Media Reuters bahkan menggambarkan dominasi mereka sebagai “anaconda grip”—cengkeraman anaconda yang perlahan menghilangkan ruang hidup lawan. Spanyol menekan tanpa henti, menguasai fase-fase penting permainan, dan membatasi serangan Prancis yang dipenuhi pemain kelas dunia. Mbappé dan rekan-rekannya hanya mampu menghasilkan dua tembakan tepat sasaran.
PELAKITA.ID – Kemenangan 2-0 atas Prancis bukan sekadar tiket ke final Piala Dunia. Spanyol telah menemukan kembali identitas sepak bolanya—lebih agresif, lebih berani, dan mungkin lebih berbahaya dibanding generasi juara dunia 2010.
Kepercayaan diri Spanyol setelah menyingkirkan Prancis 2-0 tidak semata-mata lahir dari euforia mencapai final Piala Dunia. Ada alasan historis, psikologis, dan terutama taktis yang membuat generasi La Roja saat ini mulai terlihat sebagai awal dari sebuah era emas baru sepak bola Spanyol.
Spanyol telah melewati perjalanan panjang bersama Piala Dunia. Dalam 17 kali penampilannya di turnamen terbesar sepak bola tersebut, La Roja selama puluhan tahun justru dikenal sebagai salah satu tim besar yang kerap gagal memenuhi ekspektasi.
Sebelum 2010, pencapaian terbaik mereka hanyalah peringkat keempat pada Piala Dunia 1950. Spanyol hampir selalu datang membawa pemain-pemain dengan kemampuan teknik luar biasa. Namun, perjalanan mereka berulang kali berakhir di perempat final atau fase awal babak gugur.
Semua berubah di Afrika Selatan pada 2010.
Generasi Iker Casillas, Carles Puyol, Sergio Ramos, Xavi Hernández, Andrés Iniesta, Xabi Alonso, dan David Villa mengubah sejarah sekaligus identitas sepak bola Spanyol. Di bawah Vicente del Bosque, La Roja merebut gelar Piala Dunia pertama setelah mengalahkan Belanda 1-0 melalui gol Iniesta pada laga final.
Kemenangan tersebut menjadi bagian dari periode paling luar biasa dalam sejarah sepak bola internasional modern. Spanyol menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 secara beruntun. Kejayaan itu kemudian meninggalkan bayang-bayang panjang.

Spanyol tersingkir di fase grup Piala Dunia 2014. Empat tahun kemudian, perjalanan mereka berhenti di babak 16 besar. Nasib serupa kembali terjadi pada Piala Dunia 2022. Karena itu, keberhasilan mencapai final Piala Dunia 2026 memiliki arti historis yang sangat besar. Untuk pertama kalinya sejak 2010, Spanyol kembali berdiri hanya satu pertandingan dari trofi paling bergengsi dalam sepak bola.
Sosodara, ada sesuatu yang berbeda dari Spanyol kali ini. Tim asuhan Luis de la Fuente tidak terlihat seperti sebuah generasi yang sedang mencari identitas. Mereka justru bermain seperti tim yang sangat memahami siapa diri mereka.
Kepercayaan diri itu antara lain lahir dari memori kemenangan yang masih sangat segar. Spanyol datang ke Piala Dunia sebagai juara Eropa. Lebih penting lagi, kelompok pemain ini telah berulang kali menghadapi dan mengalahkan lawan-lawan elite.
Prancis memahami hal tersebut sebelum semifinal dimulai. Spanyol telah menyingkirkan Les Bleus di Euro 2024 dan kembali mengalahkan mereka pada semifinal UEFA Nations League 2025.
Karena itu, Spanyol tampaknya tidak memasuki pertandingan melawan Prancis dengan pertanyaan: bagaimana menghentikan Kylian Mbappé? Pertanyaan mereka mungkin justru sebaliknya: mampukah Prancis bertahan menghadapi sepak bola kami?
Perbedaan psikologis itu sangat penting. Melawan Prancis, Spanyol menunjukkan kemampuan mengontrol pertandingan layaknya sebuah klub yang berlatih bersama sepanjang musim.
Media Reuters bahkan menggambarkan dominasi mereka sebagai “anaconda grip”—cengkeraman anaconda yang perlahan menghilangkan ruang hidup lawan. Spanyol menekan tanpa henti, menguasai fase-fase penting permainan, dan membatasi serangan Prancis yang dipenuhi pemain kelas dunia. Mbappé dan rekan-rekannya hanya mampu menghasilkan dua tembakan tepat sasaran.
Di sinilah keunggulan terbesar Spanyol terlihat. Sehat selalu Cucurella yang sungguh dahsyat.
Tim nasional biasanya memiliki waktu persiapan terbatas. Pelatih tidak memiliki kemewahan bekerja bersama pemain setiap hari seperti di level klub. Namun, Spanyol bermain seperti sebuah tim yang telah membangun mekanisme permainan selama bertahun-tahun.
Rodri mengatur ritme. Fabián Ruiz menjaga kontrol di lini tengah. Dani Olmo bergerak di antara ruang. Sementara Lamine Yamal membuka lapangan sekaligus merusak struktur pertahanan lawan.
Ketika kehilangan bola, reaksi pertama pemain Spanyol bukan mundur. Mereka memburu bola itu kembali.
Penguasaan bola, dengan demikian, bukan sekadar ornamen statistik. Bola menjadi senjata pertahanan. Prancis tidak dapat melepaskan Mbappé dalam transisi jika mereka tidak mampu merebut dan mengalirkan bola secara konsisten.
Sosodara, ada satu pemain yang membuat Spanyol generasi ini berbeda dibandingkan tim juara dunia 2010.
Namanya Lamine Yamal.
Spanyol 2010 mengontrol lawan dengan sangat baik. Xavi, Iniesta, dan Sergio Busquets mampu membuat pertandingan bergerak sesuai keinginan mereka. Tetapi pada beberapa pertandingan, tim tersebut juga kesulitan menciptakan penetrasi langsung.
Lamine memberikan sesuatu yang berbeda kepada Spanyol saat ini: kekacauan di dalam sebuah sistem yang sangat terorganisasi.
Melawan Prancis, pergerakannya memaksa pertahanan lawan terus menyesuaikan posisi. Kemampuan menggiring bola dan menyerang dalam situasi satu lawan satu membuat bek tidak pernah benar-benar nyaman. Dari aksinya pula lahir pelanggaran yang menghasilkan penalti Mikel Oyarzabal.
Bahkan ketika tidak mencetak gol, Lamine mengubah cara lawan bertahan. Secara sederhana, Rodri seolah berkata kepada tim: tenang, kita kendalikan pertandingan. Lamine datang membawa pesan berbeda: berikan bola kepada saya, saya akan menyerang mereka.
Kombinasi antara kontrol dan improvisasi itulah yang membuat Spanyol sangat sulit dihentikan.
Kepercayaan diri La Roja juga tidak hanya hidup dalam sebelas pemain utama. Mikel Merino menjadi contoh paling jelas tentang kedalaman skuad Spanyol.
Saat menghadapi Belgia, Merino masuk dari bangku cadangan dan hanya membutuhkan dua menit untuk mencetak gol kemenangan. Itu merupakan gol kemenangan ketiganya pada fase gugur sebagai pemain pengganti di bawah De la Fuente.
Situasi tersebut memperlihatkan kekuatan psikologis sebuah tim juara. Pemain cadangan tidak masuk ke lapangan sekadar untuk menggantikan pemain yang kelelahan. Mereka masuk dengan keyakinan bahwa mereka mungkin menjadi pemain yang menentukan nasib Spanyol di Piala Dunia.
De la Fuente berhasil membangun sebuah skuad yang menerima peran masing-masing, tetapi tetap merasa penting bagi tim. Hasilnya terlihat dalam konsistensi yang luar biasa.
Setelah mengalahkan Prancis, Spanyol memperpanjang catatan menjadi 37 pertandingan tanpa kekalahan dalam waktu normal sejak Maret 2024. Unai Simón juga telah mencatat enam clean sheet sepanjang Piala Dunia 2026.
Artinya, kemenangan 2-0 atas Prancis bukan sebuah malam ajaib yang berdiri sendiri. Kemenangan itu adalah bagian dari pola.
Pada fase gugur, Spanyol mengalahkan Austria 3-0, Portugal 1-0, Belgia 2-1, dan kemudian Prancis 2-0 (penulis malah memprediksi mereka bisa melibas Prancis 2-0). Kenapa begitu jumawa? Sebab Spanyol telah menunjukkan berbagai wajah dalam satu turnamen. Yamal, Oyarzabal, hingga Cucurella dan Simon yang sungguh padu.
Spanyol bisa mendominasi. Mereka bisa menderita. Mereka bisa menang tipis. Ketika diperlukan, mereka mampu mencekik permainan salah satu favorit juara hingga hampir kehilangan seluruh ancaman ofensifnya.
Di sinilah alasan terbesar mengapa Spanyol terlihat begitu percaya diri. Mereka tampaknya telah menemukan kembali identitas sepak bolanya. Generasi 2010 seolah berkata kepada lawan: kami akan mempertahankan bola sampai kalian menyerahkan ruang.
Generasi 2026 membawa pesan yang sedikit berbeda: kami akan menguasai bola, memburu kalian ketika bola hilang, lalu memberikan bola kepada Lamine untuk menyerang secara langsung.
Spanyol tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang Xavi dan Iniesta. Mereka juga tidak sedang mencoba membuat replika tim 2010. Generasi ini telah membangun identitas baru yang cukup kuat untuk mengingat kejayaan masa lalu tanpa harus menirunya.
Itulah mungkin pencapaian terbesar Luis de la Fuente.
Empat belas tahun setelah era emas lama berakhir, Spanyol kembali memiliki sebuah tim yang percaya sepenuhnya pada cara mereka bermain. Setelah membungkam Prancis 2-0, La Roja kini hanya berjarak satu pertandingan dari sejarah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, bintang kedua di atas lambang Spanyol terasa bukan lagi sebuah nostalgia atau impian. Bintang itu kini benar-benar berada dalam jangkauan.
___
Tamarunang, 15 Juli 2026









