Ketika IKAFE Unhas Menjadikan Lapangan Padel sebagai Ruang Silaturahmi, Regenerasi, dan Kepemimpinan
PELAKITA.ID – Di tengah kehidupan kota besar yang makin cepat, kompetitif, dan individualistik, ada satu hal yang perlahan menjadi barang mahal: kebersamaan yang tulus. Orang bertemu untuk bisnis, berbicara karena kepentingan, dan berjejaring demi keuntungan.
Karena itu, ketika Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas) kembali menggelar turnamen padel “Nextgen Clash” 2026 di Social Padel House Setiabudi, Jakarta Selatan, acara ini sesungguhnya bukan sekadar agenda olahraga.
Ia adalah ruang temu antargenerasi.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dr. Hendra Noor Saleh, SE., M.Sc., DBA, IKAFE tampak sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar organisasi alumni.
Ada upaya menghadirkan kembali ruh kekeluargaan alumni FEB Unhas dalam format yang lebih relevan dengan zaman: cair, sehat, kolaboratif, dan dekat dengan generasi muda.
Karena itu, pemilihan padel sebagai medium kegiatan terasa menarik. Padel bukan olahraga individual. Ia dimainkan berpasangan. Membutuhkan komunikasi, kekompakan, naluri membaca gerak pasangan, dan kemampuan membangun ritme bersama. Dalam banyak hal, padel justru menyerupai filosofi kehidupan alumni.
Tidak ada alumni yang benar-benar tumbuh sendirian.
Di balik seorang profesional sukses, selalu ada dosen yang pernah membimbing, senior yang pernah membuka jalan, sahabat kampus yang pernah menopang, dan jaringan alumni yang ikut menjaga langkahnya. Nilai itulah yang terasa hidup dalam “Nextgen Clash”.
Lapangan padel akhirnya menjadi simbol sederhana tentang bagaimana hubungan antargenerasi seharusnya dirawat.
Di satu sisi hadir para senior dengan pengalaman panjang di pemerintahan, perbankan, BUMN, dunia usaha, akademik, hingga ruang kebijakan nasional. Di sisi lain hadir generasi muda alumni yang sedang mencari arah, membangun usaha, merintis karier, dan belajar memahami kerasnya dunia profesional.
Mereka dipertemukan bukan dalam ruang formal yang kaku, melainkan dalam suasana santai yang lebih manusiawi. Dari situlah percakapan penting sering lahir: tentang pekerjaan, usaha, peluang kolaborasi, bahkan nasihat hidup yang kadang tidak pernah ditemukan di ruang kuliah.
Di titik ini, “Nextgen Clash” memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sebuah turnamen olahraga.
Ia adalah bentuk regenerasi sosial.
IKAFE tampaknya memahami bahwa organisasi alumni tidak cukup hanya hidup dalam seremoni atau nostalgia. Alumni harus hadir sebagai ekosistem yang saling menguatkan. Senior tidak boleh sibuk menikmati pencapaiannya sendiri, sementara junior berjalan tanpa arah.
Sebaliknya, generasi muda juga harus belajar bahwa kesuksesan besar hampir selalu lahir dari kemampuan membangun relasi, menjaga adab, dan bertumbuh bersama.
Semangat itu terasa penting di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Dunia kerja berubah. Teknologi mengubah pola hidup. Kompetisi makin keras. Dalam situasi seperti itu, keberadaan komunitas alumni yang sehat menjadi sangat berharga. Bukan hanya sebagai jaringan profesional, tetapi juga sebagai ruang berteduh secara moral dan emosional.
Manusia tidak hanya membutuhkan koneksi karier. Manusia juga membutuhkan rasa memiliki.
Di bawah kepemimpinan Dr. Hendra Noor Saleh, IKAFE terlihat mencoba menjaga keseimbangan itu: antara profesionalisme dan kekeluargaan, antara prestasi dan kebersamaan, antara legacy senior dan energi generasi baru. Nampak pula Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, tanda bahwa alumni yang ada di pemerintahan juga joinan.
Inilah yang membuat agenda seperti “Nextgen Clash” menjadi relevan. Sebab olahraga hanyalah pintu masuk. Nilai utamanya tetap silaturahmi, regenerasi, dan estafet kepemimpinan.
Prof. Murtir Jeddawi yang membuka kegiatan tersebut seakan mengingatkan bahwa alumni bukan sekadar orang yang pernah lulus dari kampus yang sama. Alumni adalah mata rantai nilai. Mereka membawa nama baik almamater ke ruang-ruang pengabdian masing-masing.
Nama baik itu tidak dijaga melalui pidato semata, melainkan melalui kebiasaan saling mendukung, saling membuka jalan, dan saling menguatkan.
Mungkin itulah pesan paling penting dari “Nextgen Clash” IKAFE 2026: bahwa di tengah dunia yang semakin kompetitif, manusia tetap membutuhkan ruang untuk bermain bersama, tertawa bersama, dan bertumbuh bersama.
Karena sehebat apa pun pencapaian seseorang, pada akhirnya hidup tetap lebih bermakna ketika dijalani tidak sendirian.(SS)
___
Penulis adalah anggota IKAFE 84









