Oleh: Kamaruddin Azis
Founder Pelakita.ID dan MaritimePosts.com
Materi Kuliah Umum: Media Sosial dan Masa Depan Generasi Muda Maros
PELAKITA.ID – Hampir tiga dekade lalu, media sosial belum dikenal oleh masyarakat dunia. Komunikasi melalui internet masih terbatas pada surat elektronik (e-mail), forum diskusi, dan ruang percakapan (chat room).
Menjelang akhir 1990-an, muncul platform seperti SixDegrees yang memperkenalkan konsep membuat profil pribadi dan membangun jejaring pertemanan secara daring.
Memasuki awal tahun 2000-an, dunia mengenal Friendster, MySpace, dan LinkedIn. Kemudian pada 2004, Facebook mengubah cara manusia berinteraksi di dunia digital. Setelah itu lahirlah Twitter pada 2006, Instagram pada 2010, Snapchat pada 2011, dan TikTok yang mulai mendunia sejak 2016. Berbagai platform tersebut telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, belajar, bahkan membentuk opini publik.
Kini media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia telah berkembang menjadi sebuah ekosistem digital tempat orang belajar, berbisnis, berbelanja, mencari hiburan, membangun jejaring, hingga berpartisipasi dalam kehidupan politik dan sosial.
Bagi Generasi Z—mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012—media sosial bukanlah sebuah inovasi baru. Mereka lahir dan tumbuh bersama internet. Dunia digital adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Indonesia: Negeri Pengguna Media Sosial
Indonesia termasuk salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar dan paling aktif di dunia.
Lebih dari 220 juta penduduk telah terhubung ke internet, dengan rata-rata penggunaan media sosial mencapai lebih dari tiga jam setiap hari. Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, WhatsApp, Facebook, hingga X telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Bagi sebagian besar anak muda Indonesia, media sosial merupakan sumber informasi pertama, tempat mencari hiburan, sarana komunikasi utama, bahkan pasar digital untuk berjualan dan berwirausaha.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang belajar teknologi ketika dewasa, Generasi Z tidak pernah mengenal dunia tanpa telepon pintar dan internet berkecepatan tinggi. Pertemanan, pendidikan, kreativitas, hingga cita-cita mereka banyak dibentuk oleh dunia digital.
Di sinilah tersimpan peluang yang luar biasa, sekaligus tantangan yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Sisi Positif Media Sosial
Media sosial telah mendemokratisasi akses terhadap ilmu pengetahuan.
Siapa pun yang memiliki telepon pintar dapat belajar pemrograman, fotografi, desain grafis, bahasa asing, literasi keuangan, hingga kewirausahaan dari para ahli di seluruh dunia. Pengetahuan yang dahulu hanya tersedia di ruang-ruang kelas kini dapat diakses secara gratis.
Bagi anak muda Indonesia, kondisi ini membuka peluang yang sangat besar.
Seorang mahasiswa di Maros dapat membangun bisnis digital tanpa modal besar. Seorang pelajar di desa dapat memasarkan produknya ke seluruh Indonesia. Seniman muda dapat dikenal dunia tanpa harus bergantung pada media konvensional. Kreator konten bahkan mampu mengubah hobi menjadi profesi yang menghasilkan pendapatan.
Media sosial juga menjadi sarana yang efektif untuk kegiatan sosial. Kampanye lingkungan, penggalangan dana kemanusiaan, edukasi kesehatan, hingga penyebaran informasi saat terjadi bencana dapat dilakukan dengan cepat dan menjangkau jutaan orang.
Bagi banyak generasi muda, media sosial telah menjadi jembatan yang menghubungkan komunitas lokal dengan peluang global.
Sisi Gelap Media Sosial
Namun, setiap kemajuan teknologi selalu membawa konsekuensi.
Tantangan terbesar saat ini adalah misinformasi dan disinformasi.
Berita palsu sering kali menyebar lebih cepat dibandingkan informasi yang benar karena konten yang sensasional lebih mudah menarik perhatian pengguna. Algoritma media sosial dirancang untuk meningkatkan keterlibatan (engagement), bukan selalu memastikan kebenaran informasi.
Masalah lain yang semakin mengkhawatirkan adalah perundungan siber (cyberbullying).
Berbeda dengan perundungan di dunia nyata, perundungan digital dapat terjadi selama 24 jam dan mengikuti korbannya ke mana pun. Komentar negatif, ujaran kebencian, hingga penghinaan di media sosial dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius, terutama bagi remaja.
Media sosial juga berkaitan erat dengan persoalan kesehatan mental.
Paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain yang tampak sempurna sering kali membuat pengguna membandingkan dirinya dengan orang lain. Banyak anak muda akhirnya mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah pengikut, jumlah likes, atau seberapa viral konten yang mereka buat.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, gangguan tidur, menurunnya konsentrasi, dan berkurangnya kepuasan hidup.
Tidak kalah penting adalah persoalan kecanduan digital.
Banyak orang menghabiskan berjam-jam setiap hari hanya untuk menggulir layar (scrolling) tanpa tujuan yang jelas. Setiap video mungkin hanya berdurasi beberapa detik, tetapi akumulasi waktunya dapat menghabiskan sebagian besar waktu produktif.
Persoalan lainnya adalah privasi.
Setiap klik, pencarian, lokasi, hingga aktivitas pengguna meninggalkan jejak digital yang bernilai ekonomi. Data pribadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan periklanan, analisis perilaku, bahkan disalahgunakan apabila tidak dikelola dengan baik.
Algoritma yang Mengendalikan Perhatian
Kekuatan terbesar media sosial sebenarnya bukan terletak pada aplikasinya, melainkan pada algoritma.
Algoritma menentukan apa yang muncul di layar kita, memengaruhi informasi yang kita baca, barang yang kita beli, hingga opini yang kita bentuk.
Alih-alih menampilkan informasi yang seimbang, algoritma lebih memilih konten yang berpotensi membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam aplikasi.
Akibatnya, banyak orang terjebak dalam echo chamber, yaitu ruang digital yang hanya memperlihatkan pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Kondisi ini dapat memperkuat polarisasi sosial dan mengurangi ruang dialog yang sehat.
Karena itu, literasi digital kini menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membaca dan menulis.
Peluang Besar Generasi Z
Di balik berbagai tantangan tersebut, Generasi Z sesungguhnya merupakan generasi yang paling beruntung sepanjang sejarah.
Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan global, jejaring internasional, teknologi kreatif yang murah, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), komputasi awan (cloud computing), ekonomi kreator (creator economy), serta peluang bekerja dari mana saja.
Seorang anak muda di Maros, Makassar, Sorong, atau Jayapura kini memiliki kesempatan yang sama untuk membangun bisnis digital, membuat karya kreatif, mengikuti pelatihan internasional, atau bekerja dengan perusahaan global tanpa harus meninggalkan daerah asalnya.
Ekonomi digital semakin menghargai kreativitas dibandingkan lokasi geografis.
Bagi Indonesia, bonus demografi yang didominasi Generasi Z merupakan peluang emas. Jika dibekali keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, integritas, dan jiwa kewirausahaan, mereka dapat menjadi motor penggerak Indonesia menuju salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di dunia.
Menjadi Warga Digital yang Bertanggung Jawab
Teknologi pada dasarnya tidak pernah baik ataupun buruk.
Yang menentukan adalah bagaimana manusia menggunakannya.
Karena itu, orang tua, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, perusahaan teknologi, media, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk membentuk warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab.
Pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan harus membekali generasi muda dengan literasi digital, kemampuan memverifikasi informasi, etika bermedia sosial, keamanan siber, kemampuan berpikir kritis, dan pemanfaatan kecerdasan buatan secara bijaksana.
Generasi muda perlu belajar bukan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi pencipta informasi yang bertanggung jawab.
Kesuksesan di media sosial tidak semestinya diukur dari jumlah pengikut atau viralnya sebuah konten, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Penutup
Media sosial telah mengubah wajah peradaban modern.
Ia menghubungkan miliaran manusia, memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, mempercepat inovasi, dan melahirkan berbagai profesi baru. Namun pada saat yang sama, media sosial juga membawa tantangan berupa penyebaran hoaks, polarisasi, kecanduan digital, serta persoalan kesehatan mental.
Bagi Generasi Z Indonesia, masa depan tidak akan ditentukan oleh berapa lama mereka menghabiskan waktu di dunia maya, melainkan oleh seberapa bijak mereka memanfaatkan teknologi.
Para pemimpin, ilmuwan, wirausahawan, pendidik, jurnalis, dan inovator Indonesia di masa depan sangat mungkin lahir dari generasi digital hari ini.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah generasi muda harus menggunakan media sosial.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah mereka akan menjadi sekadar konsumen algoritma, atau menjadi kreator yang menggunakan teknologi untuk memajukan masyarakat, memperkuat demokrasi, dan membangun masa depan Indonesia?
Jadi, media sosial hanyalah sebuah alat. Apakah ia menjadi jembatan menuju kemajuan atau justru sumber perpecahan, sepenuhnya bergantung pada pilihan yang kita buat setiap hari.









