Abdul Rasyid Idris | Dinamika Lampu Kota Makassar

  • Whatsapp
Abdul Rasyid Idris (dok: istimewa)

PELAKITA.ID – Sore hari di hari Jumat, aku sedang asyik-asyiknya memelototi beberapa buku baru di gerai Gramedia Mall Panakkukang. HP-ku bergetar, pertanda sebuah pesan mampir. Kusambar lalu kuintip isi pesan itu.

“Bapak, tolong jemput saya di kantor Kartini. Saya ada meeting sampai jam 7 malam.”

Pesan itu dari putri keduaku, yang baru memasuki bulan ketiga sebagai karyawan Bank Mandiri.

Secepatnya kubalas SMS-nya dengan singkat, “InsyaAllah,” tulisku.

Di Gramedia, aku bersua dengan seorang kawan ketika mahasiswa dulu. Walau berbeda almamater, kami cukup akrab dengannya sebab pertemuan kami cukup intens ketika itu.

Di samping kami berdua aktif di organisasi ekstra kampus, kami juga kerap bersua dalam diskusi berbagai wacana di kelompok-kelompok diskusi mahasiswa yang marak pada dekade pertengahan tahun delapan puluhan hingga awal sembilan puluhan.

Dalam pertemuan yang tak disengaja itu, kami berbincang cukup lama sembari mata kami memelototi buku-buku yang tertata apik. Sesekali kami mengambil dan mencermati endorsement-nya bila mendapati buku yang penulisnya kami minati.

Perbincangan kami juga sedikit bernostalgia ke beberapa toko buku yang dulu cukup populer di Kota Makassar. Maka tersebutlah Toko Arena Ilmu di bilangan Jalan Monginsidi dan Bina Ilmu di Jalan Bulu Kunyi.

Jarak keduanya tidak terlampau berjauhan. Kemudian ada Toko Buku Gunung Mulia di Jalan Balaikota, Toko Buku Mawar di Pasar Sentral dan Jalan Barrang Lompo, dan beberapa toko buku lainnya.

Beberapa toko buku di atas tidak lagi berjualan buku seperti sediakala. Bahkan ada yang sudah tutup sama sekali.

Nampaknya liberalisasi perbukuan juga berdampak dan menghardik toko buku di level lokal, setelah beberapa pemilik modal berskala nasional merambah daerah-daerah yang secara ekonomi mengalami “pertumbuhan” cukup signifikan seperti Kota Makassar ini.

Pada dekade delapan puluhan itu, walau aku termasuk baru dalam dunia baca-membaca karena secara otomatis terjangkiti “virus” kawan-kawan baru di sekelilingku, mau tak mau aku pun lebur di dalamnya.

Walau pada awalnya sedikit memaksakan diri pada tradisi ini, sebab bila tidak ikut, aku akan ditinggal di simpang jalan yang sepi sendiri pula, bak seorang dungu menanti kunang-kunang mengantarnya pulang.

Alhamdulillah, tradisi itu berbekas cukup menghunjam ke lubuk hatiku, walau tidak sekutu-buku beberapa kawan saya ketika itu.

Tak lama berselang, aku berpamitan dengan kawan yang bersua di Gramedia itu. Setelah membayar sebuah buku tipis, The Love Story of Bung Karno: Jalan Cinta Sang Presiden, aku bergegas menuju ke bilangan Jalan Kartini dengan tujuan menjemput putriku sesuai pesannya di SMS tadi.

Dalam perjalanan, walau sedikit macet jalur yang kulalui, aku bisa juga tiba tepat pukul 19.00. Setelah kulirik kiri-kanan, aku tak melihatnya di halaman Kantor Bank Mandiri dan sekitarnya.

Kutelepon langsung.

Dari dalam ruangan meeting, ia berbisik, “Pak, saya masih meeting. Mungkin selesainya sekitar jam delapanan.”

“Ok,” jawabku. “Bapak cari tempat nongkrong dekat-dekat sini.”

Kendaraan kulaju menuju Jalan Lagaligo, ke sebuah café yang akhir-akhir ini sering kutandangi, Café “Madam Wong”. Beberapa menunya tradisional dan desain interiornya cukup membuat betah.

Menyeruput kopi Kalosi-Toraja bersama ubi dan pisang goreng, sembari berselancar ke dunia maya, mengunjungi kawan-kawan di Facebook, dan menunggu waktu hingga pukul 20.00.

Hanya kurang lebih satu jam, teleponku berdering. Anakku menginformasikan bahwa meeting-nya telah selesai dan berharap segera dijemput.

Hanya beberapa menit, aku tiba di halaman parkir Bank Mandiri di Jalan Kartini.

Bersama putriku, perlahan kendaraanku menyusuri Jalan Kartini, Kajao Laliddo, Selamet Riyadi, Nusantara, hingga memasuki jalan tol.

Setelah sedikit bergeser dari Kantor Bank Mandiri, di ujung barat terdapat Gereja Katedral, bangunan tua yang nampak masih kokoh hingga kini. Kuceritakan pada putriku bahwa di samping gereja ini dulu terdapat halaman luas yang ditumbuhi banyak kembang kamboja.

Aku pernah mengalami peristiwa yang sedikit lucu.

Suatu malam, kakak sepupuku mengajak jalan-jalan ke Pantai Losari, katanya. Dengan mengendarai sepeda Sim King, memang betul aku diboncengnya menuju Pantai Losari. Cuma, hanya sejenak saja. Setelahnya kami pulang melewati Jalan Thamrin di sisi selatan Gereja Katedral itu.

Setibanya di sisi pagar halaman gereja, kakak sepupuku memarkir sepedanya dan mengajakku mengendap-endap memasuki halaman gereja yang dirimbuni kembang kamboja.

Aku ikut membantu memetiknya tanpa izin kepada biarawati dan pastor yang ada di situ.

Begitu aku sudah bertengger di atas pohon kamboja, seorang pastor datang menghampiri kami. Aku gemetar dan minta ampun serta maaf.

Sang pastor hanya tersenyum dan berseloroh,

“Petik saja, tapi jangan dihabiskan supaya pohon kambojanya tetap indah.”

Sebelum kami pamit, sang pastor kembali mengingatkan,

“Lain kali, bila datang lagi dan ingin memetik kembang kamboja, minta izin dulu, ya. Pasti saya beri izin.”

Ujarnya dengan senyum yang tulus.

Duh… jadi kecele tak ketulungan.

Bila melintas di jalan ini, aku sering tersipu sendiri mengenang peristiwa itu ketika masih berusia belasan tahun.

“Ujarku pada putriku,” di sambut derai tawanya.

Bergeser sedikit ke selatan dari pertigaan Jalan Kartini dan Kajao Laliddo, tepatnya di Hotel Singgasana saat ini, dulu terdapat sebuah perpustakaan kota yang cukup bagus dengan bangunan tua pula, berinterior apik dan artistik.

Ketika masih di sekolah dasar, aku beberapa kali bertandang ke situ sebab salah seorang pegawainya adalah pamanku. Jadi, beliaulah yang membawaku ke sana dengan dibonceng sepeda tua. Mungkin sepeda seperti yang dipakai Guru Omar Bakri dalam lagu Iwan Fals.

Aku membayangkan, bila perpustakaan itu masih ada hingga kini dengan bangunan tua yang berarsitektur unik dan “antik”, betapa indahnya kota ini.

Namun, rasa kangen dan impian itu harus dikubur dengan sabar karena nampaknya pembangunan sekarang identik dengan pemusnahan tapak-tapak sejarah yang dulu banyak terdapat di kota tercintaku ini.

Putriku pun menimpali,

“Sayang ya, Pak. Bangunan-bangunan berarsitektur kuno di kota ini sudah sangat jarang dijumpai, bahkan nyaris tak ada lagi.”

Imbuhnya.

Makassar, Agustus 2019–2026