Aplikasi GDLN Unhas dan inisiatif Prof Aminuddin Salle di Kopertis IX

  • Whatsapp
Prof Aminuddin Salle dan istri, Ibu Suryana (dok: istimewa)

PELAKITA.ID –  Pada postingan Dr Iqbal Djawad, dosen FIKP Unhas, berjudul Konsep ‘knowledge sharing’ ala SISDIKSAT Amiruddin, kiprah Unhas dan jaringan global pada media ini mendapat tanggapan dari Guru Besar Fakultas Hukum Unhas, Prof Dr Aminuddin Salle, S.H, M.H.

“Berkaitan fasilitas Global Development Learning Network yang disampaikan Dr Iqbal itu, pada tahun 2007, saya sampat memanfaatkan fasilitas GDLN Unhas,” ucap guru besar hukum agraria Unhas yang juga pernah menjadi koordinator perguruan tinggai swasta (Kopertis IX) ini.

Read More

“Digunakan saat peluncuran buku saya berjudul Pendidikan Tinggi, Masa Depan berbasis Teknologi Irformasi dan Komunikasi dengan penanggap utama Prof BJ Habibie dari Jakarta dan diikuti perguruan tinggi yang ada Manado, Gorontalo, Palu dan Kendari,” kenangnya.

Setelah itu, lanjut Prof Aminuddin, karena memandang pentingnya wahana atau platform knowledge sharing di ranah perguruan tinggi, dirinya menginisiasi pendirian gedung E-Learning Center Kopertis IX.

“Waktu itu saya Koordinator Kopertis IX dan sempat menandatangani prasasti: Dari Ruangan ini Terpancar Ilmu Terbaik dari Ilmuan Terbaik,” imbuhnya.

“Untuk memudahkan berkomunikasi dengan petinggi Jakarta dan wilayah lainnya maka sebagai ‘Gubernur Koordinator’, pada  ruang kerja saya saya pasangi fasilitas video conference, saat itu bandwidth juga masih sulit dan mahal,” katanya.

“Itu juga untuk mengatasi frekwensi yang terlalu banyak terbang bagi saya selaku Gubernur Koordinator untuk urusan-urusan pendidikan tinggi,” sebutnya.

Meski demikian, Prof Aminuddin merasa, belakangan, setelah dia lagi pada posisi itu, perihal IT ini mengalami kemunduran. Padahal menurutnya pengembangan IT untuk memudahkan proses belajar mengajar sangat penting dan sesuai tuntutan zaman.

“Entah dengan keadaan sekarang yang justeru sangat diperlukan metode video conference ini,” katanya.

Dia juga bercerita tentang adanya MoU dengan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal dan RRI Pusat Jakarta berkaitan fasilitasi perkuliahan ‘daring’ kala itu.

“Waktu itu, saya selaku Koordinator Kopertis menandatangani MoU dengan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal dan Dirut RRI Pusat Jakarta di Gedung APTISI Makassar,” katanya.

Dengan demikian, mulai saat itu dilakukan kuliah umum dari dosen-dosen yang paling kompeten pada bidangnya untuk memberikan kuliah melalui RRI dengan harapan dapat menjangkau sampai ke pelosok. Menyasar dosen-dosen atau mahasiswa yang ada pada wilayah jauh.

“Sampai sekarang program ini masih jalan dan saya masih sering diajak mengisi program Mahabintang atau Mahasiswa Biduk Masa Datang,” terangnya.

Terkait kiprahnya di Koperti IX, pada masa itu pula, Prof Aminuddin sempat diajak oleh Menteri PDT Syaifullah Yusuf untuk menjadi Deputi Menteri.

“Kepres sudah terbit tetapi akhirnya beliau mengerti bahwa tugas sebagai Koordinator Kopertis lebih membutuhkan tenaga dan pikiran saya,” ucapnya.

“Saya komitmen bahwa pada setiap beliau berkunjung ke Kawasan Timur Indonesia saya siap mendampingi. Beberapa kali sempat mewakili beliau dalam temu ilmiah di Jakarta,” pungkasnya.

Pendirian E-Learning Center semasa tugas Prof Aminuddin tersebut sempat menjadi perhatian Rektor Unhas Prof Idrus Paturusi.

“Beliau sempat bercanda dan bilang, anda itu dosen Unhas, jangan menyaingi Unhas dengan fasilitas vicon,” sebutnya.

“Tapi saya jawab, tidak bermaksud menyaingi Unhas, Prof. Yang saya lakukan membuat program dan melengkapi fasilitas yang jauh lebih baik dari Unhas. Supaya yakin, mohon datang menyaksikan Prof,” pungkasnya.

 

Editor: K. Azis

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *