Seperti kota-kota di Jepang, pemerintah di Palu pun memiliki tanggung jawab menyediakan fasilitas yang layak, memastikan pelayanan berjalan baik, serta menjaga agar ruang publik tetap aman dan terawat. Pada saat yang sama, warga perlu memiliki kesadaran untuk menjaga fasilitas, tidak membuang sampah sembarangan, menghormati hak orang lain, dan mematuhi aturan yang berlaku.
Belajar tentang kejujuran, karakter, dan wajah kota yang terus berbenah di Palu
PELAKITA.ID — Malam ini penulis diajak keliling Kota Palu. Dua sahabat, M. Arief Sutte dan istrinya Lisa Indriani mengaja melihat suasana kota telah menyabet Piala Adipura, dua kali dalam beberapa tahun terakhir!
Pembaca Pelakita.ID, banyak cara mengenali sebuah kota. Kita bisa membaca sejarahnya, mengamati bangunan dan jalan-jalannya, atau duduk berbincang dengan orang-orang yang telah lama tinggal di sana. Kadang-kadang, perjalanan paling menarik justru dimulai dari pengalaman hidup seseorang yang pernah tinggal jauh dari kampung halamannya.
Itulah yang penulis alami ketika M. Arief Sutte dan Lisa Andriani, sepasang suami istri alumni Ilmu Tanah Universitas Hasanuddin (Unhas), mengajak berkeliling Kota Palu.
Keduanya pernah tinggal di Jepang dan kini menetap di Palu, membawa pulang pengalaman, kenangan, sekaligus cara pandang tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun kehidupan bersama.
Di sepanjang perjalanan, mereka memperlihatkan sudut-sudut kota yang terus berubah.
Jalan-jalan yang lebih tertata, taman yang semakin menarik, lingkungan yang bersih, serta ruang publik yang mulai memberi tempat bagi aktivitas warga dan perputaran ekonomi masyarakat. Palu yang mereka ceritakan hari ini terasa berbeda dibandingkan dengan kota yang pernah mereka kenal pada masa lalu.
“Luar biasa Kota Palu ini,” seru penulis.
Palu bahkan dikenal sebagai salah satu kota penerima penghargaan Adipura dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar kesempatan melihat perubahan fisik sebuah kota, melainkan juga ruang untuk membicarakan sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana karakter manusia, tata kelola, dan kebiasaan sehari-hari ikut menentukan kualitas kehidupan perkotaan.
Kedua sahabat kita itu bercerita tentang ciri-ciri kota maju, warga yang tertib dan beradab: kota-kota di Jepang.
Jepang dan pelajaran tentang kejujuran
Ketika pembicaraan beralih pada pengalaman mereka selama tinggal di Jepang, Arief dan Lisa seperti menemukan kembali sederet cerita yang sampai sekarang masih membekas.
Bukan terutama tentang teknologi, gedung tinggi, kereta cepat, atau kemajuan ekonomi Jepang, melainkan tentang kebiasaan sederhana yang memperlihatkan betapa seriusnya masyarakat di sana membangun karakter.
Salah satu hal yang paling mereka kagumi adalah kejujuran.
Barang yang hilang dapat dikembalikan, uang yang tercecer tidak serta-merta menjadi milik orang yang menemukannya, dan kelebihan pembayaran tidak dianggap sebagai keuntungan yang pantas dinikmati. Bagi mereka, perilaku semacam ini bukan sekadar tindakan baik seseorang, tetapi bagian dari kebiasaan sosial yang terus dipelihara.
Lisa mengingat pengalaman ketika uang pembayaran kuliahnya ternyata berlebih akibat perubahan nilai tukar.
Setelah tiba di Jepang dan hendak memulai kuliah, ia dipanggil ke kantor untuk menerima kembali uang yang tidak seharusnya dibayarkan. Selisih itu bisa saja luput dari perhatian, tetapi pihak yang mengelola pembayaran memilih mengembalikannya.
Ada pula pengalaman sederhana ketika ia mengirim barang melalui kantor pos. Setelah pengiriman diproses, ternyata terdapat kelebihan pembayaran sekitar 150 yen.
Nilainya tidak besar, tetapi lebih dari seminggu kemudian, petugas kantor pos mendatanginya untuk mengembalikan uang tersebut.
Cerita seperti ini terdengar kecil jika diukur dengan nilai uangnya. Namun, justru di situlah letak pelajarannya.
Kejujuran tidak selalu hadir dalam keputusan besar yang disaksikan banyak orang. Ia tumbuh melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten, bahkan ketika orang lain mungkin tidak akan pernah mengetahui jika seseorang memilih bertindak sebaliknya.
Bagi Arief dan Lisa, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana integritas dapat menjadi bagian dari sistem pelayanan sekaligus karakter individu.
Orang tidak sekadar diharapkan untuk jujur, tetapi hidup dalam lingkungan yang memperlakukan kejujuran sebagai sesuatu yang wajar dan ketidakjujuran sebagai perilaku yang tidak pantas.
Uang hilang, tetapi kepercayaan tetap dijaga
Cerita lain yang mereka kenang berkaitan dengan barang berharga yang tertinggal.
Lisa menceritakan pengalaman ketika sebuah tas berisi uang arisan dan barang berharga lainnya tertinggal setelah kegiatan di sebuah fasilitas layanan. Tas itu kemudian ditemukan dan disimpan di bagian informasi, sehingga pemiliknya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya kembali.
Ada pula cerita tentang dompet dan barang milik orang lain yang ditemukan, lalu diserahkan kepada pihak berwenang. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat mereka memahami bahwa kepercayaan sosial tidak terbentuk hanya melalui imbauan moral, tetapi membutuhkan kebiasaan, mekanisme, dan keteladanan yang bekerja bersama.
Dalam masyarakat yang menempatkan kejujuran sebagai nilai penting, menemukan barang milik orang lain bukanlah kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Sebaliknya, itu menjadi tanggung jawab untuk memastikan barang tersebut kembali kepada pemiliknya.
Arief dan Lisa juga mengingat bagaimana urusan uang kembalian diperlakukan secara serius. Bahkan selisih yang kecil tetap diperhitungkan. Nilai lima atau sepuluh yen mungkin tidak berarti banyak bagi seseorang, tetapi mengabaikannya dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak menghormati hak orang lain.
Mendengar cerita itu, saya teringat betapa sering persoalan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari justru dianggap sepele.
Uang kembalian yang tidak diberikan, kelebihan pembayaran yang dibiarkan, atau barang yang ditemukan lalu disimpan untuk diri sendiri terkadang diperlakukan sebagai hal biasa. Padahal, kebiasaan semacam itu, jika terus berulang, dapat mengikis kepercayaan di antara sesama warga.
Tentu saja, Jepang bukan masyarakat tanpa persoalan. Tidak setiap orang selalu jujur, dan tidak setiap layanan berjalan sempurna. Namun, pengalaman Arief dan Lisa menunjukkan bahwa budaya pelayanan yang tertib, mekanisme pengembalian barang, dan pendidikan karakter dapat membantu membangun lingkungan sosial yang lebih dapat dipercaya.
Disiplin yang membuat kota terasa nyaman
Percakapan kami tidak berhenti pada uang dan barang yang hilang.
Mereka juga bercerita tentang kehidupan sehari-hari di Jepang, termasuk penggunaan transportasi umum, kebiasaan masyarakat ketika memasuki dan meninggalkan stasiun, serta bagaimana aturan sederhana dijalankan dalam ruang bersama.
Dalam ingatan mereka, kenyamanan hidup di Jepang berkaitan erat dengan kedisiplinan dan kesediaan untuk tidak mengganggu orang lain. Ruang publik terasa lebih tertib ketika setiap orang memahami bahwa haknya selalu berhubungan dengan hak orang lain.
Arief mengingat sistem tiket transportasi dan tempat-tempat yang menyediakan mekanisme sederhana bagi penumpang untuk menempatkan atau mengembalikan tiket. Menurut pengalamannya, kebiasaan masyarakat yang mengikuti aturan membuat sistem dapat berjalan tanpa harus selalu bergantung pada pengawasan ketat.
Hal yang menarik bukan semata-mata teknologi yang digunakan, melainkan kepercayaan yang menopang cara kerja sistem tersebut. Sebuah fasilitas dapat dirancang dengan baik, tetapi hasilnya tetap bergantung pada perilaku orang yang menggunakannya.
Kota yang nyaman, dalam pengertian ini, bukan hanya kota dengan jalan lebar atau bangunan modern. Ia juga merupakan kota tempat orang memahami batas, menjaga kebersihan, menghormati antrean, serta menyadari bahwa ruang publik bukan milik pribadi yang boleh diperlakukan sesuka hati.
Pengalaman mereka mengingatkan saya bahwa pembangunan kota membutuhkan dua pekerjaan yang berjalan beriringan. Pemerintah perlu menyediakan infrastruktur dan pelayanan yang memadai, sementara masyarakat perlu membangun kebiasaan yang membuat fasilitas tersebut benar-benar bermanfaat bagi semua orang.


Palu yang terus berbenah
Di Palu, obrolan tentang Jepang kemudian bertemu dengan kenyataan yang kami saksikan sepanjang perjalanan.
Arief dan Lisa menunjukkan kawasan-kawasan yang dahulu mereka ingat sebagai lingkungan yang gelap, becek, atau belum tertata, tetapi kini terlihat lebih baik setelah mengalami perubahan.
Taman, jalan, ruang terbuka, dan fasilitas publik menjadi bagian dari wajah kota yang sedang bergerak menuju lingkungan perkotaan yang lebih nyaman. Beberapa sudut yang sebelumnya terasa biasa saja kini memiliki daya tarik tersendiri, termasuk elemen artistik dan ruang yang dapat dimanfaatkan warga untuk beraktivitas.
Perubahan semacam ini penting karena kualitas kota tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat dari kendaraan yang melintas. Ruang publik yang dirawat dapat mendorong warga berjalan kaki, berolahraga, bertemu, dan membangun hubungan sosial.
Jika dirancang dengan baik, keberadaan ruang tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi pedagang kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kami berbincang tentang bagaimana keramaian di sekitar ruang publik dapat menciptakan perputaran ekonomi. Orang yang datang untuk menikmati taman atau berolahraga mungkin juga membeli makanan dan minuman, berbelanja dari pedagang setempat, atau menggunakan jasa usaha kecil di sekitarnya.
Dengan demikian, pembangunan kota tidak semestinya hanya dinilai dari panjang jalan yang dibangun atau jumlah fasilitas yang diresmikan.
Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah apakah perubahan tersebut membuat warga merasa lebih nyaman, apakah ruang publik digunakan secara luas, dan apakah manfaat ekonomi ikut dirasakan masyarakat di sekitarnya.
Palu memiliki pengalaman sejarah yang tidak ringan, termasuk bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 2018. Jejak bencana masih hadir dalam ingatan warga dan dalam lanskap kota. Di beberapa bagian perjalanan, kami juga menyinggung bangunan yang menyimpan perdebatan mengenai cara terbaik merawat peninggalan sejarah bencana: apakah harus dipertahankan sebagai pengingat atau diubah agar sesuai dengan kebutuhan baru.
Perdebatan semacam itu memperlihatkan bahwa membangun kota bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia juga berkaitan dengan ingatan kolektif, identitas masyarakat, keselamatan, dan pilihan tentang masa depan yang ingin dibangun bersama.

Menata kota, membangun manusia
Dari perjalanan bersama Arief dan Lisa, saya menangkap satu benang merah yang menghubungkan pengalaman mereka di Jepang dengan perubahan yang sedang berlangsung di Palu.
Kota yang baik tidak lahir hanya dari desain yang menarik, fasilitas modern, atau kebijakan pemerintah, tetapi dari hubungan yang kuat antara tata kelola, pelayanan publik, dan perilaku masyarakat.
Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan fasilitas yang layak, memastikan pelayanan berjalan baik, serta menjaga agar ruang publik tetap aman dan terawat. Pada saat yang sama, warga perlu memiliki kesadaran untuk menjaga fasilitas, tidak membuang sampah sembarangan, menghormati hak orang lain, dan mematuhi aturan yang berlaku.
Pendidikan karakter menjadi bagian penting dari proses tersebut. Bagi anak-anak, belajar tentang kejujuran, kemandirian, tanggung jawab, dan etika tidak cukup dilakukan melalui nasihat di ruang kelas. Nilai-nilai itu perlu hadir dalam contoh sehari-hari, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun lingkungan sosial.
Ketika seorang anak melihat orang dewasa mengembalikan barang yang bukan miliknya, membayar sesuai kewajiban, atau mengakui kesalahan dalam sebuah transaksi, ia sedang menyaksikan pendidikan yang bekerja secara nyata. Demikian pula ketika masyarakat melihat petugas melayani secara jujur dan pemerintah merawat fasilitas publik secara konsisten, kepercayaan terhadap institusi dapat tumbuh.
Jepang memberi Arief dan Lisa pengalaman yang terus mereka ingat. Sementara itu, Palu memperlihatkan kepada mereka sebuah kota yang berubah, memperbaiki wajahnya, dan berusaha menyediakan lingkungan yang lebih baik bagi warganya.
Keduanya tentu tidak harus dibandingkan secara sederhana. Setiap kota memiliki sejarah, tantangan, kemampuan, dan jalan pembangunan yang berbeda.
Pelajaran yang dapat diambil bukanlah menyalin seluruh cara hidup Jepang, melainkan memahami nilai-nilai yang dapat diterapkan sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia.
Dalam perjalanan itu, saya melihat bahwa kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kejujuran sesungguhnya saling berhubungan. Jalan yang bersih memerlukan pengelolaan yang baik dan warga yang peduli.

Palu sedang menata wajahnya. Pengalaman Arief Sutte dan Lisa Andriani mengingatkan kita bahwa pekerjaan berikutnya bukan hanya membuat kota semakin modern, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang menopang kehidupan bersama tumbuh dalam keseharian warganya.
Sosodara, kota yang benar-benar maju bukan hanya kota yang enak dipandang, melainkan kota yang membuat orang merasa aman, dihormati, dipercaya, dan memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik. Di situlah pembangunan menemukan maknanya yang paling manusiawi.
___
Palu, 28 Oktober 2026









