Harapan itu kini mulai menemukan jalannya. Dengan dukungan pemerintah daerah, kemitraan swasta, penguatan kelompok tani, serta target pengembangan lahan hingga 5.000 hektare, kopi perlahan bergerak dari sekadar tanaman percobaan menjadi salah satu harapan baru ekonomi pedesaan di Barru.
PELAKITA.ID – Di tengah dialog antara Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, Bupati Barru Andi Ina menyebut salah satu potensi yang belum banyak diketahui banyak orang tentang Barru adalah potensi komoditas kopinya.
Pada momen itu, Andi Ina berharap adanya dukungan riset dan penguatan kapasitas usaha perkebunan kopi, di mana BRIN diminta dukungan sumber daya manusia hingga pendanaan untuk mengkaji potensi komoditas kopi yang merupakan komoditas pasar dunia ini.
Berdasarkan penelusuran Pelakita.ID, konsentrasi perkebunan kopi di Barru yaitu di Kecamatan Pujananting. Salah satunya di Dusun Lempang, Desa Gattareng, Kecamatan Pujananting.
Seorang warga disebut menangani lahan seluas 70 are atau sekitar 400 batang kopi yang ia tanam dua tahun lalu kini telah menunjukkan tanda-tanda akan berbuah. Daun-daunnya tampak rimbun, sementara buah kopi muda mulai bermunculan di ranting-ranting yang selama ini dirawat dengan penuh kesabaran.
“Saya rawat sendiri setiap hari. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa panen perdana,” ujar Andi Sulaiman, pemilik tanaman kopi seperti dikutip dalam laporan Berita-Sulsel.com, Mei 2026.
Bagi Andi, kopi bukan sekadar tanaman, melainkan harapan baru di tengah ketidakpastian hasil pertanian musiman yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat desa.
Pengalaman Andi bukan cerita tunggal. Di sejumlah wilayah perbukitan Kecamatan Pujananting, kopi mulai dilihat sebagai alternatif ekonomi yang menjanjikan.
Kondisi geografis berupa dataran tinggi dengan suhu yang relatif sejuk dinilai cocok untuk pengembangan tanaman kopi. Perlahan, masyarakat mulai melirik komoditas ini sebagai sumber pendapatan jangka panjang.
Potensi Besar yang Mulai Dipetakan
Keseriusan Pemerintah Kabupaten Barru terhadap pengembangan kopi terlihat sejak awal 2026.
Saat meninjau lahan pertanaman kopi di Desa Gattareng, Wakil Bupati Barru Abustan A. Bintang menyebut kopi sebagai salah satu komoditas perkebunan rakyat yang memiliki prospek ekonomi besar untuk dikembangkan di masa depan.
Berdasarkan data lapangan yang dipaparkan dalam kunjungan tersebut, pertanaman kopi di Kecamatan Pujananting saat ini tersebar di sedikitnya enam desa dengan total luas sekitar 200 hektare yang dikelola oleh 11 kelompok tani.
Sebarannya meliputi Desa Gattareng sekitar 30 hektare, Desa Pujananting sekitar 50 hektare, Desa Jangang-Jangang sekitar 20 hektare, Desa Bacu-Bacu sekitar 30 hektare, serta beberapa desa lainnya di wilayah kecamatan tersebut. Informasi ini disampaikan dalam laporan Radar Makassar, Januari 2026.
Skala tersebut memang masih relatif kecil jika dibandingkan dengan sentra kopi utama di Sulawesi Selatan.
Akan tetapi, pemerintah daerah melihat peluang yang jauh lebih besar. Berdasarkan pemetaan awal yang dilakukan Pemkab Barru bersama para pemangku kepentingan, terdapat sedikitnya delapan desa yang memiliki potensi untuk pengembangan kopi dengan total luasan mencapai sekitar 5.000 hektare.
Data tersebut terungkap dalam pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Barru dan PT Sulotco Jaya Abadi pada Januari 2026 yang membahas kerja sama pengembangan kopi secara terpadu dari hulu hingga hilir. Dalam laporan Prisma Publik, pemerintah menargetkan pengembangan kawasan kopi dilakukan secara bertahap dengan fokus awal pada 200 hingga 300 hektare lahan potensial.
Dari Bibit Menuju Produksi
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Barru telah menyalurkan sekitar 17.000 bibit kopi Arabika kepada petani pada tahun 2025. Bantuan tersebut menjadi fondasi awal untuk memperluas areal tanam kopi di berbagai desa.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan kopi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan bibit. Wakil Bupati Abustan A. Bintang menekankan pentingnya pendampingan teknis, peningkatan kapasitas petani, serta kepastian akses pasar agar kopi benar-benar menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
“Karena itu, Pemkab Barru menggandeng salah satu perusahaan sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut diharapkan mendampingi petani mulai dari pengelolaan lahan, teknik budidaya, peningkatan produktivitas, hingga pemasaran hasil panen,” ungkap Andi Ina. Perusahaan itu adalah PT Sulotco Jaya Abadi .
“Keterlibatan BRIN, perguruan tinggi dan sektor swasta menjadi faktor penting dalam membangun rantai nilai kopi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Andi Ina.
Dia juga menyebut, pada beberapa momentum, dirinya mempromosikan pengembangan sektor pertanian bernilai ekonomi tinggi sebagai salah satu fokus pembangunan daerah.
“Komoditas kopi menjadi salah satu prioritas, seiring dengan potensi agroklimat yang dimiliki wilayah dataran tinggi Barru,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan di depan Saudahgar Bugis Makassar dalam bulan Maret 2026 lalu bahwa kawasan Kecamatan Pujananting dan sejumlah wilayah lainnya di Kabupaten Barru memiliki karakteristik lahan yang potensial untuk pengembangan kopi berkualitas.
“Saat ini, masyarakat di wilayah tersebut telah mulai melakukan budidaya secara bertahap, yang diarahkan menuju penguatan kawasan sentra produksi,” ucapnya.
Pengembangan ini, lanjutnya, tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan pada penguatan rantai nilai (value chain), mulai dari budidaya, pascapanen, hingga peluang hilirisasi produk kopi Barru agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Hilirisasi Menjadi Agenda Besar
Selain peningkatan produksi, Barru juga mulai mengarahkan pembangunan sektor kopi ke tahap berikutnya, yakni hilirisasi. Dalam berbagai kesempatan, baik Bupati Andi Ina maupun Wakil Bupati Abustan Andi Bintang menegaskan bahwa kopi Barru tidak boleh berhenti sebagai komoditas bahan baku.
Pemerintah ingin mendorong peningkatan kualitas pascapanen, pengolahan produk, standarisasi mutu, sertifikasi, hingga pengemasan yang lebih kompetitif. Bersamaan dengan itu, upaya membangun branding “Kopi Barru” sebagai identitas daerah juga mulai dirancang.
“Kita ingin kopi Barru tidak berhenti di kebun, tetapi naik kelas melalui hilirisasi dan branding yang jelas, sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani dan daerah,” kata Abustan sebagaimana dikutip Radar Makassar.
Agenda hilirisasi ini sejalan dengan program yang lebih luas di sektor perkebunan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru Ahmad menyebut kopi sebagai salah satu dari tujuh komoditas unggulan yang akan menjadi fokus pengembangan industri pengolahan di daerah, bersama tebu, kelapa, kakao, jambu mete, lada, dan pala.
Harapan Baru dari Desa
Pembaca sekalian, seluruh rencana besar tersebut bermuara pada satu tujuan: meningkatkan kesejahteraan petani.
Bagi warga seperti Andi Sulaiman, keberhasilan pengembangan kopi akan ditentukan oleh dua hal sederhana, yakni produktivitas dan harga yang layak. “Kalau harga stabil, petani tentu lebih semangat. Apalagi kopi butuh proses panjang sebelum panen,” ujarnya.
Harapan itu kini mulai menemukan jalannya. Dengan dukungan pemerintah daerah, kemitraan swasta, penguatan kelompok tani, serta target pengembangan lahan hingga 5.000 hektare, kopi perlahan bergerak dari sekadar tanaman percobaan menjadi salah satu harapan baru ekonomi pedesaan di Barru.
Jika agenda pengembangan berjalan sesuai rencana, bukan mustahil suatu hari nanti nama Barru akan dikenal bukan hanya sebagai daerah pesisir di Sulawesi Selatan, tetapi juga sebagai salah satu kawasan penghasil kopi yang diperhitungkan di Indonesia.
Sumber:
- Pemerintah Kabupaten Barru dan PT Sulotco Jaya Abadi, pembahasan pengembangan kopi Barru, dilaporkan Prisma Publik, 13 Januari 2026.
- Kunjungan Wakil Bupati Barru ke lahan kopi Desa Gattareng, dilaporkan Radar Makassar, 10 Januari 2026.
- Perkembangan kebun kopi petani Andi Sulaiman di Dusun Lempang, dilaporkan Berita-Sulsel.com, 19 Mei 2026.
- Gerakan Tanam Serentak dan agenda hilirisasi komoditas perkebunan Kabupaten Barru, dilaporkan Berita-Sulsel.com, 6 Juni 2026.









