Dermaga Hikmah: Pelangi di Pasar Rakyat Bontorea dan Sejumlah Harapan

  • Whatsapp
Pelangi penuh di Pasar Rakyat Bontorea (dok: Pelakita.ID)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Setelah dua semester hibernasi maggowes, Ahad, 18 Juli 2023, sepeda jenis MTB millikku keluar kandang.

Sebenarnya tidak juga, sepeda ini sudah empat bulan berdiri di dekat pintu rumah, selalu bersiap dibawa ke mana saja.

Tapi belum berjodoh, penunggangnya sibuk keliling kabupaten-kota se-Sulssel ikut melantik Pengurus Daerah IKA Unhas.

Sosodara, saya mulai goyangan sekira pukul empattigapuluh. Istri sempat bilang bakal hujan tapi tetap saja berangkat.

Saya keluar rumah dengan harapan ingin ke sekitar Lapangan Syekh Yusuf Sungguminasa tetapi saat di perempatan Limbung – Malino – Sungguminasa, stang sepeda berbelok ke arah Limbung.

Tiba-tiba saja ingin lihat Pasar Rakyat Bontorea yang oleh Bupati Adnan selalu dipuji sebagai solusi mengurai kemacetan di sepanjang Poros Pallangga.

Yah, poros itu memang neraka bagi pejalan kalau pagi hari.

Dari sini, jika pagi, sejumlah pedagang dari berbagi daerah Malino, Pallangga, Malakaji, Bajeng tumpah ruah.

Selain di Bontorea, Pemda juga sudah merenovasi Pasar Rakyat Sungguminasa di Jalan Hasanuddin, ini juga jalur sibuk.

Yang perlu diapresiasi jalur di sini sudah terbuka lebar, jalan sudah diaspal tebal dan lempang. No neeed to worry-lah!

Begitulah.

Setelah kurang lebih 20 menit, saya sampai di pintu pasar. Jalannya belum diaspal. Saya disambut pelangi sebelah. Pelangi terputus.

Sepeda melaju, dan tiba di block B. Saya duduk memandangi lansekap dan memberi senyum ke sejumlah pedagang. Mereka angkat tangan, ada juga membungkukkan badan.

Ada juga yang bertanya, “Mauki mancing?” tanyanya saat saya memandang ke kolam sisi utara.

Dari sini nampak sawah menguning di sisi timur. Sejumlah pedagang masih berjaga di situ meski bukan hari sibuk.

Sebagian besar menjajakan hasil perkebunan, hortikultura. Layaknya pasar.

Berburu sunset di Masjid Syekh Yusuf Sungguminasa (dok: Pelakita.ID)

Saya tidak ingin menyebut aneka jualan tetapi saya menceritakan betapa kanal-kanal antar blok sangat dangkal, sejumlah ruas sudah dikepung sampah. Bahkan ada yang sudah tertutup timbunan.

Gaes, ini persoalan kalau tidak segera dituntaskan.

Meski ada kontainer sampah, sepertinya belum ada kesadaran pengunjung atau pedagang di pasar untuk menggunakannya dengan baik sebab sampah masih berceceran, sejumlah titik malah diletakkan kantung plastik isi sampah.

Ketiga, perlu menanam pohon tinggi di sekitar pasar ini sebab nampak gersang tanpa penghijauan.

Kita meski membayangkan saat ke pasar rakyat, ada model atau situasi yang berbeda, moderen, hijau dan nyaman.

Itu saja dulu yang perlu mendapat atensi Pemda, kita semua.

Oh iya, saya juga baru ngeh kalau di sekitar pasar rakyat Bontorea ini sudah ada Pizza Hut. Sudah ada KFC jadi, sangat kota kita di Pallangga ini.

Sosodara, kunjungan saya ke Bontorea itu memperoleh hasil luar biasa, bisa menyaksikan Pelangi separuh dan sebelum pulang dilengkapi jadi penuh.

Dari pasar ini, saya mengarah ke Masjid Raya Syekh Yusuf. Foto keren juga ada dari sini.

 

Daeng Nuntung
Tamarunang, 18/7

Related posts