Perjuangan Perempuan untuk Perempuan | Sitti Aminah, Peserta Kelas SPPM Maros

  • Whatsapp
Para peserta Sekolah Politik Perempuan Maros (Istimewa)

Tulisan ini adalah inspirasi yang diperoleh penulis setelah mengikuti sesi ‘Perempuan dan Komunikasi di Media Sosial’ yang disampaikan oleh pendiri Pelakita.ID, Kamaruddin Azis di Sekolah Politik Perempuan Maros – Yayasan Maupe

27 Juni 2026

“Perubahan besar selalu dimulai dari keberanian seseorang untuk berpikir berbeda.”

PELAKITA.ID – Saya lahir dan dibesarkan di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Sebuah desa yang kaya akan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang diwariskan turun-temurun.

Budaya itu mengajarkan banyak hal tentang kebersamaan dan penghormatan kepada orang tua.

Di balik nilai-nilai tersebut, saya juga tumbuh menyaksikan kenyataan bahwa perempuan sering kali berada pada posisi yang tidak setara.

Sejak remaja, saya melihat sendiri bagaimana banyak perempuan desa harus menghadapi berbagai keterbatasan.

Kemiskinan, rendahnya akses pendidikan, terbatasnya layanan kesehatan, hingga diskriminasi berbasis gender menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tidak sedikit perempuan yang harus mengubur cita-citanya karena dianggap tidak perlu memiliki pendidikan tinggi.

Saat itu, masih sangat kuat anggapan bahwa setinggi apa pun pendidikan perempuan, pada akhirnya mereka hanya akan kembali ke “dapur, kasur, dan sumur”.

Akibatnya, keluarga lebih memilih menyekolahkan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

Perempuan dianggap cukup mampu mengurus rumah tangga, sementara laki-laki dipersiapkan menjadi pencari nafkah dan pemimpin keluarga. Informasi dan pandangan ini juga disampaikan oleh narasumber kelas kami, Pak Kamaruddin Azis pada Sabtu, 27 Juni 2026 di Gedung BLUT Maros.

“Sering kali anak-anak lelaki lebih diutamakan untuk bisa sekolah atau kuliah ketimbang perempuan,” katanya saat itu.

Nah, sebagai anak muda yang tumbuh di era yang mulai terbuka terhadap perubahan, saya sering bertanya kepada diri sendiri.

Apakah benar perempuan hanya memiliki ruang hidup yang sempit?

Apakah mimpi-mimpi perempuan memang harus berhenti hanya karena ia dilahirkan sebagai perempuan?

Saya percaya jawabannya adalah tidak. Ini juga sering saya dengar dari Ibu Una di Maupe, atau Pak Irdan hingga kawan-kawan dari Yayasan Maupe Maros.

Saya meyakini bahwa perempuan merupakan salah satu pilar utama dalam keluarga, masyarakat, bahkan bangsa.

Perempuan adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya, pembentuk karakter generasi penerus, sekaligus memiliki potensi besar menjadi penggerak ekonomi dan pembangunan sosial.

Karena itu, perempuan berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan menentukan masa depannya sendiri. Ini pula yang menjadi alasan mengapa saya ikut kelas SPPM Maupe ini.

Keyakinan itulah yang mendorong saya terus belajar dan mencari ruang untuk berkontribusi.

Pada tahun 2023, selain bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), saya mulai aktif bergabung dalam berbagai organisasi perempuan di Desa Jenetaesa.

Saya terlibat di PKK dan Sekolah Perempuan Desa Jenetaesa, sebuah ruang belajar yang mempertemukan perempuan-perempuan desa untuk saling menguatkan.

Melalui organisasi tersebut, kami langsung ke tengah masyarakat.

Kami mengadakan sosialisasi mengenai literasi, kesadaran hukum, hak asasi manusia, kesehatan reproduksi, hingga memberikan pendampingan kepada perempuan yang rentan menjadi korban kekerasan.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa perjuangan perempuan bukan sekadar berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga tentang membuka akses pengetahuan dan keberanian untuk menyuarakan hak-haknya.

Perjalanan itu ternyata tidak mudah.

Saya masih melihat begitu sedikit perempuan yang mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan.

Sebagian masih merasa bahwa kegiatan tersebut bukan kebutuhan mereka.

Ada pula yang khawatir dianggap melawan tradisi atau tidak menghormati budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Saya menyadari bahwa mengubah pola pikir perempuan di pedesaan jauh lebih sulit daripada sekadar menyampaikan materi pelatihan.

Tantangan terbesar bukan hanya berasal dari kuatnya budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas utama dalam kehidupan sosial, tetapi juga dari penolakan yang datang dari perempuan itu sendiri.

Tidak sedikit perempuan yang telah menerima begitu saja anggapan bahwa posisi mereka memang lebih rendah daripada laki-laki.

Mereka menganggap kondisi tersebut adalah kodrat yang tidak boleh dipertanyakan, apalagi diubah.

Di sinilah saya belajar bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan.

Ia harus dibangun melalui pendekatan yang membumi, penuh kesabaran, dialog, dan keteladanan. Kesetaraan gender tidak cukup dijelaskan melalui teori, tetapi harus diperlihatkan melalui contoh-contoh nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Meski penuh tantangan, saya tidak pernah menyesali pilihan untuk menjadi bagian dari gerakan perempuan di desa.

Justru di sanalah saya menemukan makna perjuangan yang sesungguhnya.

Saya bertemu dengan banyak perempuan hebat yang dengan segala keterbatasannya terus berusaha belajar, bangkit, dan saling menguatkan.

Perlahan, saya mulai menyaksikan perubahan.

Semakin banyak perempuan yang berani berbicara dalam forum desa, mengikuti pelatihan keterampilan, membangun usaha kecil, hingga ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan di tingkat desa.

Perubahan itu mungkin belum besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa harapan selalu ada.

Saya juga bersyukur karena Pemerintah Desa Jenetaesa memberikan dukungan yang nyata terhadap upaya pemberdayaan perempuan.

Pemerintah desa terus membuka ruang partisipasi perempuan dalam pembangunan, memberikan kesempatan menyampaikan aspirasi, serta menyelenggarakan berbagai pelatihan berbasis keterampilan dan pengembangan UMKM.

Program-program tersebut bukan sekadar meningkatkan kemampuan ekonomi perempuan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu menjadi pribadi yang kreatif, produktif, mandiri, dan berdaya saing.

Saya percaya, kesetaraan gender tidak akan pernah terwujud jika hanya diperjuangkan oleh perempuan.

Perubahan membutuhkan keterlibatan semua pihak—pemerintah, lembaga masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, keluarga, hingga laki-laki sebagai mitra dalam membangun kehidupan yang lebih adil.

Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam pembangunan desa. Mereka adalah penggerak perubahan. Ketika perempuan diberi kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengambil keputusan, maka sesungguhnya desa sedang membangun masa depannya sendiri.

Perjalanan ini masih panjang. Masih banyak stigma yang harus diubah dan masih banyak perempuan yang perlu dirangkul. Namun saya percaya, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tulus akan menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

Saya yakin, perjuangan perempuan untuk perempuan bukanlah tentang melawan siapa pun.

Perjuangan ini adalah tentang membuka jalan agar setiap perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, berkembang, dan memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsanya.

Saya bangga menjadi bagian dari perjalanan perubahan itu.

Sitti Aminah, peserta Sekolah Politik Perempuan Maros SPPM Yayasan Maupe (dok: Istimewa)

=___
Maros, 27 Juni 2026