Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui upaya mengakhiri segala bentuk malnutrisi, serta SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahteramelalui penguatan layanan kesehatan dasar bagi anak.
PELAKITA.ID – Maros, 27 Juni 2026 — Indonesian Center for Nutrition Studies (ICONS), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, dengan dukungan UNICEF, menyelenggarakan kegiatan Orientasi Tata Laksana Rawat Jalan Balita Gizi Buruk dengan Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) bagi Puskesmas Sasaran Lanjutan di Kabupaten Maros.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam pencegahan dan tata laksana wasting, khususnya balita gizi buruk usia 6–59 bulan melalui layanan rawat jalan di tingkat Puskesmas.
Kegiatan ini merupakan orientasi kedua yang dilaksanakan untuk menjangkau Puskesmas sasaran lanjutan di Kabupaten Maros.
Sebelumnya, orientasi tata laksana rawat jalan balita gizi buruk dengan RUTF telah diberikan kepada 6 Puskesmas yang telah menerima RUTF dan mulai menerapkan tata laksana tersebut di wilayah kerjanya masing-masing.
Melalui orientasi kedua ini, sebanyak 8 Puskesmas lanjutan dipersiapkan untuk melaksanakan layanan tata laksana balita gizi buruk rawat jalan dengan RUTF.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, seluruh Puskesmas di Kabupaten Maros telah mendapatkan orientasi tata laksana rawat jalan balita gizi buruk dengan RUTF.
Kegiatan orientasi ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya masalah wasting atau kekurangan gizi akut pada balita. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi wasting nasional mencapai 7,4 persen, sementara Provinsi Sulawesi Selatan mencatat angka 8,0 persen.
Kabupaten Maros sendiri menunjukkan prevalensi wasting sebesar 8,3 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi. Kondisi ini menegaskan pentingnya penguatan layanan kesehatan dasar, terutama dalam deteksi dini, tata laksana kasus, rujukan tepat waktu, serta pemantauan berkelanjutan bagi balita gizi buruk.
Melalui kegiatan ini, ICONS sebagai Centre of Excellence (CoE) Pencegahan dan Tata Laksana Wasting di Provinsi Sulawesi Selatan mendukung Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros dalam memperkuat kesiapan Puskesmas untuk mengimplementasikan layanan rawat jalan balita gizi buruk dengan RUTF sesuai pedoman Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) atau Integrated Management of Acute Malnutrition (IMAM).
Ketua ICONS, Prof. dr. Veni Hadju, M.Sc., PhD, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk memastikan setiap balita gizi buruk mendapatkan layanan yang cepat, tepat, dan sesuai standar.
“Penanganan balita gizi buruk tidak cukup hanya dengan ketersediaan intervensi, tetapi juga membutuhkan kesiapan tenaga kesehatan dalam melakukan tata laksana secara komprehensif.
Melalui orientasi ini, kami berharap Tim Asuhan Gizi Puskesmas memiliki pemahaman dan keterampilan yang lebih kuat dalam penggunaan RUTF, pendampingan keluarga, serta pemantauan kasus secara berkelanjutan,” ujar Prof. Veni.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan orientasi lanjutan ini menjadi bagian penting untuk memastikan pemerataan kapasitas layanan di seluruh Puskesmas Kabupaten Maros.
“Orientasi kedua ini menjadi momentum penting karena melengkapi penguatan kapasitas yang sebelumnya telah diberikan kepada 6 Puskesmas. Dengan hadirnya 8 Puskesmas sasaran lanjutan, seluruh Puskesmas di Kabupaten Maros telah memperoleh orientasi. Ini menjadi langkah strategis agar tata laksana balita gizi buruk rawat jalan dengan RUTF dapat berjalan lebih merata, terstandar, dan berkelanjutan,” tambahnya.
Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui upaya mengakhiri segala bentuk malnutrisi, serta SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahteramelalui penguatan layanan kesehatan dasar bagi anak.
“Upaya penanganan wasting pada balita merupakan bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan. Ketika kita memperkuat kapasitas Puskesmas dan memastikan balita gizi buruk memperoleh layanan yang tepat, kita sedang berkontribusi langsung pada pencapaian SDGs, terutama dalam mengurangi malnutrisi dan meningkatkan derajat kesehatan anak,” jelas Prof. Veni.
Kegiatan ini menyasar Tim Asuhan Gizi Puskesmas yang terdiri dari dokter, bidan atau perawat, nutrisionis, serta tenaga promosi kesehatan.
Peserta berasal dari 8 Puskesmas sasaran lanjutan di Kabupaten Maros, yaitu Puskesmas Bantimurung, Puskesmas Camba, Puskesmas Cenrana, Puskesmas Lau, Puskesmas Mallawa, Puskesmas Moncongloe, Puskesmas Simbang, dan Puskesmas Tompobulu, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros.
Orientasi dilaksanakan dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa melalui kombinasi presentasi materi, diskusi studi kasus, simulasi, praktik pencatatan dan pelaporan, serta praktik lapangan.
Materi kegiatan mencakup tata laksana rawat jalan balita gizi buruk dengan RUTF, penguatan Komunikasi Antarpribadi (KAP) dalam pendampingan keluarga balita penerima RUTF, pemanfaatan Pelita Kesmas untuk pencatatan dan pelaporan, serta penyusunan rencana tindak lanjut di tingkat Puskesmas.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Hasmawati, S.Kep, Ns., M.Kes, yang hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini.
Dikatakan, orientasi ini menjadi bagian dari persiapan penting bagi seluruh Puskesmas di Kabupaten Maros dalam menjalankan layanan tata laksana balita gizi buruk rawat jalan dengan RUTF.
“Kami menyambut baik kegiatan orientasi ini karena memberikan penguatan langsung kepada tenaga kesehatan di lini terdepan. Setelah sebelumnya 6 Puskesmas telah mendapatkan orientasi dan menerapkan tata laksana dengan RUTF, kegiatan ini melengkapi penguatan bagi 8 Puskesmas lainnya. Dengan demikian, seluruh Puskesmas di Kabupaten Maros telah mendapatkan orientasi, sehingga layanan bagi balita gizi buruk diharapkan menjadi lebih terarah, responsif, dan merata,” ungkap Hasmawati.
Lebih lanjut, Hasmawati menekankan bahwa Puskesmas memiliki peran strategis dalam menemukan kasus, mendampingi keluarga, memastikan kepatuhan konsumsi RUTF, serta melakukan pencatatan dan pelaporan secara tepat.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, Puskesmas, kader, keluarga, dan mitra pembangunan menjadi kunci dalam memperkuat layanan gizi di masyarakat.
“Kegiatan ini memiliki keterkaitan kuat dengan SDGs, khususnya dalam memastikan anak-anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal. Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi bagian dari SDG 17, yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Dengan kapasitas Puskesmas yang semakin kuat, penanganan gizi buruk di Kabupaten Maros diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Salah satu fokus penting dalam kegiatan ini adalah penguatan keterampilan komunikasi antarpribadi. Tenaga kesehatan tidak hanya dibekali aspek teknis tata laksana gizi buruk, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi yang empatik dan persuasif dengan keluarga balita.
Hal ini menjadi penting karena keberhasilan pemberian RUTF sangat dipengaruhi oleh pemahaman keluarga, kepatuhan konsumsi, serta dukungan kader dan tenaga kesehatan dalam proses pendampingan.
Selain itu, peserta juga dilatih untuk memperkuat sistem pencatatan dan pelaporan kasus gizi buruk melalui Pelita Kesmas. Pencatatan yang akurat, tepat waktu, dan terstandar diharapkan dapat mendukung pemantauan kasus, pengambilan keputusan, serta tindak lanjut layanan di wilayah kerja masing-masing Puskesmas.
Kegiatan ini juga mendukung prinsip no one left behind dalam SDGs, yaitu memastikan setiap anak, termasuk balita dengan kondisi gizi buruk, memperoleh akses terhadap layanan kesehatan dan gizi yang berkualitas.
Melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penguatan pencatatan dan pelaporan, serta pendampingan keluarga, layanan rawat jalan balita gizi buruk di Kabupaten Maros diharapkan dapat menjadi lebih responsif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, setiap Puskesmas diharapkan menyusun rencana aksi untuk mengintegrasikan hasil orientasi ke dalam layanan rutin.
Rencana tersebut mencakup diseminasi materi kepada kader Posyandu, pendampingan balita penerima RUTF, pemantauan kepatuhan konsumsi, kunjungan rumah, serta pelaksanaan supportive supervision oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas.
Melalui kegiatan ini, ICONS FKM Unhas bersama UNICEF dan pemerintah daerah berkomitmen mendukung penguatan sistem layanan gizi di tingkat Puskesmas.
Upaya ini diharapkan dapat berkontribusi pada percepatan penanganan balita gizi buruk, peningkatan kualitas layanan kesehatan dasar, serta pencapaian SDGs melalui perlindungan tumbuh kembang anak dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini, khususnya di Kabupaten Maros.









