bersama pemerintah daerah, Ayam ALOPE UNHAS-1 menunjukkan bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat dihilirkan menjadi solusi nyata bagi pembangunan peternakan Indonesia.
___
Editor Denun









