Dengan total areal perkebunan mencapai 6.379,70 hektar dan produksi lebih dari 2.400 ton, kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan strategis bagi Kabupaten Gowa.
PELAKITA.ID – Kabupaten Gowa terus memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra produksi kopi di Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data dalam Kabupaten Gowa Dalam Angka 2025, produksi kopi rakyat di daerah ini mencapai 2.411,94 ton pada tahun 2024, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 1.825,60 ton.
Peningkatan produksi tersebut menunjukkan bahwa sektor perkebunan kopi masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di wilayah dataran tinggi Gowa.
Tercatat sebanyak 5.033 kepala keluarga (KK) menggantungkan sebagian sumber penghasilannya pada usaha perkebunan kopi arabika yang tersebar di sembilan kecamatan.
Secara geografis, sentra produksi kopi Kabupaten Gowa terkonsentrasi di kawasan pegunungan dan dataran tinggi yang memiliki kondisi agroklimat ideal untuk budidaya kopi.
Kecamatan-kecamatan tersebut meliputi Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu, dan Biringbulu.
Tinggimoncong Menjadi Penghasil Kopi Terbesar
Di antara seluruh wilayah penghasil kopi, Kecamatan Tinggimoncong menempati posisi teratas dengan produksi mencapai 665,32 ton pada tahun 2024.
Capaian tersebut menjadikan Tinggimoncong sebagai kontributor terbesar terhadap produksi kopi Kabupaten Gowa.
Menariknya, meskipun menjadi penghasil kopi terbesar, luas areal perkebunan kopi di Tinggimoncong hanya sekitar 967 hektar, lebih kecil dibandingkan beberapa kecamatan lain.
Kondisi ini menunjukkan tingkat produktivitas lahan yang relatif tinggi dibandingkan daerah penghasil kopi lainnya.
Posisi kedua ditempati Kecamatan Parigi dengan produksi mencapai 565,23 ton dari luas areal sekitar 1.214,7 hektar. Sementara itu, Kecamatan Tompobulu berada di urutan ketiga dengan produksi 401,50 ton.
Tompobulu Miliki Lahan Terluas
Meski berada di posisi ketiga dalam volume produksi, Kecamatan Tompobulu tercatat memiliki areal perkebunan kopi terluas di Kabupaten Gowa, yakni mencapai 1.724 hektar atau sekitar 27 persen dari total luas perkebunan kopi daerah.
Besarnya luasan lahan tersebut menunjukkan potensi pengembangan kopi yang masih sangat besar di Tompobulu.
Dengan peningkatan teknologi budidaya dan pengelolaan pascapanen, produktivitas kawasan ini masih dapat terus ditingkatkan pada masa mendatang.
Di bawah Tompobulu terdapat Kecamatan Tombolo Pao dengan produksi 260,33 ton, disusul Bontolempangan sebesar 248,03 ton, serta Parangloe yang menghasilkan 221,10 ton.
Sentra Kopi Dataran Tinggi
Sebagian besar sentra kopi Gowa berada pada kawasan pegunungan yang memiliki suhu relatif sejuk dan curah hujan yang mendukung pertumbuhan tanaman kopi.
Karakteristik geografis tersebut menjadi salah satu faktor yang menjadikan kopi Gowa memiliki cita rasa khas dan berpotensi bersaing di pasar yang lebih luas.
Selain wilayah penghasil utama, beberapa kecamatan lainnya juga turut menyumbang produksi meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. Kecamatan Bungaya menghasilkan 36,08 ton, sedangkan Biringbulu dan Manuju masing-masing menghasilkan 7,42 ton dan 6,93 ton.
Kecamatan Manuju menjadi wilayah dengan produksi terendah sekaligus memiliki luas areal perkebunan terkecil, yaitu hanya sekitar 22 hektar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan kopi di Manuju masih relatif terbatas dibandingkan sentra-sentra utama lainnya.
Peluang Pengembangan Kopi Gowa
Dengan total areal perkebunan mencapai 6.379,70 hektar dan produksi lebih dari 2.400 ton, kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan strategis bagi Kabupaten Gowa.
Keterlibatan lebih dari lima ribu keluarga petani menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki peran penting dalam mendukung pendapatan masyarakat pedesaan.
Kenaikan produksi pada tahun 2024 juga menjadi sinyal positif bagi pengembangan industri kopi daerah.
Tidak hanya sebagai komoditas pertanian, kopi Gowa memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk unggulan berbasis agroindustri dan pariwisata, terutama di kawasan dataran tinggi seperti Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, dan Tompobulu.
Dengan dukungan peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan hilirisasi produk kopi, Kabupaten Gowa berpotensi memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.









