Lebih 2 Dekade Jadi Saksi Poros Malino yang Rusak Parah

  • Whatsapp
Ilustrasi sesuai pengalaman penulis sejak tahun 2000 sampai sekarang (dok: Ilustrasi Pelakita)

PELAKITA.ID – Sudah lebih dari dua dekade saya tinggal di Kabupaten Gowa. Sejak tahun 2000, saya menyaksikan langsung bagaimana kondisi Jalan Poros Malino, khususnya ruas yang menghubungkan perempatan Sungguminasa-Takalar menuju arah Malino, tak pernah benar-benar mendapatkan perbaikan yang tuntas dan berkelanjutan.

Jalan yang menjadi salah satu akses utama masyarakat itu seolah terjebak dalam lingkaran kerusakan yang tak berujung.

Yang membuat keadaan ini semakin sulit dipahami, lokasi ruas jalan tersebut sangat dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Gowa. Jaraknya tidak sampai dua kilometer dari Kantor Bupati Gowa.

Bahkan, jika diibaratkan, hanya sepelemparan bola kasti dari Jalan Negara Gowa-Takalar ke arah selatan.

Hingga hari ini, jalan itu tetap menjadi potret ironi pembangunan yang menyakitkan mata dan hati warga.

Semalam, sepulang dari berpartisipasi Kompetisi Domino yang digelar IDC IKATEK Unhas – Batom IKA Unhas, sembari melintasi Poros Malino yang bopeng itu, pertanyaan besar pun muncul: mengapa jalan yang menjadi salah satu wajah Kabupaten Gowa justru dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan?

Mengapa jalan-jalan lain yang berstatus jalan provinsi atau jalan nasional tampak mendapat perhatian, diperbaiki, diperlebar, dan ditata, sementara Poros Malino yang setiap hari dilalui ribuan warga seakan luput dari prioritas?

Sebagai warga yang hampir tiga dekade hidup di sekitar ruas tersebut, saya menyaksikan sendiri dampak yang harus ditanggung masyarakat.

Saat musim kemarau, debu beterbangan memenuhi udara, masuk ke rumah-rumah warga, mengganggu aktivitas, dan mengancam kesehatan.

Ketika musim hujan tiba, genangan air memenuhi badan jalan, lubang-lubang semakin menganga, dan risiko kecelakaan meningkat. Tidak sedikit pengendara yang terjatuh akibat kondisi jalan yang rusak parah.

Cobalah melintas perlahan dari perempatan menuju arah Poros Malino.

Pemandangan yang terlihat adalah ruas jalan yang bergelombang, retak di berbagai sisi, berlubang di banyak titik, dan rusak berat terutama di kawasan belokan menuju Pasar Terminal Sungguminasa.

Kondisi ini bukan baru terjadi kemarin atau tahun lalu. Kerusakan tersebut telah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi pemandangan yang nyaris dianggap biasa.

Padahal, Poros Malino bukan sekadar jalan lingkungan. Ia merupakan akses vital yang menghubungkan pusat pemerintahan, pusat perdagangan, kawasan permukiman, hingga jalur menuju destinasi wisata unggulan Kabupaten Gowa.

Jalan ini menjadi urat nadi aktivitas ekonomi masyarakat. Setiap hari dilalui pedagang, pelajar, pegawai, petani, hingga wisatawan yang hendak menuju Malino. Namun yang mereka temukan justru jalan yang jauh dari kata layak.

“Bagaimana destinasi wisata Beautiful Malino jadi ramai atau digandrungi warga jika akses ke sana, sungguhlah rusak? batin penulis saat berbelok ke Bukit Tamarunang.

Kepada siapa lagi harapan ini harus disampaikan?

Saya pernah menanyakan langsung persoalan ini kepada Bupati Gowa di Kampus Unhas.

Jawabannya, ruas tersebut sudah masuk dalam perencanaan pembangunan. Sebuah jawaban yang tentu memberi harapan. Namun pertanyaan berikutnya adalah: kapan perencanaan itu akan menjadi kenyataan?

Saya juga pernah menyampaikan keluhan yang sama kepada seorang anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan I.

Jawaban yang diterima kurang lebih sama: masih dalam proses dan sedang dikonsultasikan dengan pihak terkait. Lagi-lagi muncul pertanyaan yang sama dari masyarakat: sampai kapan proses itu berlangsung?

Masyarakat tidak menuntut kemewahan. Kami hanya meminta hak dasar sebagai warga negara: jalan yang aman, nyaman, dan layak dilalui.

Jalan yang tidak membahayakan keselamatan pengguna.

Jalan yang mencerminkan keseriusan pemerintah dalam melayani rakyatnya.

Sudah terlalu lama warga menunggu. Sudah terlalu banyak debu yang kami hirup dan terlalu banyak lubang yang kami hindari.

Bahkan mungkin sudah terlalu banyak korban yang jatuh akibat kerusakan yang tak kunjung ditangani secara serius.

Kabupaten Gowa terus berkembang. Berbagai capaian pembangunan patut diapresiasi. Namun pembangunan yang baik tidak hanya diukur dari proyek-proyek besar atau gedung-gedung megah.

Pembangunan juga harus hadir pada persoalan sederhana yang dirasakan langsung masyarakat setiap hari. Dan salah satu persoalan itu adalah Jalan Poros Malino.

Semoga suara kecil dari warga Tamarunang ini dapat didengar. Sebab setelah lebih dari dua dekade menjadi saksi, kami hanya ingin melihat satu hal sederhana: Jalan Poros Malino yang layak, aman, dan tidak lagi menjadi simbol janji yang terus tertunda.

Jika jalan itu tak kunjung diperbaiki, trust ke aleg asal Dapil 1 sudah tiba di titik nadir. Mendekati zero.

Atau jangan-jangan ada kekuatan lain yang tidak ingin melihat Gowa indah, enak dilihat atau maju?

__

Denun, 23 Juni 2026