Bagian ini adalah narasi materi pembekalan berisi filosofi, metode, dan tahapan penyusunan program kerja KKN Tematik Perubahan Iklim yang disampaikan oleh Dr. Athira RinandaEragradini GP, S.Pi, M.Si.
PELAKITA.ID – KKN Tematik Perubahan Iklim bukan sekadar program pengabdian masyarakat atau sarana memenuhi kewajiban akademik mahasiswa.
Lebih dari itu, program ini dirancang untuk membangun kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui aksi nyata yang kolaboratif, berbasis data, dan berkelanjutan.
Pesan utama yang ditekankan dalam pembekalan mahasiswa adalah bahwa peserta KKN tidak boleh datang ke desa hanya membawa daftar kegiatan.
Mahasiswa harus datang membawa solusi yang lahir dari kebutuhan masyarakat.
Karena itu, tujuan pembekalan ini adalah memastikan setiap peserta memahami alur penyusunan program kerja, mampu mengidentifikasi persoalan di wilayah penugasan, menentukan pilar program yang tepat, menyusun kegiatan berdasarkan kebutuhan masyarakat, serta merumuskan output, outcome, dan indikator keberhasilan yang terukur.
Program kerja yang baik tidak lahir dari ide kegiatan yang menarik, melainkan dari pemahaman yang mendalam terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.
Dari sanalah kemudian dipilih pilar yang sesuai, melibatkan partisipasi masyarakat, dan diarahkan pada tujuan jangka panjang berupa peningkatan ketahanan iklim.
Lima Wilayah, Satu Kerangka, Beragam Solusi
KKN Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin dilaksanakan di lima wilayah, yakni Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Takalar.
Meskipun menggunakan kerangka kerja yang sama, setiap lokasi memiliki karakteristik, potensi, dan persoalan yang berbeda.
Karena itu, tidak ada program kerja yang bisa diseragamkan. Setiap kelompok harus melakukan identifikasi kebutuhan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Solusi yang relevan di kawasan pesisir belum tentu sesuai untuk wilayah pertanian atau perkotaan.
Mengapa Harus Berbasis Ketahanan Iklim?
Perubahan iklim kini bukan lagi isu masa depan. Dampaknya sudah dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari degradasi ekosistem, ancaman terhadap ketahanan pangan, krisis air bersih, hingga persoalan sampah dan pencemaran lingkungan.
Dalam konteks inilah mahasiswa ditempatkan sebagai implementator, penyedia data dan bukti lapangan (evidence-based), sekaligus katalisator perubahan.
Posisi mahasiswa bukan sebagai pelaksana kegiatan seremonial, melainkan agen yang membantu masyarakat menemukan solusi terhadap persoalan yang mereka hadapi.
Empat Pilar KKN Tematik Perubahan Iklim
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, KKN Tematik Perubahan Iklim dibangun di atas empat pilar utama.
Pilar pertama adalah rehabilitasi ekosistem, yang berfokus pada upaya pemulihan lingkungan yang mengalami kerusakan.
Pilar kedua adalah ketahanan pangan, sebagai respons terhadap meningkatnya kerawanan pangan akibat perubahan iklim.
Pilar ketiga adalah pengelolaan sumber daya air, mengingat semakin banyak wilayah yang menghadapi persoalan ketersediaan air bersih.
Pilar keempat adalah pengelolaan sampah, karena sampah telah menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan yang paling nyata di berbagai daerah.
Keempat pilar ini menjadi dasar bagi mahasiswa dalam menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing.
Program Kerja Dimulai dari Masalah, Bukan Kegiatan
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan mahasiswa adalah langsung menyusun kegiatan tanpa memahami akar persoalan yang ada di lapangan.
Padahal, langkah pertama yang harus dilakukan adalah observasi lapangan. Setelah itu dilakukan identifikasi masalah, analisis potensi wilayah, penentuan prioritas masalah, pemilihan pilar program yang sesuai, penyusunan program kerja, hingga perumusan output, outcome, dan indikator keberhasilan.
Dengan kata lain, program kerja tidak dimulai dari kegiatan, tetapi dari masalah yang ditemukan di lapangan.
Pemateri bahkan mengingatkan dengan nada bercanda bahwa tugas mahasiswa bukan mencari masalah dengan masyarakat, melainkan menemukan permasalahan yang benar-benar ada di lingkungan tempat mereka bertugas.
Ciri Program Kerja yang Baik
Program kerja yang baik bukanlah program yang berhenti ketika masa KKN berakhir. Program yang baik adalah program yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Karena itu, program harus berbasis masalah nyata, sesuai dengan potensi wilayah, relevan dengan pilar program, dapat dilaksanakan dalam waktu KKN, melibatkan masyarakat, memiliki indikator keberhasilan yang jelas, dan berpotensi berlanjut setelah mahasiswa meninggalkan lokasi.
Sebaliknya, program yang tidak terarah, sering berubah-ubah, tidak berbasis kebutuhan nyata, dan tidak memiliki arah keberlanjutan merupakan kesalahan yang harus dihindari.
Yang terpenting bukan banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi kualitas dan dampak program yang dirancang.

Tahapan Pelaksanaan Selama 45 Hari
Pelaksanaan KKN Tematik Perubahan Iklim dirancang selama kurang lebih 45 hari.
Minggu pertama difokuskan pada persiapan dan pengumpulan data melalui observasi, social mapping, dan identifikasi kondisi wilayah.
Minggu kedua digunakan untuk analisis masalah dan penyusunan program kerja, termasuk pelaksanaan seminar program kerja.
Minggu ketiga hingga minggu kelima menjadi fase implementasi program.
Sementara minggu keenam digunakan untuk monitoring, evaluasi, dan diseminasi hasil kegiatan.
Pembagian waktu ini penting agar mahasiswa memahami kapan harus mengumpulkan data, kapan merancang program, kapan melaksanakan kegiatan, dan kapan melakukan evaluasi.
Program Individu dan Program Flagship
Dalam KKN Tematik Perubahan Iklim terdapat dua jenis program yang wajib dilaksanakan.
Pertama adalah program kerja individu. Meskipun disebut individu, program ini tetap menjadi tanggung jawab bersama dalam posko. Disebut individu karena terdapat satu orang yang bertindak sebagai koordinator utama.
Contoh program individu antara lain edukasi perubahan iklim, pengelolaan sampah rumah tangga, atau kampanye hemat air.
Program individu dapat berkembang menjadi program flagship apabila dinilai strategis, berdampak besar, dan layak dilanjutkan oleh kelompok KKN berikutnya.
Kedua adalah program flagship atau program unggulan kelompok. Setiap posko wajib memiliki satu program flagship yang lahir dari persoalan utama wilayah dan memiliki target keberlanjutan selama tiga tahun.
Contohnya adalah rehabilitasi mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir, kampung mandiri sampah di kawasan perkotaan, atau Desa Pangan Tangguh Iklim di daerah pertanian.
Program flagship bukan hanya untuk satu gelombang KKN, tetapi menjadi warisan program yang terus dikembangkan dari tahun ke tahun.
Simulasi Penyusunan Program Kerja
Dalam pembekalan, peserta diberikan contoh kasus sebuah desa pesisir yang mengalami abrasi pantai, kerusakan mangrove, penumpukan sampah plastik, penurunan hasil tangkapan nelayan, dan belum memiliki kelompok pengelola lingkungan.
Kasus ini digunakan untuk melatih mahasiswa berpikir sistematis.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi masalah yang ada.
Langkah kedua menentukan prioritas masalah menggunakan matriks sederhana yang mempertimbangkan tingkat urgensi dan kemungkinan penanganan selama masa KKN.
Dari contoh tersebut, kerusakan mangrove dan sampah pesisir dipilih sebagai prioritas utama karena dampaknya besar, dapat ditangani dalam waktu KKN, dan hasilnya dapat terlihat secara nyata.
Selanjutnya masalah tersebut dihubungkan dengan pilar program. Kerusakan mangrove masuk ke pilar rehabilitasi ekosistem, sedangkan sampah pesisir masuk ke pilar pengelolaan sampah.
Setelah itu mahasiswa menyusun pohon program yang terdiri dari masalah, tujuan, output, dan outcome.
Barulah pada tahap berikutnya program kerja dirancang secara rinci.
Pentingnya Output, Outcome, dan Indikator Keberhasilan
Keberhasilan program tidak dapat diukur hanya dari terlaksananya kegiatan.
Karena itu setiap program harus memiliki output, outcome, dan indikator keberhasilan yang jelas.
Sebagai contoh, program rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat dapat memiliki output berupa tertanamnya 500 bibit mangrove.
Outcome yang diharapkan adalah meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan pesisir.
Sementara indikator keberhasilannya dapat diukur melalui tingkat keberhasilan hidup mangrove dan tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi.
Roadmap Tiga Tahun untuk Program Flagship
Program flagship harus memiliki roadmap tiga tahun yang jelas.
Tahun pertama difokuskan pada membangun fondasi program.
Tahun kedua diarahkan pada pengembangan dan perluasan kegiatan.
Tahun ketiga menjadi fase penguatan dampak dan keberlanjutan.
Misalnya pada kasus rehabilitasi mangrove, visi tahun ketiga yang ingin dicapai adalah terbentuknya kawasan pesisir yang lebih tangguh melalui rehabilitasi mangrove berkelanjutan.
Keberhasilan program harus dapat diukur melalui perubahan kondisi sebelum dan sesudah program dijalankan.
Karena itu monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting dalam setiap tahapan pelaksanaan.
Siklus monitoring meliputi perencanaan, pengumpulan data, analisis, refleksi bersama masyarakat, dan tindak lanjut yang dilakukan secara berkala.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Iklim
Pada akhirnya, KKN Tematik Perubahan Iklim menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang berkontribusi langsung dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Kunci keberhasilan program terletak pada kolaborasi dan keberlanjutan. Program yang dirancang harus mampu hidup setelah mahasiswa kembali ke kampus. Dampak yang dihasilkan mungkin terlihat kecil hari ini, tetapi dapat menjadi fondasi penting bagi masa depan lingkungan yang lebih baik.
Sebagaimana pesan penutup yang disampaikan dalam pembekalan, manusia sesungguhnya tidak mewarisi bumi dari nenek moyangnya. Kita meminjamnya dari generasi yang akan datang.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk belajar dari masyarakat, beraksi untuk lingkungan, dan menghasilkan dampak nyata bagi generasi mendatang.
“Mahasiswa Unhas Hebat, Bumi Lestari.”
Artikel ini sudah saya rapikan menjadi format feature-edukatif yang cocok untuk dipublikasikan di website, media kampus, laporan kegiatan, maupun dokumentasi resmi KKN Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin.









