Bang Chikon bercerita tentang ikhtiarnya mengurangi nasi. Ia menyebutnya sebagai upaya “mencoba sehat tanpa nasi”. Saya memandang dua butir telur di depannya dan mulai percaya bahwa abangda kami ini memang sedang serius menjalankan strategi hidup sehat. Masalahnya, ada satu indikator yang tampaknya belum sepenuhnya mengikuti teori.
PELAKITA.ID – Warkop Phoenam, 13 Juli 2026. Saya baru saja tiba di warkop legendaris Makassar di Jalan Boulevard ketika suara Asdar Tukan menyambut dari salah satu meja. “Silakan, Denun.”
Saya mendekat. Bersamanya ada Pahir Halim, mentor saya di LP3M Ujung Pandang nun lampau, orang yang pernah membawa saya mengenal advokasi lingkungan dari ruang diskusi hingga pulau-pulau di Selayar.
Asdar Tukan, atau Bang Chikon. Begitu saya menyapanya: Bang Chik. Sudah sembilan purnama kami menyusun siasat sederhana tetapi selalu gagal diwujudkan, yakni menuju Cahaya Pangkep demi mengejar parru juku.
Terakhir saya menikmati PR—begitulah kami menyingkat parru juku—bersama Nawa Cassanova tahun lalu. Sejak itu rencana makan bersama Bang Chik lebih banyak menjadi wacana tingkat tinggi.
Pagi menjelang siang itu, Bang Chikon menikmati kopi sambil mengunyah dua butir telur. Saya memperhatikan ritual makannya yang tampak sederhana.
“Tidak makan nasi saya,” katanya. Rupanya inilah salah satu resep yang sedang ia jalankan untuk tetap sehat dan, mungkin, menjaga penampilan agar terus terlihat muda.
Tidak lama kemudian datang Andi Amri, dosen Budidaya Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas. Kalau Bang Chikon adalah alumni Komunikasi Unhas angkatan 1987, Amri dari Perikanan angkatan 1990, sementara saya Kelautan 1989. Lengkaplah meja itu sebagai pertemuan lintas angkatan yang dipersatukan kopi dan rencana menyerbu parru juku.
Bang Chikon sendiri adalah anak tentara. Ayahnya mengakhiri karier militer dengan pangkat Letnan Kolonel. Dari cerita keluarga, leluhurnya berakar dari Enrekang.
Mungkin ada kombinasi disiplin barak dan karakter pegunungan dalam dirinya, meski pagi itu saya lebih banyak menemukan seorang Chikon yang santai, banyak cerita dan mudah melempar kelakar.
Di meja lain, Kak Pahir duduk bersama dua sosok yang saya kenal sebagai pilar Golkar Makassar. Nama mereka tidak perlu saya tuliskan di sini.
Bang Chikon hanya memberi penjelasan pendek bahwa keduanya adalah tokoh senior. Cukup. Di warung kopi, kadang kita memang harus tahu batas antara cerita yang boleh dibawa pulang dan percakapan yang sebaiknya tetap tinggal bersama aroma kopi.

Baku Tahu dengan Ustaz
Sebagai alumni Ilmu Komunikasi Unhas, Bang Chikon tampaknya tidak pernah benar-benar jauh dari dunia komunikasi dan jejaring. Linimasa media sosialnya kerap memperlihatkan dirinya bersama ustaz kondang Das’ad Latif.
Pagi itu ia bercerita bahwa dirinya dan sang ustaz sudah “baku tahu”—istilah Makassar untuk hubungan yang sudah saling mengenal dengan baik.
Cerita kemudian mengalir mengenai agenda Ustaz Das’ad Latif, pengalaman bersama, kisah-kisah semasa kampus, hingga jejaring dengan sejumlah tokoh di Sulawesi Selatan dan Jakarta. Bang Chikon bercerita seperti orang membuka album lama, satu nama membawa nama lain, satu peristiwa memancing kisah berikutnya.
Kalau membilang hari-harinya antara Makassar dan Jakarta, saya menduga Bang Chikon lebih banyak ditemukan di Jakarta. Pergaulannya membawanya bersentuhan dengan banyak tokoh. Tetapi ketika kembali ke Makassar, warkop seperti Phoenam tampaknya tetap menjadi terminal sosial yang penting.
“Kau lihat ini Amri?” tunjuk Bang Chik ke foto di gadget-nya.
“Siapa itu?” tanyaku.
“Inimi.” balasnya.
Perbincangan selesai.
Di tempat seperti inilah informasi beredar dengan kecepatannya sendiri. Tidak membutuhkan konferensi pers. Kadang cukup kopi, telur rebus, dan seseorang yang berkata, “Jangan ditulis dulu ini, nah.”
Saya mengerti.
Tidak Makan Nasi, tetapi Perut Tetap Oval
Percakapan kemudian kembali kepada urusan yang lebih penting bagi lelaki seusia kami: kesehatan.
Bang Chikon bercerita tentang ikhtiarnya mengurangi nasi. Ia menyebutnya sebagai upaya “mencoba sehat tanpa nasi”. Saya memandang dua butir telur di depannya dan mulai percaya bahwa abangda kami ini memang sedang serius menjalankan strategi hidup sehat.
Masalahnya, ada satu indikator yang tampaknya belum sepenuhnya mengikuti teori.
Perut.
Bang Chikon sendiri mengaku heran. Nasi sudah dikurangi, tetapi bentuk perut relatif stabil. Ovalnya masih terjaga dengan konsisten, seolah mempunyai mekanisme pertahanan sendiri terhadap perubahan pola makan.
“Tidak baik tong kalau kita kurus,” katanya.
Saya tertawa. Itu pembelaan yang sangat Makassar. Kalau program diet tidak memberikan hasil sesuai target, jangan salahkan programnya. Ubah saja indikator keberhasilan.
Menurutnya rezeki itu sudah ada yang atur, tidak perlu kasak-kusuk mencari sandaran. Nikmati hidup, kurangi ekspektasi. Dia pun bercerita kalau dirinya banyak dihubungi orang demi bertemu Ustaz Das’ad Latif. Hal yang disebutnya tidak terlalu dekat, tapi baku tahu.
“Baku tahuji kita ini, kalau saya bisa bantu, kubantu,” katanya diplomatis.
“Nikmati saja hidup Denun, kita ke Cahaya Pangkep sebentar ya,”pesannya ke penulis.
Mungkin di situlah resep awet muda Bang Chikon. Bukan semata-mata mengurangi nasi, bukan pula dua butir telur atau secangkir kopi tetapi menikmati segala yang ada.
Rahasianya boleh jadi adalah kemampuan menertawakan diri sendiri, bertemu banyak orang, menyimpan cerita, dan tidak terlalu sibuk memasang wajah serius.
“Keren memang Bang Chik, gelasnya pun di Phoenam ada kode khusus, ada tulisan BC,” seloroh Andi Amri yang katanya akan ke Jepang tanggal 20 Juli 2026 untuk urusan riset.
Bang Chik mengeluarkan sejumlah obat, tablet.
Saya mendehem.
Hilal Musda Sudah Kelihatan?
Tentu saja, berada semeja dengan Bang Chikon membuat percakapan politik sulit dihindari. Apalagi Musyawarah Daerah Golkar Sulawesi Selatan menjadi salah satu agenda yang diperkirakan bakal ramai. Nama, dukungan dan jaringan tentu akan bergerak. Dalam politik, keramaian kadang sudah dimulai jauh sebelum palu sidang diketuk.
Bang Chikon punya cara sendiri membaca situasi.
Baginya, Musda boleh saja ramai. Orang boleh menghitung kekuatan dan menebak arah dukungan. Tetapi seperti orang menunggu awal bulan dalam kalender Hijriah, ia melihat “hilal” itu sepertinya sudah mulai tampak.
Kepada siapa “barang ini” akan diserahkan?
Bang Chikon tersenyum dengan cerita dan analisisnya sendiri. Saya tidak perlu menuliskan seluruh isi percakapan kami. Sebagian kisah memang saya masukkan ke dalam lemari bernama off the record.
Ia juga bercerita tentang Golkar Makassar, relasi Bahlil dengan sejumlah tokoh Golkar Sulawesi Selatan, dan beberapa cerita dari balik panggung politik yang tentu lebih sedap daripada telur rebus di meja kami.
“Saya pernah Wakil Ketua Golkar, nah,” katanya.
Ada sedikit nada mengenang di sana. Bang Chikon menyadari, itulah salah satu posisi puncaknya dalam struktur partai sebelum kemudian tidak lagi berada di dalam barisan.
Tetapi ia bercerita tanpa nada getir. Setidaknya begitu yang saya tangkap. Politik mungkin telah memberinya banyak pengalaman, pertemanan, juga cerita yang tidak semuanya dapat ditulis. Kini ia seperti menikmati posisi sebagai pengamat yang masih mempunyai banyak nomor telepon dan pintu percakapan.
Saya Hanya Memikirkan Parru Juku
Bang Chikon terus bercerita. Tentang Jakarta, Makassar, Golkar, Bahlil, tokoh-tokoh Sulsel, Ustaz Das’ad Latif, kampus dan jejaring lama. Saya mendengar dengan saksama. Sesekali bertanya, lebih sering tertawa.
Tetapi saya harus mengakui satu hal.
Pikiran saya mulai tidak fokus.
Sudah sembilan purnama kami merencanakan perjalanan kuliner ini. Cahaya Pangkep dan parru juku seperti sebuah janji yang terlalu lama digantung. Saya mulai khawatir percakapan politik akan berkembang menjadi seminar nasional dan makan siang kembali ditunda.
Saya melirik Bang Chikon.
Kopi sudah diminum. Dua telur sudah dikunyah. Teori hidup tanpa nasi sudah dijelaskan. Hilal Musda Golkar Sulsel sudah diteropong. Cerita off the record sudah saya kunci rapat-rapat.
Cukuplah.
Bang Chik, cuz mi.
Parru juku menunggu.
Denun, di Tamarunang.









