Stunting 35 Persen, Apa Capaian Pemda Sulbar untuk Penanganannya?

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di daerah ini tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,1 persen, sehingga mencapai 35,4 persen.

PELAKITA.ID – Provinsi Sulawesi Barat masih menghadapi tantangan serius dalam penanganan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di daerah ini tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,1 persen, sehingga mencapai 35,4 persen.

Angka ini menempatkan Sulawesi Barat sebagai salah satu provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, yakni di posisi ketiga secara nasional, serta jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 19,8 persen.

Jika dilihat pada tingkat kabupaten, terdapat variasi capaian yang cukup signifikan. Polewali Mandar mencatat angka tertinggi dengan prevalensi sekitar 36 persen, disusul Majene yang sempat mencapai 40,6 persen pada 2022 dan berada pada kisaran 35,66 persen pada 2023.

Mamuju Tengah tercatat sebesar 31,5 persen, sementara Kabupaten Mamuju dan Pasangkayu masing-masing berada pada angka sekitar 30,3 persen dan 28,6 persen berdasarkan data pendahulu.

Satu-satunya kabupaten yang menunjukkan perbaikan adalah Mamasa, yang berhasil menurunkan angka stunting dari 37,6 persen (2023) menjadi 35,7 persen (2024).

Akar Permasalahan Stunting di Sulawesi Barat

Tingginya angka stunting di Sulawesi Barat tidak terlepas dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari aspek kesehatan, sosial, maupun lingkungan. Terdapat sejumlah isu utama yang menjadi akar permasalahan.

Pertama, dari sisi kesehatan ibu dan anak, prevalensi Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil masih berada di angka 12,83 persen, sementara kasus anemia pada ibu hamil mencapai 51,32 persen.

Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas kesehatan janin dan risiko lahirnya bayi dengan gangguan pertumbuhan.

Kedua, dari aspek pola asuh dan gizi, cakupan ASI eksklusif baru mencapai 65,12 persen, yang menunjukkan masih adanya tantangan dalam praktik pemberian nutrisi optimal pada bayi. Pola konsumsi pangan yang belum sepenuhnya beragam dan bergizi juga turut memperburuk situasi.

Ketiga, kesehatan reproduksi remaja menjadi faktor penting yang turut berkontribusi. Jumlah calon pengantin yang mengalami anemia masih cukup tinggi, dengan kasus terbanyak tercatat di Polewali Mandar sebanyak 983 orang.

Selain itu, angka perkawinan anak mencapai 11,25 persen, yang memperbesar risiko kehamilan pada usia remaja dengan kondisi biologis yang belum siap.

Keempat, faktor lingkungan dan sanitasi masih menjadi tantangan, terutama di wilayah tertentu seperti Mamasa, di mana akses terhadap air minum layak masih berada di bawah 50 persen. Kondisi ini memperbesar risiko penyakit infeksi yang berhubungan dengan gagal tumbuh pada anak.

Kelima, aspek ketahanan pangan juga menjadi perhatian, dengan tingkat kerawanan pangan rumah tangga yang masih tinggi. Kabupaten Mamuju, misalnya, mencatat persentase rumah tangga rawan pangan tertinggi sebesar 20,72 persen.

Keenam, rendahnya literasi gizi dan kesehatan reproduksi, khususnya di kalangan remaja putri, menjadi faktor jangka panjang yang mempengaruhi siklus stunting lintas generasi.

Strategi dan Arah Kebijakan Penanganan

Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah menetapkan penanganan stunting sebagai prioritas pembangunan dalam RPJMD 2025–2029, dengan target penurunan prevalensi menjadi 21 persen pada tahun 2029.

Untuk mencapai target tersebut, strategi penanganan dilakukan melalui pendekatan konvergensi yang mencakup intervensi spesifik dan sensitif secara terpadu.

Pertama, penguatan sistem data melalui pembentukan Command Center menjadi langkah penting untuk memastikan validitas data sasaran, sehingga intervensi dapat lebih tepat sasaran dan terukur.

Kedua, intervensi langsung difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri dan ibu hamil, serta penyediaan makanan tambahan bagi balita dengan masalah gizi.

Ketiga, pengembangan 12 desa atau kelurahan model dijadikan sebagai lokus percontohan penanganan stunting yang diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain.

Inovasi dan Pendekatan Lokal

Sejumlah inovasi lokal juga telah dikembangkan sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting di Sulawesi Barat.

Program Gerakan ASN Berbagi (GASA) dan konsep Orang Tua Asuh melibatkan aparatur sipil negara serta sektor swasta untuk mendampingi anak-anak yang berisiko stunting, sebagaimana telah diterapkan di Mamuju Tengah.

Inisiatif lain seperti Sedekah Seribu Stunting (Serbu Stunting) mendorong partisipasi masyarakat melalui pengumpulan dana sukarela di tingkat desa untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga berisiko.

Di sisi edukasi, pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi MAMMIS (Media Monitoring and Interactive Stunting) menjadi sarana untuk meningkatkan literasi gizi dan kesehatan sejak usia remaja.

Selain itu, pendekatan berbasis kearifan lokal juga mulai diperkuat dengan pemanfaatan bahan pangan lokal dalam intervensi gizi, sehingga lebih mudah diterima secara sosial dan budaya oleh masyarakat, khususnya di wilayah Mandar.

Penguatan Layanan Dasar dan Harapan Ke Depan

Keberhasilan penanganan stunting sangat ditentukan oleh kualitas layanan dasar di tingkat masyarakat.

Oleh karena itu, revitalisasi Posyandu, peningkatan kapasitas kader kesehatan, serta perluasan akses air bersih dan sanitasi menjadi prioritas yang terus diperkuat.

Dengan kombinasi antara penguatan data, intervensi gizi, inovasi lokal, dan peningkatan layanan dasar, Sulawesi Barat diharapkan mampu menurunkan angka stunting secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Tantangan yang ada memang masih besar, namun arah kebijakan dan berbagai inisiatif yang telah berjalan memberikan harapan bagi perbaikan kualitas generasi masa depan di provinsi ini.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat. (2022). Ringkasan Eksekutif Kondisi Kesehatan Anak Provinsi Sulawesi Barat 2021. Mamuju: BPS Provinsi Sulawesi Barat.

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat. (2025). Provinsi Sulawesi Barat Dalam Angka 2025. Mamuju: BPS Provinsi Sulawesi Barat.

Immawanti, Pattola, Wahyuddin, M., Laila, I., & Aras, F. R. (2024). Pemberdayaan remaja putri dalam upaya pencegahan stunting. Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(6), 889–896.

Jeanette Silvi. (2024). 12 faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Sulawesi Barat: Analisis data SSGI 2024. Portal Jurnal Malahayati.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: Kemenkes RI.

Malaqbipos. (2025, April 24). Kepala Bapperida Sulbar, Junda Maulana paparkan data prevalensi stunting Sulbar 2025. Diakses dari https://malaqbipos.id

Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. (2025). Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2025–2029. Mamuju: Sekretariat Daerah.

Supianto. (2022, Februari 1). Angka stunting Polewali Mandar tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat. Diakses dari https://jurnas.com

Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S). (2026, April 28). Mamuju Tengah optimis percepat penurunan stunting. Jakarta: Sekretariat Wakil Presiden RI.

Wahyuandi. (2025, Mei 28). Mamasa berhasil tekan angka stunting hingga 1,9 persen, Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar beri apresiasi. Pikiran Rakyat Sulbar.

Tim Editorial