Koperasi Merah Putih dan Asa La Beddu yang Harus Dijaga

  • Whatsapp
Baharuddin Solongi, konsultan pembangunan daerah

Oleh : Baharuddin Solongi, konsultan pembangunan daerah

PELAKITA.ID – Pagi itu, di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah dan kebun, La Beddu duduk di warung kopi sambil menunggu truk pengangkut hasil panennya.

Wajahnya tampak biasa saja, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan tentang masa depan.

Sebagai petani, La Beddu sudah terbiasa menghadapi berbagai ketidakpastian.

Harga hasil panen sering berubah tanpa bisa ia kendalikan. Ketika membutuhkan modal, ia harus mencari pinjaman dengan berbagai syarat. Ketika panen melimpah, keuntungan yang diperoleh tidak selalu sebanding dengan kerja keras yang telah dikeluarkan.

Beberapa minggu sebelumnya, La Beddu menghadiri musyawarah desa yang membahas pembentukan Koperasi Desa Merah Putih.

Para pemateri menjelaskan bahwa koperasi ini akan menjadi wadah bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa. Melalui koperasi, petani, nelayan, pedagang kecil, dan pelaku UMKM dapat bergotong royong membangun kekuatan ekonomi yang lebih besar.

Bagi La Beddu, gagasan itu terdengar menjanjikan. Ia membayangkan suatu hari hasil panennya dapat dipasarkan secara lebih baik, kebutuhan usaha dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah, dan masyarakat desa tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada tengkulak atau pihak luar.

Namun, di tengah optimisme itu, seorang warga yang lebih tua mengangkat tangan.

“Kita pernah punya koperasi dulu,” katanya pelan.

“Awalnya ramai, tetapi beberapa tahun kemudian tidak ada lagi yang mengurus.”

Suasana ruangan mendadak hening.

Ucapan itu mengingatkan semua orang bahwa membentuk koperasi mungkin tidak terlalu sulit. Yang jauh lebih sulit adalah menjaganya agar tetap hidup dan berkembang.

La Beddu kemudian mulai memahami bahwa tantangan terbesar Koperasi Merah Putih bukanlah mendirikan kantor, memilih pengurus, atau mengumpulkan anggota.

Tantangan sesungguhnya adalah memastikan koperasi mampu bertahan dalam jangka panjang sebagai badan usaha yang sehat dan dipercaya masyarakat.

Ia menyadari bahwa keberhasilan koperasi sangat bergantung pada siapa yang memimpinnya. Modal memang penting, tetapi modal yang besar sekalipun dapat habis jika dikelola secara buruk.

Sebaliknya, koperasi dengan modal terbatas sering kali mampu berkembang apabila dipimpin oleh orang-orang yang jujur, profesional, dan mampu membangun kepercayaan anggota.

Tidak kalah penting adalah keterlibatan anggota itu sendiri.

Seorang pendamping koperasi pernah mengatakan bahwa koperasi berbeda dengan perusahaan biasa. Dalam koperasi, anggota bukan hanya pemilik, tetapi juga pengguna.

Jika anggota hanya datang saat rapat pembentukan lalu tidak pernah lagi menabung, membeli, atau menjual produk melalui koperasi, maka lambat laun koperasi akan kehilangan denyut kehidupannya.

La Beddu mulai membayangkan bagaimana jika masyarakat hanya berharap bantuan pemerintah tanpa benar-benar menjadikan koperasi sebagai milik bersama. Bukankah ketika bantuan berakhir, koperasi juga bisa ikut melemah?

Pikiran itu membuatnya teringat pada banyak program yang pernah datang ke desa dengan semangat besar, tetapi perlahan menghilang ketika dukungan dari luar berkurang.

Ia mulai memahami bahwa koperasi yang kuat harus bertumpu pada kekuatan anggotanya sendiri, bukan semata-mata pada bantuan yang datang dari atas.

Di sisi lain, dunia terus berubah. Anak La Beddu yang baru lulus kuliah sering bercerita tentang pemasaran digital, transaksi elektronik, dan peluang menjual produk desa melalui internet.

Bagi La Beddu, semua itu terdengar rumit. Namun ia sadar bahwa koperasi masa depan tidak cukup hanya mengandalkan cara-cara lama.

Jika ingin berkembang, koperasi harus mampu beradaptasi dengan teknologi, memahami pasar, dan menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Mereka tidak hanya bersaing dengan pedagang di desa sebelah, tetapi juga dengan perusahaan besar dan platform digital yang menjangkau seluruh Indonesia.

Karena itu, regenerasi menjadi sangat penting. Generasi muda desa harus diberi ruang untuk terlibat, membawa gagasan baru, dan memperkenalkan inovasi yang dapat memperkuat koperasi. Tanpa kaderisasi, koperasi berisiko berjalan di tempat ketika dunia terus bergerak maju.

Namun ada satu hal lain yang membuat La Beddu khawatir. Ia pernah melihat organisasi masyarakat yang akhirnya terpecah karena terlalu dekat dengan kepentingan politik. Ia berharap koperasi tidak mengalami hal yang sama. Sebab ketika pengurus dipilih karena kedekatan politik, bukan karena kemampuan, kepercayaan anggota akan perlahan memudar.

Menjelang senja, La Beddu berdiri memandang sawah yang mulai menguning. Di kejauhan, suara anak-anak terdengar bermain di jalan desa. Ia membayangkan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya dan masyarakat sekitarnya.

Koperasi Desa Merah Putih memberinya harapan. Namun ia kini mengerti bahwa harapan saja tidak cukup.

Keberhasilan koperasi tidak akan ditentukan oleh berapa banyak koperasi yang dibentuk atau berapa besar dana yang dikucurkan.

Keberhasilannya akan diukur dari berapa banyak petani yang memperoleh harga lebih baik, berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, dan berapa banyak keluarga desa yang kehidupannya menjadi lebih sejahtera.

Koperasi Merah Putih adalah sebuah mimpi besar tentang kebangkitan ekonomi desa. Akan tetapi, seperti setiap mimpi besar lainnya, ia membutuhkan kerja keras, kejujuran, partisipasi, dan kepemimpinan yang baik untuk mewujudkannya.

Koperasi yang berhasil bukanlah koperasi yang lahir dengan peresmian yang meriah dan spanduk yang megah.

Koperasi yang berhasil adalah koperasi yang tetap hidup, tumbuh, dan memberi manfaat ketika tepuk tangan telah usai, ketika euforia program telah berlalu, dan ketika masyarakat desa benar-benar menjadikannya sebagai rumah bersama untuk membangun masa depan mereka.

Terima kasih