Pemberitaan Massif, Persepsi Publik, dan Retaknya Citra Daerah

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Pemberitaan hari ini tidak lagi sekadar menyampaikan kabar. Ia telah menjelma menjadi arus—deras, tak sabar, kadang menghantam, kadang menyeret.

Dalam arus itu, kita tidak hanya membaca dunia, tetapi perlahan-lahan dibentuk oleh dunia yang dibacakan kepada kita.

Di sanalah kebebasan pers berdiri sebagai pintu yang pernah lama dikunci, lalu dibuka lebar-lebar dengan penuh sukacita.

Kita merayakannya sebagai kemenangan akal sehat atas kekuasaan yang gemar menyembunyikan. Kita menganggapnya sebagai cahaya setelah lorong panjang yang gelap. Dan memang, tanpa kebebasan itu, banyak kebenaran akan tetap terperangkap dalam bisu yang dipaksakan.

Namun setiap pintu yang terbuka, selalu membawa angin. Dan tidak semua angin itu menyejukkan. Pemberitaan yang massif adalah angin itu—kadang menjadi badai. Ia lahir dari kebebasan yang kita muliakan, tetapi tumbuh dalam ekosistem yang lapar.

Lapar perhatian, lapar kecepatan, lapar pengaruh.

Media tidak lagi hanya berlomba menyampaikan yang benar, tetapi juga berlomba menjadi yang pertama, yang paling keras, yang paling menggugah emosi.

Kebenaran, dalam banyak hal, harus bernegosiasi dengan daya tarik. Di titik ini, realitas mulai mengalami pembelokan halus.

Sebagaimana diingatkan oleh Walter Lippmann dalam gagasannya tentang “pictures in our heads”, publik tidak pernah benar-benar berhadapan langsung dengan realitas, melainkan dengan gambaran yang dibentuk oleh media.

Dunia yang luas, kompleks, dan tak terjangkau itu, dipadatkan menjadi citra-citra sederhana agar mudah dipahami.

Tetapi penyederhanaan itulah yang seringkali menjadi sumber bias dan salah memahami. Apa yang berulang akan terasa penting.

Apa yang sering muncul akan dianggap dominan. Dan apa yang viral, perlahan-lahan diangkat menjadi wajah utama dari sebuah kenyataan.

Di sini, teori agenda-setting dari Maxwell McCombs dan Donald Shaw menemukan relevansinya.

Media mungkin tidak selalu berhasil menentukan apa yang harus kita pikirkan, tetapi ia sangat berhasil menentukan aspek apa yang harus kita pikirkan tentang sesuatu. Dengan kata lain, intensitas pemberitaan membentuk prioritas dalam benak publik.

Lebih jauh, bukan hanya isu yang ditentukan, tetapi juga cara melihat isu itu.

Di sinilah teori framing yang banyak dikembangkan oleh Robert Entman bekerja.

Realitas tidak hanya dipilih, tetapi juga dibingkai dengan sudut pandang tertentu, dengan penekanan tertentu, dan seringkali dengan kecenderungan tertentu. Publik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menerima cara untuk memaknai informasi itu.

Maka, tidak mengherankan jika persepsi publik menjadi sangat rentan terhadap distorsi. Dan sejarah, sesungguhnya, pernah memberi kita pelajaran—pelajaran yang diam-diam kita lupakan.

Sekitar dua dekade lalu, di Makassar, media arus utama bergerak dalam satu irama yang hampir seragam.

Demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang sesungguhnya berskala terbatas, dengan isu-isu yang tidak selalu strategis, diberitakan secara massif dan intens.

Setiap letupan kecil dipantulkan berulang-ulang, diperbesar oleh frekuensi, dikuatkan oleh repetisi. Satu peristiwa, ditayangkan berkali-kali. Satu kejadian, ditulis dengan berbagai sudut, tetapi dalam nada yang sama.

Pada masa itu, media sosial belum menjadi raksasa seperti hari ini. Namun justru karena itulah, suara media arus utama menjadi begitu dominan nyaris tanpa tandingan. Apa yang terjadi kemudian?

Orang-orang di luar Makassar, yang tidak melihat langsung, yang hanya menyimak dari layar dan halaman koran, mulai menyusun kesimpulan.

Perlahan, tanpa sadar, terbentuklah persepsi bahwa Makassar adalah kota yang tidak aman. Bahwa mahasiswanya cenderung anarkis. Bahwa jalan-jalannya penuh gejolak.

Padahal realitasnya tidak demikian. Kota Makassar saat itu tetap berdenyut normal. Kehidupan berjalan seperti biasa.

Demonstrasi hanya riak kecil dalam lautan aktivitas yang jauh lebih luas dan beragam. Tetapi riak itu, karena terus dipantulkan, tampak seperti gelombang besar.

Di situlah kita melihat bagaimana teori cultivation dari George Gerbner bekerja dengan senyap. Paparan yang berulang membentuk keyakinan.

Apa yang sering dilihat, dianggap sebagai kenyataan yang dominan. Dan citra Makassar, pada saat itu, harus membayar harga dari repetisi yang berlebihan.

Hari ini, gema yang sama terasa kembali. Seakan sejarah sedang mencari panggungnya yang baru.

Di Gowa, pemberitaan yang datang bertubi-tubi mulai membentuk pola yang serupa. Setiap hari, berbagai kanal—terutama media sosial—menyorot daerah ini dari sudut yang tidak nyaman.

Narasi tentang kinerja pemerintah, kualitas infrastruktur, hingga urusan pribadi para pemimpinnya, diangkat, diulang, dan disebarluaskan dengan intensitas yang nyaris tanpa jeda.

Gowa, perlahan-lahan, tidak lagi hadir sebagai sebuah daerah yang utuh. Ia mulai direduksi menjadi kumpulan isu. Setiap kali namanya muncul, yang teringat bukan lagi potensi, bukan capaian, bukan juga kehidupan masyarakatnya yang tetap berjalan. Yang terlintas justru deretan masalah yang terus diperdengarkan.

“Gowa lagi…”

Seruan itu bukan sekadar komentar. Ia adalah penanda bahwa citra sedang dibentuk atau lebih tepatnya, sedang diarahkan.

Padahal realitas tidak sesederhana itu.

Gowa tidak sedang runtuh. Ia tidak pula berada dalam kekacauan sebagaimana yang dibayangkan oleh mereka yang hanya mengenalnya dari layar. Tetapi ketika satu jenis cerita lebih sering diceritakan, maka cerita itulah yang akan dipercaya.

Di titik ini, kita kembali pada pemahaman tentang citra sebagaimana dijelaskan oleh Philip Kotler bahwa citra adalah sekumpulan kesan yang hidup dalam benak publik.

Ia tidak harus sepenuhnya benar, tetapi ia cukup kuat untuk mempengaruhi sikap dan keputusan. Dan lebih jauh lagi, sebagaimana diingatkan oleh Denis McQuail, media tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga mengkonstruksinya.

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, tetapi tidak ringan Apakah kita sedang menyaksikan realitas, atau sedang menyaksikan konstruksi yang diulang terus-menerus hingga tampak seperti realitas?

Pemberitaan massif adalah cermin dari zaman kita. Zaman yang bergerak cepat, berpikir singkat, dan mudah percaya pada yang berulang. Kebebasan pers tetap harus dijaga, tetapi ia tidak boleh berjalan tanpa kesadaran.

Sebab jika tidak, kita akan terus mengulangi kesalahan yang sama, mengganti wajah daerah dengan bayangan yang dibentuk oleh konstruksi realitas yang dipaksakan.

Di tengah riuh itu, kebenaran tidak akan hilang. ia hanya tenggelam, pelan-pelan, di bawah gelombang yang diciptakan oleh pemilik kepentingan yang bersembunti di belakang media.