Baik di kawasan Asia maupun Afrika, banyak negara yang mengalami kerawanan pangan. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan
Paparan Prof. Yusran Jusuf, Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air (MKTI) Sulawesi Selatan pada Focus Group Discussion di Hotel Swiss-Belinn Panakkukang, Makassar, Sabtu, 27 Juni 2026
PELAKITA.ID – Dunia saat ini sedang menghadapi tiga krisis besar yang saling berkaitan, yakni krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Ketiga persoalan tersebut menjadi tantangan global yang semakin nyata akibat perubahan iklim serta kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.
Hal tersebut disampaikan Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air (MKTI) Sulawesi Selatan, Yusran Jusuf, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Swiss-Belinn Panakkukang, Makassar, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Yusran, isu yang paling mendesak untuk menjadi perhatian bersama adalah krisis pangan. Mengacu pada berbagai data internasional, termasuk dari Food and Agriculture Organization (FAO), masih banyak negara di dunia yang menghadapi ancaman kelaparan dengan tingkat kerawanan pangan yang tinggi.
“Baik di kawasan Asia maupun Afrika, banyak negara yang mengalami kerawanan pangan. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai diskusi mengenai konservasi tanah dan air tidak hanya bertujuan memperluas wawasan peserta, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa kondisi lingkungan global saat ini sedang menghadapi tantangan serius.
“Kita harus menyadari bahwa kondisi dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja.”
Tanah Menjadi Fondasi Kehidupan
Dalam paparannya, Prof. Yusran menegaskan bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kesehatan tanah. Tanah bukan sekadar media tempat tumbuhnya tanaman, tetapi merupakan fondasi utama sistem pangan dunia.
Ia mengingatkan bahwa lebih dari 90 persen kebutuhan pangan manusia berasal dari tanah. Selain itu, tanah menyediakan sekitar 15 hingga 18 unsur kimia penting yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh secara optimal.
“Kalau tanah rusak, tanaman tidak akan tumbuh dengan baik. Akibatnya produksi pangan menurun dan ancaman kelaparan akan semakin besar,” jelasnya.
Karena itu, menjaga kualitas tanah berarti menjaga keberlanjutan kehidupan manusia.
Selain perubahan iklim, Prof. Yusran menyebut aktivitas manusia menjadi faktor utama yang mempercepat degradasi tanah. Penurunan kualitas tanah akan mengurangi kemampuannya menjalankan berbagai fungsi ekologis, termasuk menyimpan air, menyediakan unsur hara, dan menopang produksi pangan.
Menurutnya, degradasi tersebut dapat ditekan melalui berbagai praktik konservasi yang telah terbukti efektif, antara lain pengolahan tanah minimum; rotasi tanaman; penambahan bahan organik; serta penanaman tanaman penutup tanah.
Praktik-praktik tersebut mampu meningkatkan kesehatan tanah, mengurangi erosi, menekan pencemaran, sekaligus meningkatkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air.
MKTI, Wadah Bersama Pecinta Konservasi
Pada kesempatan itu, Prof. Yusran juga memperkenalkan Masyarakat Konservasi Tanah dan Air (MKTI). Ia menjelaskan bahwa MKTI merupakan organisasi profesi yang menghimpun masyarakat dari berbagai latar belakang yang memiliki kepedulian terhadap konservasi tanah dan air.
Keanggotaan MKTI terbuka bagi siapa saja, mulai dari akademisi, peneliti, mahasiswa, pelaku usaha, aparatur pemerintah, hingga masyarakat umum yang memiliki minat terhadap upaya pelestarian sumber daya alam.
“Semua yang memiliki perhatian terhadap konservasi tanah dan air pada dasarnya dapat menjadi bagian dari MKTI,” katanya.
MKTI merupakan organisasi nirlaba yang bersifat independen dan tidak berafiliasi dengan partai politik. Organisasi ini didirikan pada tahun 1988 dengan tujuan menggalang perhatian, minat, dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konservasi tanah dan air demi mendukung kesejahteraan bangsa.
Prof. Yusran menjelaskan bahwa MKTI memiliki tiga tujuan utama.
Pertama, meningkatkan mutu dan peran berbagai karya di bidang konservasi tanah dan air.
Kedua, mendorong tumbuhnya pemahaman, kepedulian, dan partisipasi masyarakat terhadap pentingnya konservasi tanah dan air, terutama bagi kelompok yang memiliki keterkaitan langsung dengan pengelolaan sumber daya alam.
Ketiga, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang konservasi tanah dan air serta memasyarakatkan penerapannya sebagai bagian integral dari pembangunan nasional.
Di akhir paparannya, Prof. Yusran menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah ataupun kalangan akademisi.
Upaya menjaga tanah dan air membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan dapat terjaga bagi generasi mendatang.









