Di negeri yang kadang terlalu ramai oleh orang-orang yang ingin memperdengarkan musiknya sendiri, kemampuan menyadari bahwa orang lain juga punya selera mungkin adalah salah satu bentuk paling sederhana dari demokrasi.
Oleh: Kamaruddin Azis
PELAKITA.ID – Nama Pahir Halim bagi saya bukan pertama-tama tentang Komisi Informasi Sulawesi Selatan. Bukan pula tentang KPU Kota Makassar, HMI, atau deretan jabatan organisasi yang pernah dilekatkan kepadanya.
Kemarin, Senin, 13 Juli 2026, dia duduk bersama dua pengunjung Phoenam. Beliau adalah pelanggan setia warkop legendaris yang ada di bilangan Jl. Boulevard Makassar.
“Eh, Oci…” sapanya. Oci adalah panggilannya ke saya lantaran saat aktif ber-Single Side Band, saya pakai nama itu. Ha-ha-ha.
Pulau Rajuni Taka Bonerate tahun 90-an pertengahan hanya bisa dilalui hubungan SSB, belum ada koneksi GSM atau internet. GSM bisa beroperasi tahun 2002, tepat saat anak kedua saya lahir.
Kembali ke Kak Pahir. Pagi itu, saya bersama Bang Chikon Asdar Tukan, Iwan Kusnadi, Andi Amri dan Sunarti Sain.
Kenal kan mereka? Kepada ketiga sahabat saya ini saya berjanji untuk menulis sekurangnya lima judul tulisan karena ada di Phoenam bersama mereka dan tentu sejumlah cerita yang meriung.
Ini yang pertama.
Jadi, bagi saya, Kak Pahir adalah salah seorang mentor pertama ketika saya mulai mengenal dunia kerja, advokasi, dan kehidupan organisasi nonpemerintah. Saya mengenalnya lebih dekat pada 1996, ketika pertama kali bekerja di Lembaga Pengkajian Pedesaan, Pantai dan Masyarakat atau LP3M Ujung Pandang. LP3M adalah LSM paling ngehits kala itu karena dikawal sejumlah tokoh pergerakan Makassar. Sebagian besar adalah aktivis HMI.
Saat itu saya masih sangat muda atau baru 2 bulan setelah wisuda Desember 1995 dan ditawari bekerja di LP3M oleh Kak Sufri Laude. Saya baru memasuki sebuah dunia yang kelak banyak membentuk perjalanan hidup: tinggal di komunitas pesisir, lingkungan, pemberdayaan, pelatihan, dan advokasi.
LP3M ketika itu adalah salah satu kawah candradimuka bagi banyak aktivis dan pekerja sosial di Sulawesi Selatan. Lembaga ini tumbuh dari gagasan dan kontribusi sejumlah nama penting. Ada Prof Kustiah, Arief Wangsa hingga Marwah Daud Ibrahim.
Di dalamnya berkumpul orang-orang dengan karakter dan kemampuan yang berbeda.
Kak Pahir Halim adalah Koordinator Bidang Advokasi Lingkungan. Syamsu Alam Hamid menjadi salah satu rujukan kami dalam urusan pelatihan dan manajemen kelompok. Ada Kak Suri, Syansuri Ismail, yang piawai melobi dan membuka jalan bagi program.
Direktur kami ketika itu, Sufri Laude, adalah motivator. Ia memberi ruang kepada kami untuk berpikir dan menyusun program secara kreatif. Kak Sufri juga dikenal memiliki kemampuan kuat dalam manajemen organisasi nirlaba.
Ada pula Sujahri Van Gobel. Saya hanya sempat beberapa kali bersua dengannya sebelum ia melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dan kemudian Amerika. Nama-nama lain masih teringat: Ramli Malik, Abu Bakar, Burhan Mananring, dan banyak lagi.
Itulah lingkungan tempat saya belajar. Kak Pahir adalah salah seorang yang pertama membawa saya masuk lebih jauh ke lapangan.
Sebuah Bus Menuju Selayar
Awal 1996, saya mendapat penugasan ke Selayar bersama Kak Pahir. Kami berangkat menggunakan Bus Mahkota. Saya masih ingat satu kejadian kecil dalam perjalanan itu. Kecil, tetapi entah mengapa bertahan hampir tiga dekade dalam ingatan saya.
Mungkin ketika itu ada urusan musik di dalam bus. Sebagai anak muda, tentu saja kita merasa selera musik sendiri adalah selera terbaik di dunia. Kak Pahir lalu berkata kurang lebih begini:
“E, jangan anda punya selera musik mau digunakan di bus ini. Siapa tahu penumpang lain ada tong seleranya.”
Saya tidak ingat lagi susunan kalimatnya secara persis. Tetapi saya mengingat pesannya. Jangan memaksakan selera sendiri di ruang bersama.
Belakangan saya merasa, itu bukan semata pelajaran tentang musik di dalam Bus Mahkota. Itu adalah pelajaran sederhana tentang hidup bermasyarakat. Tentang mendengar. Tentang menyadari keberadaan orang lain. Tentang tidak menganggap apa yang kita sukai otomatis harus disukai semua orang.
Bukankah advokasi pada akhirnya juga tentang itu?
Kita datang kepada masyarakat bukan untuk memutar “musik” kita sendiri dengan volume paling keras. Kita datang untuk mendengar apa yang sedang mereka dengarkan, apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka anggap penting.
Belajar Advokasi dari Pulau ke Pulau
Bersama Kak Pahir, saya kemudian mengenal sejumlah orang di Selayar. Ada Andi Mappagau dan Bupati Akib Patta. Nama-nama yang membawa ingatan saya kembali pada masa ketika perjalanan lapangan belum ditemani telepon pintar, Google Maps, atau grup WhatsApp.
Salah satu pengalaman paling menyenangkan adalah ketika kami menggelar pelatihan penyadaran konservasi. Kami bergerak ke Pulau Jinato, Pulau Rajuni, dan Kota Benteng.
Bagi saya yang berlatar belakang ilmu kelautan, pengalaman itu seperti menemukan ruang belajar baru. Saya mulai memahami bahwa konservasi tidak cukup dijelaskan melalui ikan, terumbu karang, mangrove, atau ekosistem.
Konservasi adalah tentang manusia. Ada kepentingan. Ada pengetahuan lokal. Ada kebiasaan. Ada relasi kekuasaan. Ada cara orang memandang sumber daya yang telah menopang kehidupan keluarganya selama bertahun-tahun.
Di situlah Kak Pahir menjadi mentor.
Ia mengajarkan advokasi lingkungan bukan sebagai pekerjaan berteriak paling keras. Advokasi membutuhkan kemampuan membaca keadaan, memahami aktor, membangun argumentasi, dan mengetahui kapan harus berbicara serta kapan sebaiknya mendengar.
Saya belajar dari cara ia berinteraksi.
Tidak selalu melalui ruang kelas. Tidak pula lewat modul pelatihan yang tebal.
Kadang pelajaran itu muncul di perjalanan. Di ruang pertemuan desa. Di sela percakapan dengan masyarakat. Bahkan di dalam Bus Mahkota menuju Selayar.
LP3M dan Generasi yang Belajar
Jika saya mengenang LP3M Ujung Pandang hari ini, saya membayangkannya sebagai sebuah laboratorium sosial. Kami belajar dari orang-orang dengan keahlian berbeda.
Dari Kak Pahir saya mengenal advokasi lingkungan. Dari Syamsu Alam Hamid, kami melihat pentingnya pelatihan dan penguatan manajemen kelompok. Dari Kak Suri, saya belajar bahwa program yang baik juga membutuhkan kemampuan membangun komunikasi dan meyakinkan banyak pihak. Ada juga Kak Ono, yang arsitek.
Sementara Kak Sufri Laude memberikan ruang bagi kreativitas. Ia seperti mengatakan kepada anak-anak muda di sekelilingnya: berpikirlah, susunlah gagasan, dan jangan takut membuat program.
Mungkin karena ekosistem seperti itulah banyak dari kami kemudian berjalan ke berbagai arah. Ada yang tetap di dunia organisasi nonpemerintah. Ada yang masuk pemerintahan. Ada yang menjadi akademisi. Ada yang bekerja dalam program pembangunan. Ada pula yang bergerak di media dan berbagai ruang pengabdian lainnya.
Kak Pahir sendiri kemudian menempuh perjalanan panjang.
Ringkasan profil Pahir Halim
- Lahir: Pinrang, 24 Desember 1962
- Alumni Fakultas Hukum Unhas, lulus 1988; disebut alumni angkatan 1981.
- Ketua HMI Cabang Makassar 1986–1988
- Wakil Direktur LP3M Sulsel 1988–1996
- Koordinator Eksekutif FIK-ORNOP Sulsel 2000–2003
- Komisioner KPU Kota Makassar 2003–2008
- Konsultan Komunikasi PDAM Kota Makassar 2009–2014
- Ketua Komisi Informasi Provinsi Sulsel dua periode, 2015–2023
- Aktif di KAHMI Wilayah Makassar
Dari aktivisme organisasi nonpemerintah, ia masuk ke ruang penyelenggaraan pemilu sebagai anggota KPU Kota Makassar.
Ia kemudian dikenal luas melalui kiprahnya di Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Selatan, bahkan memimpin lembaga tersebut selama dua periode. Namun, ketika melihat namanya disebut dalam berbagai jabatan itu, ingatan saya tetap sering kembali ke 1996.
Ke Selayar.
Ke Pulau Jinato.
Ke Rajuni.
Ke Benteng.
Dan tentu saja ke sebuah Bus Mahkota.
Saya masih mendengar kalimat itu dalam ingatan.
“Jangan anda punya selera musik mau digunakan di bus ini. Siapa tahu penumpang lain ada tong seleranya.” Hampir tiga puluh tahun berlalu, saya semakin memahami maksudnya.
Di negeri yang kadang terlalu ramai oleh orang-orang yang ingin memperdengarkan musiknya sendiri, kemampuan menyadari bahwa orang lain juga punya selera mungkin adalah salah satu bentuk paling sederhana dari demokrasi. Kak Pahir telah mengajarkan itu kepada saya, jauh sebelum saya memahami teori-teori tentang partisipasi, modal sosial, atau tata kelola kolaboratif.
Pelajarannya dimulai dari sebuah bus menuju Selayar.
Terima kasih, Kak Pahir. Sehat selalu.
___
Denun, Tamarunang 14 Juli 2026









