Bayangkan kalau seluruh anggota datang membawa analisis politik, teori ekonomi, persoalan organisasi dan perdebatan tentang keadaan bangsa. Grup WhatsApp bisa berubah menjadi ruang seminar yang berlangsung 24 jam tanpa moderator dan tanpa uang transport.
PELAKITA.ID – Kalau Anda berada dalam satu grup WhatsApp bersama Iwan Kusnadi, jangan terlalu berharap setiap hari mendapat analisis ekonomi, cerita perbankan, atau perdebatan serius mengenai naik-turunnya dunia keuangan.
Abangda kami ini lebih sering datang membawa suasana berbeda: foto makanan, cerita kuliner, ajakan minum kopi, dan kadang komentar ringan yang segera memancing canda kawan-kawannya.
“Saya itu santai-santai saja di grup WAG. Kita ini sudah tua, saatnya fun-fun saja,” katanya kepada saya dalam sebuah percakapan yang kemudian membuat saya tersenyum sendiri. Mungkin ada benarnya, setelah puluhan tahun hidup dikejar waktu, target, pekerjaan dan berbagai urusan, manusia memang perlu sampai pada fase ketika bertemu kawan dan tertawa menjadi agenda yang sama pentingnya.
Padahal Iwan bukan lelaki yang tumbuh jauh dari dunia serius. Ia alumni SMP Negeri 6 Makassar, kemudian menjadi bagian dari keluarga besar Smansa Makassar, sebelum melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
Perjalanan profesionalnya kemudian membawanya ke dunia perbankan, sebuah lingkungan yang tentu akrab dengan angka, ketelitian, target, risiko dan disiplin.
Keren bukan? Seorang bankir, alumni Fakultas Ekonomi Unhas, senior kami di Smansa Makassar, tetapi hari-hari ini lebih senang mengajak orang ngopi dan membagikan cerita makanan.
Barangkali Iwan telah sampai pada kesimpulan sederhana bahwa curriculum vitae yang panjang tidak selalu harus dibawa ke meja kopi.
Dari percakapan santai dengan Iwan, saya justru menemukan sebuah cerita yang sangat serius. Cerita tentang lingkungan, pengabdian dan seorang bankir yang menggunakan posisi serta sumber daya yang dimilikinya untuk menanam pohon. Nama lelaki itu adalah Andi Onny Tenri Gappa.
“Kami bangga karena ada Puang Onny,” kata Iwan.
Saya menangkap kebanggaan dalam kalimat itu. Iwan pernah bekerja di Panin Bank dan mengenal jejak Puang Onny dalam lingkungan perbankan. Bagi Iwan, sosok seniornya itu bukan hanya bankir yang piawai mengelola bisnis, tetapi seorang manusia yang mempunyai kegelisahan besar terhadap kondisi lingkungan.

Seorang Bankir Bernama Puang Onny
Saya kemudian mencari lebih banyak cerita tentang Puang Onny. Penelusuran membawa saya pada sosok Andi Tenri “Onny” Gappa, seorang bankir yang pernah memimpin Panin Bank di Sulawesi Selatan dan kemudian dikenal sebagai pimpinan Panin Bank Kawasan Timur Indonesia.
Ia juga pernah dipercaya memimpin Perbanas Sulawesi Selatan dalam perjalanan kariernya.
Rupanya dunia perbankan hanya satu sisi dari perjalanan hidup Puang Onny. Sisi lainnya justru tumbuh bersama tanah, bibit dan pohon-pohon trembesi yang ditanamnya.
Begitu kuat kegemarannya melakukan penghijauan sehingga ia dikenal sebagai Bapak Trembesi Indonesia. Kiprahnya bahkan pernah membawanya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan pada Januari 2010.
Saya lalu memahami mengapa Iwan mengatakan mereka bangga mempunyai Puang Onny. Dalam dunia korporasi, kita mungkin mudah menemukan orang yang pandai menghitung keuntungan, menyusun target, memperluas pasar dan membaca neraca. Tetapi berapa banyak pimpinan perusahaan yang benar-benar jatuh cinta kepada pohon?
Kisah tentang Puang Onny semakin menarik ketika saya membaca kenangan mengenai pertemuannya dengan Doni Monardo. Di ruang kerja sang bankir, foto-foto yang mendapat tempat istimewa justru memperlihatkan pohon trembesi. Pohon itu seolah menjadi bagian penting dari identitas personal seorang Onny Gappa.
Ketika Doni Monardo ingin menghijaukan kawasan Brigif Kariango yang saat itu digambarkan tandus, Puang Onny memberikan dukungan luar biasa.
Sekitar 20 ribu bibit trembesi disebut disumbangkan untuk membantu penghijauan kawasan tersebut. Bibit-bibit kecil itu kemudian tumbuh dan menjadi bagian dari jejak panjang gerakan penghijauan di Sulawesi Selatan.
Bayangkan, 20 ribu bibit.
Bagi sebagian orang, pohon mungkin hanya angka dalam laporan tanggung jawab sosial perusahaan. Berapa bibit dibagikan, berapa orang hadir, berapa spanduk dipasang, lalu berapa foto dikirim kepada media. Setelah seremoni selesai, orang-orang pulang dan kadang tidak pernah bertanya lagi apakah pohon itu hidup atau mati.
Puang Onny tampaknya datang dari jenis manusia yang berbeda.
Ia bukan sekadar menghadiri acara penanaman pohon, memegang sekop, tersenyum ke arah kamera, lalu kembali ke ruangan berpendingin udara. Dari cerita yang tersedia mengenai dirinya, kecintaan kepada trembesi telah menjadi bagian dari jalan hidupnya.
Ketika CSR Memiliki Seorang Pejuang
Cerita Iwan tentang Puang Onny membuat saya memikirkan praktik CSR hari ini. Kita mempunyai banyak perusahaan, bank dan korporasi besar dengan laporan keberlanjutan yang semakin tebal dan desain semakin menarik. Istilah ESG, green financing, keberlanjutan dan perubahan iklim juga semakin mudah ditemukan dalam presentasi korporasi.
Tetapi pertanyaannya sederhana: di mana para pejuangnya?
Di mana orang-orang di dalam perusahaan yang benar-benar bersedia mewakafkan sebagian waktu, pikiran, jaringan dan sumber dayanya untuk lingkungan? Bukan karena diminta oleh bagian komunikasi perusahaan, bukan karena indikator penilaian, tetapi karena memang mempunyai kegelisahan pribadi melihat bumi yang semakin kehilangan pohon.
Puang Onny adalah contoh tentang pentingnya seorang champion di dalam organisasi. Satu orang yang memiliki keyakinan kuat kadang mampu menggerakkan sumber daya jauh lebih besar daripada sekadar dokumen kebijakan.
Ia mengajak orang lain percaya bahwa menanam pohon adalah investasi untuk kehidupan yang mungkin hasilnya justru dinikmati generasi setelah kita.
Panin Bank, tempat Iwan pernah bekerja dan tempat nama Puang Onny dikenang, merupakan salah satu bank swasta lama di Indonesia. Secara resmi bernama PT Bank Pan Indonesia Tbk, bank tersebut berdiri pada 1971 dan pada 1982 menjadi bank pertama di Indonesia yang mencatatkan sahamnya di bursa.
Bagi Iwan Kusnadi, saya kira Panin Bank juga menyimpan memori lain. Ada kenangan tentang seorang senior bernama Puang Onny yang menunjukkan bahwa seorang bankir dapat berbicara tentang kredit dan bisnis pada satu waktu, lalu memikirkan bibit trembesi dan penghijauan pada waktu lainnya.
“Kami bangga karena ada Puang Onny.”
Kalimat Iwan terus terngiang.
Iwan dan Seni Menikmati Pertemanan
Saya kemudian kembali memikirkan Iwan sendiri. Senior kami di Smansa Makassar ini tampaknya sedang menikmati satu fase kehidupan ketika jabatan dan masa lalu profesional tidak perlu selalu diceritakan.
Ia lebih suka hadir sebagai kawan yang mengajak ngopi, membagikan foto kuliner, lalu membuat grup WhatsApp sedikit lebih riuh.
Mungkin orang-orang seperti Iwan memang dibutuhkan dalam sebuah grup.
Bayangkan kalau seluruh anggota datang membawa analisis politik, teori ekonomi, persoalan organisasi dan perdebatan tentang keadaan bangsa. Grup WhatsApp bisa berubah menjadi ruang seminar yang berlangsung 24 jam tanpa moderator dan tanpa uang transport.
Iwan memilih jalan lain. Makanan difoto, kopi dipesan, kawan diajak berkumpul, kemudian cerita lama perlahan keluar.
Dari cerita-cerita ringan seperti itulah kadang kita menemukan nama orang yang nyaris terlupakan, padahal jejak kehidupannya masih berdiri dalam bentuk pohon-pohon besar di berbagai tempat.
Andi Tenri Gappa meninggal dunia pada 10 Oktober 2014. Perjalanan hidupnya kemudian diabadikan M. Kiblat Said melalui buku Hidup Penuh Arti. Ia dikenang sebagai sosok yang tekun memperjuangkan penghijauan dan bersedia turun langsung menanam pohon di tengah kesibukannya sebagai pimpinan bank.
Puang Onny telah pergi, tetapi pohon mempunyai cara sendiri untuk menyimpan kenangan. Trembesi yang tumbuh tidak bisa bercerita siapa yang dahulu membawa bibitnya, siapa yang mengeluarkan biaya, atau siapa yang berdiri kepanasan memastikan pohon itu ditanam.
Karena itulah manusia membutuhkan cerita.
Dan kali ini, cerita tentang Puang Onny sampai kepada saya melalui Iwan Kusnadi, abangda kami, alumni SMP 6, Smansa Makassar dan Fakultas Ekonomi Unhas. Seorang mantan bankir yang kini tampaknya lebih senang membagikan foto makanan, mengajak kawan ngopi dan menikmati canda.
“Saatnya fun-fun saja,” katanya.
Iya, Bang Iwan.
Mari kita fun-fun. Mari ngopi dan tertawa. Tetapi sesekali, ceritakanlah lagi orang-orang seperti Puang Onny kepada kami.
Ketika kita sedang menikmati kopi dan bercanda, di suatu tempat pohon-pohon yang dahulu ditanamnya masih terus tumbuh, menaungi orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenal nama sang penanam.
___
Tamarunang, 14 Juli 2026









