Perang Melawan Narkotika Tidak Akan Pernah Menang Jika Kita Hanya Mengejar Pelaku

  • Whatsapp
Ilsutrasi oleh DPP Garuda Astacita Nusantara

Oleh: Muhammad Burhanuddin
Ketua Umum DPP Garuda Astacita Nusantara

PELAKITA.ID – Setiap peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi. Sudah puluhan tahun Indonesia memerangi narkotika.

Pemerintah silih berganti memperkuat regulasi, aparat penegak hukum menangkap ribuan pelaku, jaringan internasional berhasil diungkap, bahkan hukuman berat telah dijatuhkan.

Ada satu pertanyaan besar masih terus mengemuka: mengapa peredaran narkotika tetap berlangsung dan begitu sulit diberantas?

Jawabannya sederhana, tetapi kompleks. Narkotika bukan sekadar persoalan hukum. Ia telah berkembang menjadi persoalan ekonomi, sosial, kesehatan, teknologi, bahkan keamanan nasional. Selama akar persoalan itu belum diselesaikan, maka jaringan narkotika akan selalu menemukan cara baru untuk bertahan.

Pertama, bisnis narkotika menawarkan keuntungan ekonomi yang luar biasa besar. Dengan modal yang relatif kecil, sindikat mampu memperoleh keuntungan berlipat ganda.

Selama masih ada permintaan, akan selalu ada pihak yang bersedia memasok. Inilah hukum pasar gelap yang sulit diputus hanya dengan penangkapan para pengedar.

Kedua, jaringan narkotika kini telah berubah menjadi kejahatan transnasional yang sangat modern. Mereka memanfaatkan teknologi digital, komunikasi terenkripsi, transaksi keuangan elektronik, cryptocurrency, hingga jalur logistik internasional.

Sindikat mampu beradaptasi jauh lebih cepat dibandingkan metode penegakan hukum yang masih bersifat konvensional.

Ketiga, kita juga harus jujur melihat akar persoalan di masyarakat. Kemiskinan, pengangguran, tekanan hidup, lemahnya ketahanan keluarga, gangguan kesehatan mental, hingga minimnya ruang aktualisasi bagi generasi muda menjadi faktor yang membuat seseorang rentan terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkotika.

Banyak pengguna sebenarnya sedang mencari pelarian, bukan sekadar mencari kesenangan.

Karena itu, perang melawan narkotika tidak boleh hanya dimaknai sebagai perang melawan pelaku. Ini adalah perang untuk menyelamatkan manusia.Masalah lain yang tidak kalah penting adalah integritas. Sindikat narkotika tidak mungkin berkembang tanpa adanya celah dalam sistem.

Ketika masih terdapat oknum yang menyalahgunakan kewenangan, membocorkan informasi, atau bahkan melindungi jaringan kejahatan, maka pemberantasan narkotika akan selalu menghadapi tantangan berat. Integritas aparat dan tata kelola pemerintahan yang bersih menjadi fondasi utama keberhasilan perang melawan narkotika.

Lalu, apa yang harus dilakukan Indonesia?

Pertama, pencegahan harus menjadi strategi utama, bukan sekadar pelengkap.

Edukasi mengenai bahaya narkotika harus dimulai sejak usia dini melalui keluarga, sekolah, perguruan tinggi, rumah ibadah, hingga komunitas. Pendidikan tidak cukup hanya menakut-nakuti, tetapi harus membangun karakter, ketahanan mental, kemampuan mengambil keputusan, dan keberanian mengatakan tidak terhadap narkoba.

Kedua, rehabilitasi harus diperkuat. Pecandu narkotika yang ingin pulih harus dipandang sebagai individu yang membutuhkan pertolongan, bukan sekadar objek penghukuman.

Semakin banyak korban yang berhasil dipulihkan, semakin kecil pula pasar bagi para bandar.

Ketiga, penegakan hukum harus menyasar akar finansial sindikat. Yang harus dihancurkan bukan hanya para kurir atau pengedar di lapangan, tetapi juga jaringan pencucian uang, aset ilegal, sumber pendanaan, dan aktor intelektual di balik bisnis narkotika. Selama keuntungan ekonomi mereka masih utuh, jaringan baru akan terus bermunculan.

Keempat, teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal. Intelijen digital, analisis data, kecerdasan buatan, pelacakan transaksi keuangan, serta kerja sama internasional harus menjadi bagian dari strategi pemberantasan narkotika di era modern.

Kelima, masyarakat harus dilibatkan secara aktif. Keluarga, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, akademisi, media massa, dan dunia usaha memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas narkotika.

Perang melawan narkoba tidak mungkin dimenangkan hanya oleh aparat penegak hukum.

Bagi DPP Garuda Astacita Nusantara, Hari Anti Narkotika Internasional bukan sekadar seremoni tahunan.

Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa ancaman narkotika adalah ancaman terhadap masa depan bangsa. Generasi muda Indonesia adalah modal utama menuju Indonesia Emas 2045. Jika mereka rusak oleh narkotika, maka cita-cita besar bangsa akan kehilangan fondasinya.

Keberhasilan pemberantasan narkotika tidak boleh hanya diukur dari banyaknya pelaku yang ditangkap atau jumlah barang bukti yang disita.

Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika semakin sedikit anak muda yang mulai menggunakan narkoba, semakin banyak korban yang berhasil pulih, semakin kuat ketahanan keluarga, dan semakin sempit ruang gerak sindikat kejahatan.

Perang melawan narkotika pada akhirnya bukan semata-mata tugas Badan Narkotika Nasional, kepolisian, atau pemerintah. Ini adalah gerakan nasional yang membutuhkan kesadaran kolektif seluruh rakyat Indonesia.

Mari jadikan Hari Anti Narkotika Internasional sebagai momentum memperkuat komitmen bersama. Tidak hanya menangkap pelaku, tetapi juga memutus mata rantai permintaan, memperkuat keluarga, membangun karakter generasi muda, dan menciptakan Indonesia yang lebih sehat, lebih aman, serta bebas dari ancaman narkotika.

___
Jakarta, 27 Juni 2026