Belajar dari Dr. Andi Amri: Alumni Bukan Sekadar Berkumpul, tetapi Membangun Kolaborasi yang Bermakna

  • Whatsapp
Kiri-kanan, Bang Chikon, penulis, Andi Amri dan Iwan Kusnadi yang Argentina banget (dok: Pelakita oleh AI)

Dalam beberapa tahun terakhir, ia aktif mengembangkan kolaborasi antara FIKP Universitas Hasanuddin, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah daerah, perusahaan Jepang, hingga Japan International Cooperation Agency (JICA), terutama pada isu budidaya rumput laut, pengelolaan sampah plastik, serta pembangunan masyarakat pesisir berkelanjutan.

PELAKITA.ID – “Aktiflah di komunitas, jalani hobi, tetapi jangan berhenti pada pertemanan. Yang paling penting adalah memahami makna kolaborasi.”

Kalimat itu meluncur ringan dari Dr. Andi Amri saat kami berbincang di Warkop Phoenam, Makassar. Siang itu kami ditemani Una Sain dan Cang Chikon, sebelum melanjutkan obrolan di Warung Ikan Bakar Cahaya Pangkep, kawasan Kerung-Kerung.

Bagi dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin itu, jejaring tidak pernah dibangun sekadar untuk memperbanyak kartu nama. Kolaborasi harus menghasilkan sesuatu yang nyata, bermanfaat, dan membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Ia kemudian bercerita tentang pengalamannya menjalin hubungan dengan sejumlah kolega di Jepang. Menariknya, sebagian besar hubungan itu tidak bermula dari ruang kuliah, seminar ilmiah, ataupun forum akademik resmi.

“Orang Jepang selalu berpikir efektif, efisien, dan bermakna. Dari situ akhirnya muncul banyak kemungkinan-kemungkinan yang prestisius, atau paling tidak selalu ada sesuatu yang bisa dikerjakan bersama,” ujarnya.

Baginya, jejaring yang sehat justru tumbuh dari kepercayaan antarmanusia. Lembaga memang penting, tetapi sering kali hadir belakangan untuk memperkuat kerja sama yang lebih dahulu dibangun oleh hubungan personal.

“Tanggal 20 Juli saya ke Jepang. Ini buah karena berjejaring. Tidak lewat lembaga formal, meski kemudian di muaranya tetap terhubung karena orang Jepang biasanya ingin basis resminya kemudian,” katanya sambil tersenyum.

“Berapa lama?” tanya penulis

“Beberapa bulan, yang pertama ini hanya beberapa hari lalu balik ke Indonesia, lalu ke sana lagi,” balasnya.

Dia akan ke Tokyo, mungkin Kyota lalu Hiroshima atau Nagasaki. Itu yang penulis ingat.

Diksi ‘kolaborasi bermakna’ Andi Amri itu benam di pikiran. Meriung mencari hakikat di diri, organisasi alumni dan sekitar.

Ucapan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan pelajaran penting bagi alumni perguruan tinggi. Bahwa kesempatan besar tidak selalu datang melalui surat resmi atau undangan formal, melainkan dari relasi yang dipelihara dengan konsisten.

Saya mengenal Andi Amri sejak lama. Alumni Jurusan Budidaya Perikanan angkatan 1990 itu termasuk sosok yang hampir selalu terlihat di koridor Agrokompleks Unhas bersama sahabat seangkatannya dari SMAN 1 Makassar, M. Taswin Munier. Amri adalah alumni SMA 2 Makassar. Keduanya nampak rupawan dan aktivis Himpunan Mahasiswa Perikanan saat itu. Asike!

Amri, Putra Bulukumba ini dikenal bersahaja. Adiknya pun mengikuti jejak keluarga di dunia perikanan dan kini menjadi dosen di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, setelah lulus dari SMAN 1 Makassar angkatan 1992.

Di luar aktivitas akademik, Andi Amri aktif bermain golf, bergabung dalam komunitas Pajero, sekaligus tetap produktif sebagai akademisi. Ia memperlihatkan bahwa dunia kampus tidak harus terpisah dari ruang-ruang sosial masyarakat.

Meski berlatar belakang Budidaya Perikanan, kiprahnya kini banyak mewarnai Departemen Sosial Ekonomi Perikanan FIKP Unhas. Pilihan itu mengingatkan saya pada almarhum dosen kami, Yunus Tamamma, yang mengajarkan bahwa pembangunan perikanan selalu berawal dari manusianya.

Jejak internasional Andi Amri juga tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia meraih gelar doktor (Ph.D.) dari Graduate School of Asian and African Area Studies (ASAFAS), Kyoto University, Jepang, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya pesisir dan pembangunan masyarakat di Asia Tenggara.

Hingga kini ia juga tercatat sebagai Visiting Associate Professor di Kyoto University, sembari terus mengembangkan jejaring riset dan pengabdian bersama berbagai mitra di Jepang.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia aktif mengembangkan kolaborasi antara FIKP Universitas Hasanuddin, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah daerah, perusahaan Jepang, hingga Japan International Cooperation Agency (JICA), terutama pada isu budidaya rumput laut, pengelolaan sampah plastik, serta pembangunan masyarakat pesisir berkelanjutan.

Di situlah letak makna alumni yang sesungguhnya. Bukan sekadar berkumpul saat reuni, saling mengenang masa kuliah, atau bertukar kartu nama.

Alumni adalah mereka yang mampu menghubungkan orang, gagasan, dan kesempatan menjadi kolaborasi yang memberi manfaat bagi banyak pihak.

Bagi Andi Amri, perjalanan ke Jepang bulan ini tampaknya bukan sekadar perjalanan akademik. Ia adalah pengingat bahwa jejaring yang dibangun dengan ketulusan, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk bekerja bersama, yang pada ujungnya akan menemukan jalannya sendiri.

Selamat kepada Iwan Kusnadi dan Argentina yang melaju ke final menemui Cubarsi dkk

__
Penulis Denun, 16 Juli 2026