Konsep ini tidak hanya penting dalam kajian geografi, tetapi juga dalam membangun kesadaran kebangsaan. Dengan memahami Indonesia sebagai benua maritim, masyarakat diajak meninggalkan cara pandang yang memisahkan pulau-pulau oleh lautan. Sebaliknya, laut harus ditempatkan sebagai ruang penghubung yang menyatukan seluruh wilayah Nusantara.
Disampaikan oleh Dr. Rijal Idrus, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin pada pembekalan mahasiswa KKN Program Kampung Iklim Universitas Hasanuddin atas dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Hans Seidel Foundation.
PELAKITA.ID – Banyak orang masih memandang laut sebagai ruang pemisah antarpulau. Padahal, bagi Indonesia, laut justru merupakan unsur yang menyatukan seluruh wilayah Nusantara.
Menurut Kepala Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas, Dr Rijal Idrus, cara pandang inilah yang menjadi fondasi penting dalam memahami Indonesia sebagai sebuah Benua Maritim Indonesia, sebuah konsep yang menempatkan daratan, lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Saat pemaparan mengenai geografi Indonesia, peserta diajak melihat kembali peta Nusantara dengan perspektif yang berbeda.
Rijal mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: Makassar berada di antara Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Laut di antara kedua pulau tersebut berfungsi sebagai apa?
Sebagian peserta menjawab bahwa laut berfungsi sebagai pemisah. Namun, jawaban tersebut justru menjadi titik awal untuk mengoreksi cara pandang yang selama ini sering terbentuk dalam benak banyak orang.
“Laut bukan pemisah, melainkan pemersatu,” tegas Rijal Idrus.
Pandangan tersebut sesungguhnya sejalan dengan semangat kebangsaan yang setiap minggu diikrarkan melalui lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Pada bait pertama lagu tersebut terdapat kalimat yang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia: Indonesia tanah airku.
Menurut Rijal, frasa “tanah air” mengandung makna yang sangat mendalam. Tanah dan air bukanlah dua unsur yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan identitas bangsa Indonesia.
Ketika melihat peta Indonesia, warna hijau yang menggambarkan daratan dan warna biru yang menggambarkan lautan tidak boleh dipahami secara terpisah.
Keduanya merupakan bagian dari satu ruang hidup yang sama. Jika laut dipandang sebagai pemisah, maka cara pandang tersebut bertentangan dengan semangat kebangsaan yang terkandung dalam konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Setiap kali kita menyanyikan Indonesia Raya, kita mengucapkan Indonesia tanah airku. Artinya, sejak awal identitas bangsa ini dibangun atas kesatuan antara daratan dan lautan,” ujarnya.
Perspektif ini menjadi penting karena Indonesia bukan negara yang kebetulan memiliki banyak pulau. Indonesia adalah negara kepulauan yang keberadaannya justru ditentukan oleh laut.
Laut menghubungkan ribuan pulau, menjadi jalur mobilitas manusia, perdagangan, budaya, serta perekat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Nusantara.
Karena itu, pemahaman mengenai NKRI tidak cukup hanya melihat wilayah daratan.
“Huruf “K” dalam singkatan NKRI berarti “Kesatuan”, yang mengandung makna bahwa seluruh unsur wilayah Indonesia merupakan satu entitas yang utuh. Tidak ada pemisahan antara pulau, laut, dan ruang udara,” kata dia.
Dari sudut pandang inilah muncul konsep Benua Maritim Indonesia.
Indonesia dianggap memenuhi karakter sebagai sebuah benua karena memiliki wilayah yang sangat luas dan terintegrasi dalam satu sistem geografis yang menyatukan daratan, perairan, dan atmosfer di atasnya. Namun berbeda dengan benua-benua lain yang umumnya didominasi daratan, Indonesia merupakan benua yang bercirikan kemaritiman.
Oleh karena itu, istilah yang digunakan adalah Benua Maritim Indonesia, yakni sebuah kesatuan wilayah yang terdiri atas tanah, air, dan udara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Benua Maritim Indonesia tidak lain adalah satu kesatuan tanah, air, dan udara NKRI,” jelas Rijal.
Konsep ini tidak hanya penting dalam kajian geografi, tetapi juga dalam membangun kesadaran kebangsaan.
Dengan memahami Indonesia sebagai benua maritim, masyarakat diajak meninggalkan cara pandang yang memisahkan pulau-pulau oleh lautan. Sebaliknya, laut harus ditempatkan sebagai ruang penghubung yang menyatukan seluruh wilayah Nusantara.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya alam, pemahaman tentang Benua Maritim Indonesia menjadi semakin relevan.
Kesadaran bahwa daratan, lautan, dan udara merupakan satu sistem yang saling terkait akan membantu bangsa ini merancang pembangunan yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan sesuai dengan jati dirinya sebagai negara maritim terbesar di dunia.
Pada akhirnya, ketika masyarakat Indonesia menyebut “tanah air”, sesungguhnya yang dimaksud bukan hanya daratan tempat berpijak, melainkan juga lautan yang menghubungkan dan ruang udara yang menaungi seluruh Nusantara.
Itulah hakikat Indonesia sebagai Benua Maritim Indonesia: sebuah kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan oleh batas-batas geografis antarpulau, karena laut justru menjadi perekat utama bangsa ini.
___
Editor Denun









