Doktor Maman | Politik Tanpa Gagasan dan Hilangnya Arah Demokrasi

  • Whatsapp
Dr. Andul Rahman Nur (dok: Istimewa)

Citra lebih menentukan daripada integritas. Akibatnya, demokrasi kehilangan rohnya sebagai sistem yang seharusnya melahirkan pemimpin visioner dan kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Oleh Abdul Rahman Nur, atau biasa disapa Doktor Maman adalah Dosen di Universitas Andi Djemma (Unanda) Kota Palopo

PELAKITA.ID – Politik sejatinya lahir sebagai ruang pertarungan gagasan. Di dalamnya, manusia berdiskusi tentang masa depan, memperdebatkan arah pembangunan, dan mencari jalan terbaik untuk menghadirkan keadilan sosial bagi rakyat.

Hari ini, kita menyaksikan sesuatu yang berbeda. Politik semakin ramai, tetapi justru terasa kehilangan makna. Ia penuh slogan, hiruk-pikuk pencitraan, dan perebutan pengaruh, tetapi miskin arah dan miskin gagasan.

Dalam situasi seperti itu, politik tidak lagi menjadi arena adu pemikiran, melainkan sekadar panggung untuk memenangkan kekuasaan dengan cara apa pun.

Yang diperdebatkan bukan lagi bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan, mengatasi kemiskinan, menjaga lingkungan, atau memperkuat keadilan sosial.

Perhatian publik justru tersedot pada siapa yang paling viral, siapa yang paling sering muncul di media sosial, dan siapa yang paling piawai membangun opini.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa politik modern perlahan bergerak dari substansi menuju sensasi. Popularitas menjadi lebih penting dibanding kapasitas.

Citra lebih menentukan daripada integritas. Akibatnya, demokrasi kehilangan rohnya sebagai sistem yang seharusnya melahirkan pemimpin visioner dan kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Ketika gagasan hilang dari politik, pemimpin tidak lagi dipilih karena kemampuan membaca masa depan atau keberanian menawarkan perubahan.

Mereka dipilih karena kekuatan pencitraan yang mampu memengaruhi emosi publik dalam waktu singkat. Demokrasi akhirnya terjebak dalam siklus pragmatis: pemilu menjadi kompetisi popularitas, sementara rakyat hanya disuguhi pertunjukan politik yang berulang dari satu musim ke musim berikutnya.

Dampaknya sangat nyata dalam kehidupan berbangsa. Kebijakan lahir tanpa arah jangka panjang. Pembangunan berjalan tanpa fondasi nilai yang kuat.

Program-program pemerintah sering berganti bukan karena kebutuhan rakyat berubah, tetapi karena pergantian kekuasaan yang tidak memiliki kesinambungan visi. Negara bergerak, tetapi tanpa kompas yang jelas.

Padahal bangsa besar tidak pernah dibangun oleh politik yang sekadar gaduh. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari keberanian menghadirkan ide-ide besar.

Negara-negara maju tumbuh karena para pemimpinnya mampu melampaui kepentingan jangka pendek dan memikirkan masa depan generasi berikutnya. Mereka menjadikan politik sebagai ruang berpikir, bukan sekadar ruang bertarung.

Karena itu, demokrasi membutuhkan lebih banyak gagasan daripada sekadar sensasi.

Politik memerlukan keberanian intelektual untuk berbicara tentang pendidikan yang berkualitas, ekonomi yang berkeadilan, lingkungan yang lestari, dan masa depan anak muda yang lebih baik.

Politik juga membutuhkan keberpihakan yang jelas kepada kepentingan publik, bukan sekadar kalkulasi elektoral.

Pada akhirnya, kekuasaan hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Nilai seorang pemimpin tidak ditentukan oleh seberapa lama ia berkuasa, melainkan oleh jejak pemikiran dan perubahan yang ditinggalkannya bagi masyarakat.

Sebab kekuasaan tanpa gagasan hanya akan melahirkan kepemimpinan tanpa arah dan tanpa jejak sejarah.

___
Editor Denun