PT Vale hadir untuk meningkatkan kualitas hidup dan membangun masa depan yang lebih baik melalui nilai-nilai keselamatan, akuntabilitas, ketangguhan, keunggulan, dan keberlanjutan.
PELAKITA.ID – PT Vale Indonesia menegaskan bahwa praktik pertambangan modern harus berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui reklamasi progresif, konservasi keanekaragaman hayati, serta pemulihan ekosistem yang dilakukan sejak tahap awal hingga pascatambang.
Hal itu disampaikan Senior Manager Environment and Reclamation PT Vale Indonesia, Muhammad Firdaus Muttaqi, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Penguatan Sinergi Multipihak dalam Konservasi Tanah dan Air untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan di Sulawesi Selatan yang diselenggarakan Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulawesi Selatan di Hotel Swiss-Belinn Panakkukang, Makassar, Sabtu (27/6/2026).
Firdaus menjelaskan, PT Vale telah beroperasi selama puluhan tahun dengan wilayah konsesi yang tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara dengan total luas sekitar 115 ribu hektare.
Sebagai perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel (mining and processing company), PT Vale tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian utama dari operasional perusahaan.
“PT Vale hadir untuk meningkatkan kualitas hidup dan membangun masa depan yang lebih baik melalui nilai-nilai keselamatan, akuntabilitas, ketangguhan, keunggulan, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Reklamasi Dilakukan Sejak Penambangan Berlangsung
Firdaus menegaskan bahwa reklamasi tidak menunggu aktivitas tambang selesai secara keseluruhan. Perusahaan menerapkan reklamasi progresif, yakni lahan yang telah selesai ditambang langsung dipulihkan.
Hingga saat ini, sekitar 50,23 persen dari lahan yang telah dibuka telah direklamasi. Bahkan jumlah pohon yang ditanam mencapai sekitar 2,5 kali lebih banyak dibanding luas lahan yang telah dibuka untuk kegiatan pertambangan.
Menurutnya, reklamasi bukan sekadar menanam pohon, tetapi merupakan proses ilmiah yang dimulai sejak tahap perencanaan.
Sebelum reklamasi dilakukan, tim terlebih dahulu menyusun desain bentang lahan, mempelajari topografi, pola aliran air, potensi erosi, hingga karakteristik hidrologi kawasan. Setelah itu dilakukan penataan lahan, pembangunan saluran pengendali erosi, pengembalian tanah pucuk (top soil), penanaman vegetasi, pemeliharaan, hingga monitoring jangka panjang.
“Kalau desainnya tidak benar, terutama pada tiga bulan pertama setelah penataan lahan, maka hujan dapat merusak seluruh pekerjaan reklamasi. Karena itu seluruh proses harus dirancang secara matang,” jelasnya.
Tanah Pucuk Disimpan untuk Memulihkan Lahan
Salah satu aspek penting dalam reklamasi adalah penyelamatan top soil atau tanah pucuk.
Firdaus menjelaskan bahwa sebelum penambangan dimulai, tanah lapisan atas dikupas, disimpan di lokasi khusus (top soil bank), kemudian digunakan kembali ketika proses reklamasi berlangsung.
Lapisan tanah tersebut mengandung unsur hara, mikroorganisme, serta benih alami yang sangat penting untuk mempercepat pemulihan ekosistem.
Selain mengembalikan tanah pucuk, PT Vale juga menanam tanaman penutup tanah dari kelompok leguminosa untuk mengembalikan kandungan nitrogen secara alami serta mengurangi erosi pada lahan bekas tambang.
Memproduksi Bibit Sendiri
Untuk mendukung reklamasi, PT Vale mengelola pusat pembibitan (nursery) seluas sekitar 15 hektare, dengan area utama pembibitan sekitar 2,5 hektare.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 800 ribu bibit per tahun.
Sekitar 60 persen bibit yang diproduksi merupakan spesies lokal yang berasal dari kawasan operasional perusahaan.
Selain digunakan sendiri, perusahaan juga secara rutin mendonasikan puluhan hingga ratusan ribu bibit setiap tahun kepada berbagai pihak sebagai bagian dari program rehabilitasi lingkungan.
Firdaus mengatakan PT Vale kini sedang mengembangkan kawasan pembibitan tersebut menjadi pusat edukasi dan kolaborasi agar masyarakat dapat melihat secara langsung proses konservasi dan produksi bibit tanaman lokal.
Konservasi Keanekaragaman Hayati
Tidak hanya memulihkan lahan, PT Vale juga melakukan konservasi flora dan fauna melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.
Sebelum penambangan dilakukan, perusahaan melaksanakan baseline study untuk memetakan kawasan konservasi, habitat satwa, serta kondisi ekosistem. Kajian tersebut dilakukan bersama berbagai institusi, termasuk Universitas Hasanuddin.
Perusahaan juga mengidentifikasi lebih dari 170 jenis pohon, dengan sekitar 74 jenis merupakan spesies lokal yang dikembangkan melalui konservasi in situ maupun ex situ.
Firdaus menyebut hingga kini PT Vale telah menanam lebih dari 5,1 juta tanaman, termasuk sekitar 1,8 juta pohon lokal dan endemik.
Beberapa spesies yang menjadi prioritas konservasi antara lain gaharu, kumia, dengen, mata kucing, anoa, rusa timor, hingga burung maleo.
Memantau Satwa dengan Teknologi
Pemantauan keanekaragaman hayati dilakukan secara rutin menggunakan berbagai metode.
PT Vale memasang kamera jebak (camera trap) di sejumlah kawasan reklamasi untuk memonitor kembalinya satwa liar ke habitat yang telah dipulihkan.
Selain itu, perusahaan mengembangkan sistem Biodiversity Encounter Dashboard, sebuah platform digital yang memungkinkan pekerja maupun masyarakat melaporkan temuan flora dan fauna melalui foto yang kemudian diverifikasi oleh para ahli.
Hasil pemantauan menunjukkan berbagai satwa seperti anoa, rusa, musang, monyet, hingga beragam jenis burung telah kembali memanfaatkan kawasan reklamasi sebagai habitat.
Perusahaan juga bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin dalam penelitian mikoriza yang berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah bekas tambang.
Kolaborasi Konservasi
Program konservasi PT Vale tidak hanya berfokus pada kawasan tambang, tetapi juga mencakup konservasi mangrove, terumbu karang, anggrek, tumbuhan endemik, hingga pengelolaan ekosistem Danau Matano, Danau Towuti, dan Danau Mahalona.
Perusahaan juga bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam program penangkaran anoa dan rusa timor, serta menggandeng perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat dalam berbagai kegiatan konservasi.
Firdaus menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan apabila dikelola secara bertanggung jawab.
Menutup paparannya, ia menyampaikan pesan yang menjadi filosofi perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan.
“Tidak ada masa depan tanpa pertambangan, dan tidak ada pertambangan tanpa masa depan.”
Menurutnya, masa depan pertambangan hanya dapat terwujud apabila pengelolaan sumber daya alam selalu disertai komitmen kuat terhadap konservasi, reklamasi, dan keberlanjutan lingkungan.









