Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Ada hari-hari yang tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga memperluas kesadaran.
Sabtu, 27 Juni 2026, menjadi salah satu hari yang saya syukuri karena dipertemukan dengan dua “samudera ilmu” yang berbeda, namun bermuara pada tujuan yang sama: membangun Indonesia melalui ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemanusiaan dan keberlanjutan.
Pada pagi hari, saya menghadiri pengukuhan Prof. Dr. Eng. Abdul Kadir Muhammad, S.T., PG.Dipl., M.Eng. sebagai Guru Besar Robotika dan Sistem Kontrol pertama di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP).
Sementara pada siang harinya, saya menyimak pemaparan Prof. Dr. A. Adri Arief mengenai konsep ekonomi biru (blue economy) dalam kegiatan Pembekalan dan Bimbingan Teknis Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan se-Pulau Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara di Makassar.
Sekilas, kedua forum tersebut berbicara tentang dunia yang berbeda. Robotika identik dengan kecerdasan buatan, otomasi, dan revolusi industri. Sebaliknya, ekonomi biru berbicara tentang laut, ekologi, dan keberlanjutan sumber daya alam.
Semakin saya merenungkannya, keduanya justru bertemu pada satu simpul pemikiran: masa depan Indonesia harus dibangun dengan ilmu pengetahuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.
Pengukuhan Prof. Abdul Kadir Muhammad mengingatkan bahwa teknologi menemukan makna sejatinya ketika mampu menjadi solusi bagi kehidupan. Robotika, kecerdasan buatan, dan sistem kontrol bukan sekadar rumus, algoritma, atau inovasi laboratorium. Teknologi harus hadir untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat industri nasional, mempermudah pekerjaan manusia, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Perjalanan akademik beliau menjadi inspirasi tersendiri. Berangkat dari Parepare, menimba ilmu hingga Belanda dan Jepang, lalu kembali mengabdi di Indonesia, beliau menunjukkan bahwa puncak ilmu bukanlah ketika seseorang diakui dunia, melainkan ketika ilmu itu kembali memberi manfaat bagi tanah kelahirannya. Sebab ilmu yang besar adalah ilmu yang menemukan jalan pulang.
Di sisi lain, Prof. Adri Arief mengajak peserta melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda. Negeri ini tidak pernah kekurangan laut.
Yang sering kali kurang adalah cara kita memandang dan mengelolanya. Laut bukan semata ruang eksploitasi ekonomi, melainkan ruang kehidupan yang menopang jutaan manusia dan menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Konsep ekonomi biru menawarkan paradigma pembangunan yang lebih utuh, yakni bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan pelestarian ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Laut tidak lagi dipahami sebagai objek yang terus diambil manfaatnya, melainkan sebagai ekosistem yang harus dijaga agar manfaatnya dapat dinikmati secara berkelanjutan.
Dari dua forum tersebut saya menangkap satu pesan besar. Indonesia tidak cukup hanya menguasai teknologi, dan pembangunan tidak akan bertahan lama jika mengabaikan keberlanjutan. Robotika membutuhkan nurani agar inovasi tidak kehilangan arah. Sebaliknya, ekonomi biru membutuhkan inovasi agar konservasi tidak berhenti sebagai slogan.
Ketika teknologi dipadukan dengan etika keberlanjutan, lahirlah pembangunan yang bukan hanya modern, tetapi juga berkeadaban. Kita tidak lagi memilih antara kemajuan ekonomi atau kelestarian lingkungan, melainkan menghadirkan keduanya secara bersamaan.
Saya pulang dengan optimisme yang semakin kuat. Harapan Indonesia sesungguhnya sedang dirakit setiap hari—di ruang-ruang kuliah, laboratorium, pusat riset, forum ilmiah, dan berbagai ruang diskusi yang mungkin tidak selalu menjadi perhatian publik.
Di tempat-tempat itulah lahir gagasan yang kelak menggerakkan industri, menjaga laut, melestarikan lingkungan, memuliakan manusia, dan memperkuat kedaulatan bangsa.
Pembaca sekalian, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi terutama oleh kemampuannya menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada hari itu, saya menyaksikan dua samudera ilmu yang mengalir menuju muara yang sama: Indonesia yang lebih cerdas, lebih berdaulat, dan lebih berkelanjutan.
—
Muliadi Saleh
Menulis Makna, Membangun Peradaban.









