Ridho Al Tundungkury | Cengkeh Pun Ada di Pangkajene Kepulauan

  • Whatsapp
Cengkeh di Tondongkura oleh Muhammad Ridwan (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Ada satu pelajaran sederhana yang selalu saya ingat dari bapak. Beliau sering berkata, “Kita harus mulai lebih dulu agar orang lain mendapat inspirasi.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi prinsip hidup yang terus beliau buktikan lewat tindakan.

Di kampung kami, Desa Tondongkura, Kabupaten Pangkep, banyak petani yang kurang percaya ketika mendengar cerita tentang peluang besar dari sektor perkebunan.

Selama bertahun-tahun, masyarakat lebih akrab dengan sawah, kacang tanah, dan jagung sebagai komoditas utama.

Bahkan sawah milik bapak beberapa tahun terakhir sudah tidak lagi beliau garap sendiri. Setelah pensiun sebagai pegawai negeri sipil, beliau memilih menekuni dunia berkebun.

Berbagai tanaman tahunan tumbuh subur di lahannya. Ada merica, kopi, pisang, rambutan, durian, dan masih banyak lagi. Tanaman musiman seperti aneka sayuran pun tak luput ditanam. Namun menariknya, tujuan beliau berkebun bukan semata-mata mengejar keuntungan ekonomi.

Sebagian besar hasil kebun justru dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Setiap kali saya pulang kampung, hampir selalu ada buah tangan berupa hasil kebun yang dibawa ke kota.

Bahkan ada kebiasaan unik yang beliau lakukan. Saat pulang dari kebun menggunakan sepeda motor, hasil panen seperti pisang, rambutan, atau labu sengaja digantung di motornya agar terlihat oleh orang-orang di sepanjang jalan.

Bukan untuk pamer.

Melainkan agar masyarakat termotivasi untuk ikut berkebun.

“Kalau pensiunan PNS saja masih mau berkebun, apalagi petani. Harusnya mereka lebih semangat,” begitu kata beliau.

Sekitar enam tahun lalu, bapak menyampaikan sebuah gagasan yang terdengar cukup berani.

Beliau menunjukkan sebidang lahan yang menurutnya sangat cocok ditanami cengkeh. Saat itu hampir semua orang di desa beranggapan bahwa Tondongkura bukan wilayah yang sesuai untuk tanaman tersebut.

Tidak ada contoh kebun cengkeh di sekitar desa yang bisa dijadikan acuan. Namun bapak justru melihat peluang.

Beliau meminta saya membantu mencari bibit cengkeh berkualitas. Kebetulan mertua saya di Kabupaten Soppeng baru beberapa tahun mengembangkan kebun cengkeh, sehingga cukup memahami kualitas bibit yang baik.

Dengan modal yang sangat terbatas, saya berangkat ke Soppeng. Atas rekomendasi mertua, saya membeli bibit terbaik yang tersedia. Alhamdulillah, dana yang ada cukup untuk membawa pulang 125 bibit cengkeh.

Harapannya sederhana: tiga hingga lima tahun kemudian pohon-pohon itu bisa mulai berbuah dan menjadi contoh bahwa cengkeh ternyata dapat tumbuh di desa kami.

Bibit-bibit itu kemudian ditanam di lahan yang telah dibersihkan. Perawatannya dipercayakan kepada salah seorang keluarga, sementara saya membantu memenuhi kebutuhan seperti pupuk, racun rumput, hingga sekadar mengirim kopi dan gula untuk dinikmati di rumah kebun saat beristirahat.

Perjalanan tentu tidak selalu mulus.

Setiap tahun selalu ada beberapa pohon yang mati. Sebagian terserang penyakit, sebagian lagi tidak mampu bertahan menghadapi kemarau panjang. Namun kegagalan itu tidak pernah mematahkan semangat bapak.

Setiap kali ada tanaman yang mati, beliau segera menelepon saya.

“Carikan lagi bibit dari Soppeng.”

Saya pun kembali menghubungi mertua. Jika di kebunnya tidak tersedia bibit, beliau akan mencarikannya dari tempat lain. Membeli 10 hingga 20 bibit baru setiap tahun menjadi bagian dari upaya menjaga kebun tetap berkembang.

Kesabaran itu akhirnya mulai membuahkan hasil. Walaupun ada tanaman yang mati, jauh lebih banyak pohon yang tumbuh sehat dan berkembang dengan baik.

Perlahan-lahan pemerintah desa mulai melirik keberhasilan tersebut. Melalui Dinas Pertanian, bantuan bibit cengkeh hampir setiap tahun mulai disalurkan kepada masyarakat.

Beberapa petani kemudian ikut mencoba menanam cengkeh di kebun mereka masing-masing. Sayangnya, tidak semua memperoleh hasil yang sama.

Banyak tanaman yang kurang terawat sehingga hanya satu atau dua pohon yang mampu bertahan hidup. Pertumbuhannya pun lambat, bahkan setelah berumur lima tahun belum juga menghasilkan buah. Selain faktor pemeliharaan, kualitas bibit juga sangat menentukan keberhasilan.

Tahun lalu menjadi momen yang sangat membahagiakan.

Beberapa pohon cengkeh yang ditanam pada tahap awal akhirnya mulai berbuah. Memang hasilnya belum banyak. Menurut bapak, pohon-pohon itu baru belajar berbuah. Namun yang terpenting bukanlah jumlah panennya.

Buah-buah pertama itu menjadi bukti bahwa cengkeh benar-benar dapat tumbuh dan berproduksi di Desa Tondongkura. Keyakinan lama bahwa wilayah kami tidak cocok untuk cengkeh akhirnya terpatahkan.

Saya membayangkan suatu hari nanti Kabupaten Pangkep tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil kacang tanah dari kawasan pegunungannya, tetapi juga sebagai salah satu sentra penghasil cengkeh.

Saya teringat ketika melintasi jalan dari Kolaka Utara menuju Kolaka di Sulawesi Tenggara. Aroma cengkeh yang sedang dijemur begitu kuat tercium sepanjang perjalanan.

Mungkin suatu saat nanti, aroma yang sama akan menyambut siapa pun yang melintasi jalan-jalan di Tondongkura.

Tahun ini rasa syukur itu semakin lengkap.

Bukan hanya melihat kebun bapak yang semakin hijau oleh beragam tanaman, tetapi juga menyaksikan buah cengkeh bergelantungan di pohonnya—sesuatu yang dulu hampir tak pernah dibayangkan oleh sebagian besar warga desa.

Karena itulah foto-foto kebun ini saya bagikan. Bukan untuk berbangga diri, apalagi riya. Melainkan sebagai pengingat bahwa perubahan selalu berawal dari keberanian untuk mencoba.

Semoga kisah sederhana ini menjadi inspirasi, terutama bagi anak-anak muda desa yang memilih merantau jauh dari kampung halaman. Di tanah leluhur yang subur ini, sesungguhnya masih terbentang banyak peluang yang dapat menghidupi keluarga, bahkan anak cucu di masa depan.

Kadang, yang dibutuhkan bukanlah lahan baru.

Melainkan keberanian untuk menanam harapan di tanah yang telah lama kita miliki.

Ayo berkebun.