Penyelam Terbaik Dunia Berpacu dengan Waktu untuk Mengevakuasi Jenazah Turis Maladewa

  • Whatsapp
Ilustrasi

Kapal mewah yang membawa sekitar 25 penumpang itu ternyata tidak memiliki izin untuk penyelaman lebih dari 100 kaki (sekitar 30 meter).. Penyelam Terbaik Dunia Berpacu dengan Waktu untuk Mengevakuasi Jenazah Turis Maladewa Sebelum Dimangsa Hiu. Oleh Anthony Blair, dipublikasikan NyPost.com pada 17 Mei 2026, pukul 13.26 

PELAKITA.ID – Sebuah tim elit penyelam kini berpacu dengan waktu untuk menemukan dan mengevakuasi jenazah lima warga Italia yang tewas dalam insiden tragis penyelaman di Maladewa pada Kamis lalu — dengan harapan dapat mencapai jasad mereka sebelum hiu lebih dulu menemukannya.

Sejauh ini, baru jenazah instruktur selam dari kelompok tersebut yang berhasil ditemukan.

Sementara itu, seorang penyelam penyelamat militer Maladewa juga dilaporkan meninggal dunia saat melakukan pencarian terhadap para penyelam yang hilang.

Tim khusus Eropa yang baru dibentuk, termasuk tiga penyelam top asal Finlandia, dijadwalkan melanjutkan misi pada Senin untuk mengevakuasi empat jenazah lainnya dari jaringan gua bawah laut yang berbahaya.

Giorgia Sommacal, 20 tahun, menjadi korban termuda dalam tragedi tersebut.

Tim ini dibentuk dan dikirim oleh Divers Alert Network (DAN) Europe, termasuk Sami Paakkarinen dan Patrik Gronqvist, yang sebelumnya berhasil menyelamatkan penyelam dalam insiden di Norwegia pada 2014.

Beberapa anggota tim juga pernah terlibat dalam operasi penyelamatan sukses tim sepak bola muda Thailand yang terjebak di gua pada 2018.

“Kami akan membawa pulang jenazah mereka. Kami tidak bisa membiarkan mereka berada dalam ancaman hiu. Kami membutuhkan para ahli di sini,” kata CEO DAN Europe, Laura Marroni, kepada surat kabar Italia La Stampa.

Karena para penyelam hilang setelah menyelam hingga kedalaman sekitar 200 kaki (sekitar 61 meter), Marroni menegaskan bahwa waktu menjadi faktor yang sangat krusial.

“Sayangnya, di perairan hangat seperti ini, meskipun kita tidak mengetahui secara pasti fauna di dalam gua, kita tidak bisa mengabaikan risiko predator seperti hiu maupun dampak lingkungan lainnya,” ujarnya.

“Dalam operasi pencarian sebelumnya, hal terburuk pernah terjadi. Karena itu setiap jam sangat berarti,” tambah Marroni.

Muriel Oddenino, 31 tahun, juga termasuk korban dalam ekspedisi naas tersebut.

Tim penyelam elit itu memiliki pengalaman menyelam hingga kedalaman hampir 500 kaki (sekitar 152 meter), memberikan kemampuan yang tidak dimiliki penyelam biasa.

“Kami menawarkan pengalaman puluhan tahun dan langsung memilih penyelam terbaik serta paling berpengalaman yang tersedia: tim Finlandia,” kata Marroni.

“Kita berbicara tentang orang-orang yang termasuk paling kompeten di dunia untuk operasi seperti ini.”

Tim tersebut tiba di ibu kota Maladewa, Male, pada Minggu, beberapa jam setelah meninggalnya penyelam pencari asal Maladewa, Sersan Mayor Mohamed Mahudhee.

Mahudhee sempat terekam kamera pada Jumat berdiri di samping Presiden Maladewa Dr. Mohamed Muizzu saat rencana pencarian disusun — yang ternyata menjadi misi terakhirnya.

Cuaca buruk dalam beberapa hari terakhir juga memperlambat operasi pencarian, ditambah keterbatasan peralatan teknis di negara kepulauan Samudra Hindia tersebut.

“Maladewa tidak dikenal untuk penyelaman laut dalam atau penyelaman gua, sehingga pelatihan dan organisasi untuk operasi seperti ini masih minim,” jelas Marroni.

5 penyelam Italia itu (dok: Istimewa)

Instruktur selam Gianluca Benedetti, 44 tahun, menjadi satu-satunya korban yang jenazahnya berhasil ditemukan sejauh ini.

Korban tewas seluruhnya merupakan warga Italia, yakni Monica Montefalcone (52), putrinya Giorgia Sommacal (20), Muriel Oddenino (31), Gianluca Benedetti (44), dan Federico Gualtieri (31).

Semua korban kecuali satu berasal dari Universitas Genoa di Italia utara. Sementara itu, satu anggota rombongan selamat setelah mengambil keputusan dalam hitungan detik untuk tidak ikut menyelam di Vaavu Atoll.

Pencarian pada Sabtu berakhir tanpa penemuan jenazah tambahan, dan hanya jenazah Benedetti yang telah dipastikan ditemukan.

Diduga keracunan oksigen — kondisi kelebihan oksigen dalam tubuh yang dapat dipicu oleh penyelaman terlalu dalam — menjadi penyebab kematian para korban.

Italia kini juga membuka penyelidikan atas tragedi yang terjadi di atas kapal wisata “Duke of York” tersebut.

Kapal mewah yang membawa sekitar 25 penumpang itu ternyata tidak memiliki izin untuk penyelaman lebih dari 100 kaki (sekitar 30 meter).

Operator tur asal Italia, Albatros Top Boat, menegaskan bahwa tidak ada penyelaman di luar batas kedalaman yang diizinkan.

Pengacara perusahaan tersebut, yang juga seorang penyelam berpengalaman, kini terbang ke Maladewa untuk secara langsung mengawasi operasi evakuasi.

“Saya ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang malang ini dan saya ingin mengikuti proses evakuasi jenazah mereka,” kata Orietta Stella.