- Secara absolut, jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 55,13 ribu jiwa. Meskipun masih menjadi jumlah terbesar ketiga di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar dan Kabupaten Bone, kondisi ini lebih banyak dipengaruhi oleh besarnya jumlah penduduk Gowa dibandingkan tingginya tingkat kemiskinan.
- Angka kemiskinan 6,85 persen berada di bawah rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang mencapai 8,06 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara relatif, kesejahteraan masyarakat Gowa lebih baik dibandingkan banyak kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan.
PELAKITA.ID – Kabupaten Gowa memasuki tahun 2025 dengan fondasi pembangunan yang relatif kuat. Berbagai indikator ekonomi, sosial, dan kesejahteraan menunjukkan tren positif yang memberikan optimisme terhadap keberlanjutan pembangunan daerah.
Di tengah dinamika ekonomi nasional dan tantangan pembangunan wilayah, Gowa berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menurunkan angka kemiskinan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Jumlah Penduduk Terus Bertambah
Salah satu indikator penting yang menggambarkan dinamika pembangunan Gowa adalah pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2025, jumlah penduduk Kabupaten Gowa diproyeksikan mencapai 826,96 ribu jiwa.
Angka ini melanjutkan tren pertumbuhan penduduk yang selama periode 2020–2024 tercatat rata-rata sebesar 1,97 persen per tahun.
Pertumbuhan jumlah penduduk tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, meningkatnya jumlah penduduk produktif dapat menjadi modal pembangunan ekonomi.
Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan lapangan kerja, layanan pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur dasar yang memadai untuk mengimbangi pertumbuhan tersebut.
Ekonomi Gowa Tumbuh Lebih Cepat dari Sulawesi Selatan
Kinerja ekonomi Kabupaten Gowa pada tahun 2024 menjadi modal penting memasuki tahun 2025. Perekonomian Gowa tumbuh sebesar 5,39 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan yang mencapai 5,02 persen.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada tahun 2024 mencapai Rp30,75 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah terus berkembang dan mampu menciptakan nilai tambah yang semakin besar bagi masyarakat.
Struktur ekonomi Gowa masih didominasi sektor primer yang berbasis sumber daya alam.
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi tulang punggung perekonomian dengan kontribusi sebesar 28,94 persen terhadap total PDRB. Posisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat masih bertumpu pada sektor agraris.
Selain pertanian, sektor Perdagangan Besar dan Eceran menyumbang 12,94 persen terhadap PDRB, sementara sektor Konstruksi memberikan kontribusi sebesar 10,11 persen.
Ketiga sektor tersebut menjadi penggerak utama ekonomi daerah sekaligus penyerap tenaga kerja yang signifikan.
Kemiskinan Menurun, Kesejahteraan Meningkat
Salah satu capaian pembangunan yang paling menonjol adalah penurunan tingkat kemiskinan. Pada tahun 2024, persentase penduduk miskin di Kabupaten Gowa turun menjadi 6,85 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 7,42 persen.
Secara absolut, jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 55,13 ribu jiwa.
Meskipun masih menjadi jumlah terbesar ketiga di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar dan Kabupaten Bone, kondisi ini lebih banyak dipengaruhi oleh besarnya jumlah penduduk Gowa dibandingkan tingginya tingkat kemiskinan.
Bila dilihat dari persentase penduduk miskin, kinerja Gowa tergolong cukup baik.
Angka kemiskinan 6,85 persen berada di bawah rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang mencapai 8,06 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara relatif, kesejahteraan masyarakat Gowa lebih baik dibandingkan banyak kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan.
Dalam satu dekade terakhir, tren penurunan kemiskinan juga terlihat cukup konsisten.
Dari sekitar 8,40 persen pada tahun 2016, tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 6,85 persen pada tahun 2024. Tren ini menjadi modal penting bagi upaya pengurangan kemiskinan yang lebih progresif pada tahun-tahun mendatang.
Menariknya, Kabupaten Gowa memiliki garis kemiskinan yang relatif tinggi dibandingkan sebagian besar daerah lain di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2024, garis kemiskinan Gowa tercatat sebesar Rp475.305 per kapita per bulan.
Angka tersebut berada di atas rata-rata provinsi yang sebesar Rp459.226 per kapita per bulan. Bahkan, Gowa menjadi daerah dengan garis kemiskinan tertinggi ketiga di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar dan Kabupaten Maros.
Tingginya garis kemiskinan ini mengindikasikan bahwa biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di Gowa relatif lebih besar dibandingkan sebagian besar kabupaten lainnya. Dengan kata lain, standar kebutuhan hidup minimum di Gowa berada pada level yang lebih tinggi.
Kualitas Hidup Masyarakat Terus Membaik
Perbaikan kesejahteraan masyarakat juga tercermin pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2024, IPM Kabupaten Gowa mencapai 73,71, meningkat 0,70 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut menunjukkan adanya perbaikan dalam tiga dimensi utama pembangunan manusia, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.
Masyarakat Gowa semakin memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang lebih baik, kesempatan pendidikan yang lebih luas, serta kemampuan ekonomi yang lebih meningkat.
Di tingkat provinsi, IPM Gowa menempati peringkat ke-15 dari 24 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Meski masih berada di bawah Kota Makassar dan Kota Palopo yang menjadi pemimpin pembangunan manusia di provinsi ini, posisi Gowa sudah lebih baik dibandingkan sejumlah daerah lain seperti Jeneponto dan Bone.
Keuangan Daerah dan Koperasi Menjadi Modal Pembangunan
Memasuki tahun 2025, kapasitas fiskal daerah juga menunjukkan perkembangan positif. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gowa pada tahun 2024 tercatat sekitar Rp302,02 miliar. Penerimaan tersebut menjadi sumber pembiayaan penting bagi berbagai program pembangunan daerah.
Selain itu, ekonomi kerakyatan juga ditopang oleh perkembangan koperasi yang cukup kuat. Hingga tahun 2024 terdapat 574 koperasi aktif yang beroperasi di Kabupaten Gowa dengan total modal mencapai lebih dari Rp429 miliar.
Keberadaan koperasi tersebut menjadi instrumen penting dalam memperkuat akses pembiayaan masyarakat, mengembangkan usaha mikro dan kecil, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.
Tantangan dan Peluang Tahun 2025
Secara keseluruhan, Kabupaten Gowa memasuki tahun 2025 dengan berbagai indikator pembangunan yang menunjukkan arah positif.
Pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata provinsi, penurunan tingkat kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan ekonomi kerakyatan menjadi fondasi yang menjanjikan.
Meski begitu, sejumlah tantangan masih perlu mendapat perhatian. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat memerlukan penciptaan lapangan kerja yang lebih besar atau dengan kata lain perdagangan dan jasa perlu digenjot.
Di sisi lain, transformasi ekonomi dari sektor primer menuju sektor bernilai tambah tinggi menjadi agenda penting agar pertumbuhan ekonomi dapat semakin inklusif dan berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan potensi pertanian, perdagangan, jasa, dan kedekatannya dengan Kota Makassar sebagai pusat pertumbuhan kawasan, Kabupaten Gowa memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penyangga ekonomi utama Sulawesi Selatan pada masa mendatang.
Tim Redaksi









