Potret Kesehatan Sulawesi Barat 2024: Data Stunting Belum Tersaji, Indikator Pendukung Menunjukkan Tantangan dan Kemajuan

  • Whatsapp
Ilustrasi
  • Benarkah angka stunting di Sulbar mencapai 35 persen? Angka stunting di Sulawesi Barat (Sulbar) masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data terbaru dirilis Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sulbar mencatat prevalensi stunting di daerah ini mencapai 35,4 persen, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 19,8 persen.
  • Tidak ditemukan di Sulbar Dalam Angka 2025. Ya, akses terhadap sanitasi dan air minum yang layak merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan anak dan pencegahan stunting. Data tahun 2024 menunjukkan perkembangan yang cukup positif.

PELAKITA.ID – Meskipun isu stunting masih menjadi salah satu fokus utama pembangunan kesehatan nasional, publikasi Provinsi Sulawesi Barat Dalam Angka 2025 belum menyajikan data spesifik mengenai prevalensi balita stunting pada tingkat kabupaten maupun provinsi.

Pelakita.ID menemukan laporan ini: Angka stunting di Sulawesi Barat (Sulbar) masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data terbaru mencatat prevalensi stunting di daerah ini mencapai 35,4 persen, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 19,8 persen.

Pembaca sekalian, berbagai indikator kesehatan, gizi, sanitasi, dan pelayanan kesehatan yang tersedia dalam laporan tersebut dapat memberikan gambaran umum mengenai kondisi kesehatan masyarakat Sulawesi Barat sepanjang tahun 2024.

Read More

Tenaga Gizi dan Risiko Kekurangan Gizi

Salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan stunting adalah ketersediaan tenaga gizi yang mendampingi masyarakat hingga tingkat pelayanan dasar.

Pada tahun 2024, Sulawesi Barat memiliki total 373 tenaga gizi yang tersebar di enam kabupaten.

Kabupaten Mamuju menjadi wilayah dengan jumlah tenaga gizi terbanyak, yakni 149 orang, disusul Polewali Mandar sebanyak 60 orang, Pasangkayu 49 orang, Mamuju Tengah 42 orang, Mamasa 40 orang, dan Majene 33 orang.

Selain itu, data kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terdapat 4.411 kasus ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) di Sulawesi Barat. Kondisi KEK pada ibu hamil merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memengaruhi pertumbuhan janin dan berpotensi meningkatkan risiko stunting pada anak yang dilahirkan.

Infrastruktur Kesehatan Menjangkau Hingga Desa

Pemerintah daerah terus memperkuat layanan kesehatan melalui pembangunan dan pemerataan fasilitas kesehatan. Pada tahun 2024, tercatat terdapat 12 desa yang memiliki rumah sakit, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten Polewali Mandar sebanyak empat desa.

Selain itu, sebanyak 100 desa telah memiliki puskesmas dan 344 desa memiliki puskesmas pembantu. Keberadaan fasilitas ini menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan primer yang berperan penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak, pelayanan ibu hamil, serta edukasi gizi masyarakat.

Jaringan pelayanan kesehatan juga didukung oleh keberadaan apotek di 98 desa yang tersebar di seluruh wilayah provinsi.

Cakupan Imunisasi Masih Perlu Ditingkatkan

Program imunisasi dasar merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Data tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata cakupan imunisasi Polio 4 di Sulawesi Barat mencapai 62,40 persen.

Polewali Mandar mencatat capaian tertinggi dengan 77,30 persen balita telah menerima imunisasi Polio 4. Sebaliknya, Kabupaten Mamuju menjadi daerah dengan cakupan terendah, yaitu 48,90 persen.

Perbedaan capaian antarwilayah ini menunjukkan bahwa masih diperlukan penguatan layanan kesehatan dasar dan edukasi masyarakat agar cakupan imunisasi dapat lebih merata.

Keluhan Kesehatan dan Ancaman Penyakit Menular

Pada tahun 2024, sebanyak 23,33 persen penduduk Sulawesi Barat melaporkan mengalami keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir. Kabupaten Pasangkayu mencatat persentase tertinggi dengan 30,14 persen penduduk mengalami gangguan kesehatan.

Di sisi lain, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Angka kesakitan DBD di tingkat provinsi melonjak dari 83 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2023 menjadi 170,78 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2024.

Kabupaten Polewali Mandar menjadi daerah dengan angka kesakitan DBD tertinggi mencapai 272,58 per 100.000 penduduk, sedangkan Mamasa mencatat angka terendah sebesar 24,03 per 100.000 penduduk.

Peningkatan kasus DBD ini menjadi peringatan penting bahwa aspek kesehatan lingkungan masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Sanitasi dan Air Minum Layak Terus Membaik

Akses terhadap sanitasi dan air minum yang layak merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan anak dan pencegahan stunting. Data tahun 2024 menunjukkan perkembangan yang cukup positif.

Sebanyak 82,52 persen rumah tangga di Sulawesi Barat telah memiliki akses sanitasi layak. Polewali Mandar mencatat capaian tertinggi sebesar 87,73 persen, sementara Mamasa masih menjadi daerah dengan akses terendah sebesar 67,57 persen.

Untuk akses air minum layak, rata-rata provinsi mencapai 80,14 persen. Kabupaten Majene menjadi daerah dengan capaian terbaik sebesar 98,50 persen, sedangkan Mamasa masih menghadapi tantangan besar dengan tingkat akses hanya 36,70 persen.

Perbedaan yang cukup lebar antarwilayah menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dasar masih menjadi pekerjaan rumah penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Menunggu Data Stunting yang Lebih Komprehensif

Walaupun data stunting tidak tersedia dalam publikasi Provinsi Sulawesi Barat Dalam Angka 2025, berbagai indikator pendukung menunjukkan bahwa Sulawesi Barat terus memperkuat fondasi kesehatan masyarakat melalui peningkatan fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga gizi, serta perluasan akses sanitasi dan air minum layak.

Di sisi lain, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, mulai dari tingginya kasus ibu hamil dengan KEK, cakupan imunisasi yang belum merata, hingga meningkatnya angka kesakitan DBD.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai prevalensi stunting di Sulawesi Barat, diperlukan rujukan pada sumber khusus seperti Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) atau Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang memang dirancang untuk mengukur kondisi gizi balita secara nasional dan daerah.

Artikel ini dapat digunakan sebagai pengantar atau bagian analisis dalam laporan kesehatan daerah yang menekankan bahwa ketiadaan data stunting tidak berarti tidak ada gambaran kondisi kesehatan, karena berbagai indikator pendukung tetap dapat menunjukkan arah kemajuan maupun tantangan pembangunan kesehatan di Sulawesi Barat.

Related posts