AAS Cup-2, Ketika Sepakbola Menjadi Ruang Legasi dan Sportivitas Alumni Unhas

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

PELAKITA.ID- Gemuruh tepuk tangan di Lapangan Karsa Makassar mungkin telah reda, tetapi cerita yang ditinggalkan AAS Cup-2 masih hidup dalam ingatan para pemain dan penonton.

Turnamen minisoccer antaralumni Universitas Hasanuddin itu bukan sekadar pertandingan biasa. Ia menjadi ruang pertemuan antara semangat kompetisi, nostalgia, dan persaudaraan lintas generasi.

Di tengah atmosfer penuh semangat itu, satu momen langsung mencuri perhatian sejak detik pertama pertandingan final kategori usia 56 tahun ke atas antara IKA Fakultas Teknik (IKATEK) melawan IKA Fisip.

Belum lama peluit kick-off dibunyikan, Harun Al Rasyid dari IKATEK mengejutkan semua orang dengan tendangan langsung dari titik tengah lapangan.

Bola meluncur deras menuju gawang dan gagal diantisipasi kiper IKA Fisip, Jasruddin Jabar. Gol kilat itu membuat penonton terpana sekaligus kagum.

“Partai IKATEK melawan IKA Fisip cukup membuat penonton kaget serta kagum karena tendangan pertama yang dilakukan oleh Ikatek (Harun, 80) tatkala peluit pertama ditiup sang pengadil lapangan langsung menghasilkan gol tanpa bisa diantisipasi.”

Balasan IKA Fisip tiba babak kedua. Mereka sempat menyamakan kedudukan melalui sebuah kemelut di depan gawang IKATEK yang mengakibatkan gol bunuh dari bagi Ikatek, kedudukan 1-1.

Pertandingan berakhir dengan adu pinalti.

Dalam adu penalti terjadi drama dimana penendang kedua Abdul Jalil Linta dan penendang ketiga Abdul Haris dari IKA Sospol gagal menyarangkan sikulit bundar dan hanya Danny Irawan yang berhasil mengeksekusi penalti dengan sempurna.

Penendang IKATEK gagal pada penendang kedua Harun dan hanya penendang pertama Rinwar Karim dan penendang ketiga Abdullah Dahlan yang berhasil mengeksekusi dengan sempurna.

Ilustrasi/Istimewa

Skor adu penalti 2-1 untuk IKATEK mengantarkan mereka mengangkat trophy sebagai Juara AAS Cup 2 tahun 2026.

Gol-gol tersebut bukan hanya menunjukkan keberanian mengambil peluang, tetapi juga menggambarkan pengalaman dan insting bermain yang masih tajam meski usia para pemain tidak lagi muda.

Sepakbola dalam AAS Cup-2 membuktikan bahwa gairah kompetisi tidak mengenal batas umur.

Dominasi IKATEK kemudian menjadi cerita besar sepanjang turnamen.

Tim ini tampil luar biasa dengan meraih gelar juara di dua kategori sekaligus, yakni usia 46–55 tahun dan usia 56 tahun ke atas. Konsistensi permainan, organisasi tim, serta pengalaman para pemain menjadi faktor utama keberhasilan mereka.

Sejumlah penghargaan

Sejumlah penghargaan individu juga memperkuat dominasi tersebut.

Rinwar Karim tampil sebagai pencetak gol terbanyak kategori usia 56+ dengan torehan delapan gol. Sementara penghargaan pemain terbaik diraih Yasir Erfan untuk kategori 46–55 tahun dan Harun Al Rasyid untuk kategori 56+.

Bahkan penghargaan kiper terbaik pada kategori di bawah 45 tahun juga berhasil diamankan oleh IKATEK.

Pencapaian itu memperlihatkan bahwa sepakbola alumni bukan sekadar ajang reuni atau hiburan akhir pekan.

Di dalamnya ada disiplin, daya tahan, kerja sama, dan semangat menjaga kualitas diri.

Para pemain senior itu menunjukkan bahwa kompetisi dapat tetap hidup selama seseorang terus merawat semangat berlatih dan menjaga kebugaran.

Makna AAS Cup-2

AAS Cup-2 juga menghadirkan makna lain yang lebih luas tentang sportivitas dan kebersamaan. Di setiap pertandingan, rivalitas tetap berjalan dalam suasana persaudaraan.

Tawa, pelukan, dan obrolan selepas laga menjadi pemandangan yang tak kalah penting dibanding skor akhir di papan pertandingan.

Turnamen yang resmi ditutup pada 17 Mei 2026 itu akhirnya meninggalkan pesan kuat bahwa sepakbola bukan hanya soal menang atau kalah.

Di lapangan hijau, para alumni menemukan kembali ikatan yang pernah dibangun di bangku kuliah. Mereka membawa semangat kompetisi, tetapi tetap menjaga rasa hormat dan solidaritas antarsesama.

AAS Cup-2 membuktikan bahwa sepakbola memiliki kekuatan untuk menyatukan generasi, menjaga silaturahmi, sekaligus melahirkan legasi.

Dari gol cepat Harun Al Rasyid hingga dominasi IKATEK, semua menjadi bagian dari cerita tentang semangat yang terus bergerak melintasi usia dan zaman.

Redaksi