Oleh Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Pagi yang beranjak menuju sore di Desa Sarudu, dan siang yang perlahan merambat ke senja di Desa Doda, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, menjadi saksi berlangsungnya Safari GEMARIKAN.
Di kantor desa, ibu-ibu hamil dan para balita berkumpul—membawa harapan akan hidup yang lebih sehat, serta anak-anak yang tumbuh utuh dan kuat.
Di ruang sederhana itu, GEMARIKAN tidak sekadar hadir sebagai program. Ia menjelma menjadi titik temu antara ilmu dan kehidupan.
Sejak diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada 2004, gerakan ini mengalir pelan namun pasti—melampaui angka-angka statistik dan menjelma dalam praktik keseharian. Dari sekadar kampanye, ia tumbuh menjadi kebiasaan. Dari sosialisasi, ia bertransformasi menjadi kesadaran.
Ikan, yang kerap kita anggap biasa, sejatinya adalah keajaiban biologis yang sunyi. Ia mengandung protein berkualitas tinggi, vitamin D, serta mineral penting seperti kalsium dan yodium. Di dalamnya mengalir asam lemak omega-3—DHA dan EPA—yang bekerja layaknya arsitek tak kasatmata bagi perkembangan otak manusia.
Maka ketika seorang ibu menyuapkan ikan kepada anaknya, sesungguhnya ia sedang membangun masa depan. Ia tidak sekadar memberi makan.
Secara ilmiah, manfaat konsumsi ikan bukan sekadar narasi promosi, melainkan fakta yang telah teruji. Omega-3 mendukung fungsi dan kecerdasan otak, memperkuat daya ingat, serta dalam jangka panjang berkontribusi menurunkan risiko penurunan kognitif seperti Alzheimer. Pada saat yang sama, kandungan ini menjaga kesehatan jantung—menurunkan tekanan darah, mengontrol kolesterol, dan mencegah penyumbatan pembuluh darah yang dapat berujung pada stroke.
Di dalam tubuh, ikan juga memperkuat tulang dan gigi melalui vitamin D dan kalsium. Ia menjaga kesehatan mata dari ancaman degenerasi. Bahkan, di tengah ritme hidup yang kerap gelisah, nutrisi ikan membantu memperbaiki kualitas tidur dan meredakan gejolak batin—mengurangi gejala depresi yang sering tak terucap.
Ikan adalah nutrisi yang utuh: memberi energi, menjaga kebugaran tubuh, sekaligus merawat jiwa.
Di Desa Sarudu dan Doda, semua pengetahuan itu tidak disampaikan dalam istilah ilmiah yang rumit. Ia diterjemahkan dalam bahasa sederhana: “makan ikan itu bikin anak pintar dan sehat.”
Kegiatan pun berlangsung dalam suasana hangat: sosialisasi gizi, pembagian paket ikan, hingga pelatihan olahan kreatif seperti nugget dan bakso ikan. Semua diarahkan agar anak-anak mencintai ikan—bukan sekadar dipaksa mengonsumsinya.
Namun Safari GEMARIKAN hari itu tidak berhenti pada kegiatan formal semata.
Keberhasilan gerakan makan ikan harus ditopang oleh kesejahteraan nelayan. Karena itu, keberadaan asuransi nelayan sebagai perlindungan atas risiko di laut menjadi sangat relevan. Dukungan berupa bantuan alat tangkap, beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) bagi anak-anak nelayan, serta penguatan ekonomi melalui Koperasi Desa Merah Putih, menjadikan GEMARIKAN hadir sebagai sebuah ekosistem kehidupan.
Dari sini kita memahami bahwa gizi tidak pernah berdiri sendiri. Ia terhubung dengan ekonomi, berkaitan erat dengan pendidikan, dan berkelindan dengan kebijakan publik.
Dan pada akhirnya, semua kembali pada satu kebiasaan sederhana yang seharusnya menjadi fondasi: makan ikan secara rutin.
Para ahli kesehatan dunia, termasuk American Heart Association, merekomendasikan konsumsi ikan setidaknya dua kali dalam seminggu. Sebuah anjuran sederhana, namun dampaknya melintasi generasi.
Pertanyaannya kini menjadi refleksi bersama: apakah kita telah menjadikan makan ikan sebagai budaya?
Di negeri maritim yang kaya akan sumber daya laut, ironi terbesar justru muncul ketika ikan melimpah di perairan, tetapi jarang hadir di meja makan. Di titik inilah GEMARIKAN menemukan maknanya yang lebih dalam—bukan sekadar program pemerintah, melainkan panggilan kesadaran.
Dari dapur ke dapur. Dari ibu ke anak. Dari desa ke bangsa.
Di Sarudu dan Doda, di antara tawa balita dan harap para ibu, kita menyaksikan masa depan sedang ditanam. Bukan melalui teknologi canggih, melainkan melalui pilihan sederhana yang dilakukan berulang: memilih ikan sebagai bagian dari kehidupan.
Karena sejatinya, masa depan bangsa tidak selalu dibangun dari sesuatu yang besar. Ia kerap tumbuh dari hal-hal kecil yang dijalankan dengan kesadaran besar.
Seperti makan ikan.
Dan mungkin, dari desa-desa yang tenang itu, kita sedang menyusun kembali arah bangsa—melalui gizi, melalui kepedulian, melalui cinta yang disuapkan perlahan ke dalam piring anak-anak kita.
Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”









