Pemdes Salenrang berbagi pengalaman Tim 7 Mahalona kelola fasilitas air bersih

  • Whatsapp
Tkm 7 Desa Mahalona, PT Vale, COMMIT Foundation dan Pemdes Salenrang foto bersama di lokasi wisata Rammang-Rammang Maros (dok: COMMIT Foundation)

DPRD Makassar

Di Desa Salenrang Maros, Bumdes Appakabaji yang merupakan pengelola air bersih juga mengelola usaha lain yaitu Warung Desa, usaha peternakan, fasilitas air bersih, unit wisata.

____
MAROS, PELAKITA.ID – Tujuh orang warga Desa Mahalona, Kecamatan Towuti yang juga disebut Tim 7 menempuh perjalanan jauh demi menyesap inspirasi bagaimana para pihak bahu membahu mengelola fasilitas layanan air bersih di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Maros.

Mereka datang ke kantor Desa Salenrang dan bertemu Kades yang baru saja terpilih, Jidong bersama perangkat desa lainnya termasuk ketua Bumdes Appakaji Baji, pengelola unit air bersih yang disebutkan di atas.

Read More

“Kami terdiri dari tujuh orang anggota tim Desa Mahalona yang sedang merencakanan pembangunan instalasi air bersih. Selama ini warga kami kesulitan memperoleh air bersih, sumur sulit dibuat dan kualitas air tawar sangat jelek kecuali dari sungai di ketinggian,” kata Marlan saat ditemui Pelakita.ID di Salenrang Maros, 23/12/2022.

Marlan dan beberapa warga Desa Mahalona atas fasilitasi PT Vale berangkat ke Makassar tanggal 22 Desember 2022.

Pada kunjungan Marlan dan kawan-kawan itu mereka mengikuti tiga rangkaian kegiatan. Pertama, pertemuan dengan perwakilan Pemerintah Desa Salenrang dan Pengurus Bumdes Appakabaji.

Kedua, melakukan pertemuan dengan pengelola fasilitas air bersih di Rammang-Rammang Resto, Lodge and Coffee dan ketiga, melakukan observasi ke lokasi penampungan (reservoir) air di salah satu dusun Salenrang, atau di sekitar Rammang-Rammang Resto: Lodge and Coffee.

Selain mereka hadir pula Laode M. Ichman dana Charler dari PT Vale, Kamarudidn Azis dan Baso Temmanengnga (COMMIT Foundation), Ketua BPD Desa Mahalona dan anggota tim Desa Mahalona.

Pada saat pertemuan di Salenrang, peserta mendapat sambutan dan paparan Kepala BPD Salenrang H. Muhammad Anwar, dan Ketua Bumdes Appakabaji Desa Salenrang. Ariansar Anwar serta Sekdes Sumantri.

Pada pertemuan yang dipandu Kamaruddin Azis, diberikan kesempatan kepada Charles dari PT Vale untuk menyampaikan harapan serta Baso Temmanengnga terkait penjelasan perlunya bagi pengalaman program Pamsimas dan secara spesifik apa yang mau didcapai dengan melaksanakan kegiatan Studi Tiru.

Lancar dan inspiratif

Laode M. Ichman mennilai, pertemuan berlangsung lancar dan sukses antara Tim 7 dan perwakilan pemerintah desa Salenrang dan pengelola Bumdes Appakabaji.

“Peserta antusias dan ikut membahas proses, pelaksanaan dan pengelolaan fasilitasi program air bersih,” ucap Ichman.

Ichman menyebut, sumber air bersih yang layak konsumsi di Desa Salenrang sangat terbatas sama dengan situasi di Desa Mahalona.

“Warga menngambil air dari sungai di ketinggian atau saat hujan turun. Air sungai di perkampungan payau atau asin.  Selama ini setiap rumah atau KKP butuh air sampai 1 kubik  dengan harga Rp 80 ribu per kubik. Satu bulan satu KK mengeluarkann dana antara 300 sampai 500 ribu,” terang Ichman.

Peserta studi tiru dari Desa Mahalona di Desa Salenrang Maros (dok: istimewa)

Menurut Sekdes Sumantri, ide pengelolaan air bersih telah muncul sejak tahun 1989 karena air tawar tak tersedia di sebagian besar Desa Salenrang. Sumur yanga ada asin, karena adanya rembesar air dari muara sungai.

“Ini dimulai pada tahun 2014 ini, Desa Salenrang mendapat alokasi dana dari Pamsimas sebesar 240 juta tetapi tidak cukup setahun, mesin yang disiapkan rusak. Tahun 2017 dan 2018, ada dana dari DPRD untuk pengadaan tandon berukuran 5 kubik dan hanya melayani 1 RT,” ungkap Sumantri.

“Setelah adanya program Pamsimas Bank Dunia. Kegiatan Pamsimas telah mengalokasikan anggaran namun tidak bisa menyelesaikan persoalan ketersediaan air bersih,” ucapnya.

“Ada peran anggota DPRD Maros yang memfasilitasi adanya alokasi anggaran budget pembangunan bak air. Lalu ada anggaraan 280 juta namun tidak juga bisa mengcover kebuutuhan karena akses medan yang berat untuk sampai ke hulu atau sumber air,” terang Sumantri.

“Total dana yang dihabiskan sejauh ini adalah Rp 1,132,695.000 miliar termasuk dana Dana DAK. 1,9 miliar,” ucapnya.

Dia menyebut, saat ini instalasi termasuk perpipaan telah rampung100 persen dan sedang proses layanan ke rumah-rumah warga termasuk desa tetangga.

Menurut Sekretaris Desa Sumantri, ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian bersama jika ingin mengelola instalasi air bersih di desa.

Pertama, harus ada local champion atau yang mau menjadi ‘jarum’ pengelolaan, yaitu mereka yang menggerakkan masyarakat.

Kedua adalah harus disiapkan regulasi, untuk memastikan operasu, perawatan, perbaikan, dan pengelolaan bisa berkelanjutan. Menurutnya, pengelolaan di awal ‘berdarah-darah;’ setelah sukses banyak yang mau masuk bergabung di Bumdes.

Ketiga, pelibatan masyarakat harus melibatkan kaum muda yang memang punya komitmen untuk membantu meski demikian perlu pula ada orang tua atau tokoh masyarakat untuk jadi pengatyom. Mereka bekerja sesuai regulasi yang disepakati.

Sementara itu, Ariansar, dari Bumdes Appakabaji dijelaskan, bahwa di awal operasi instalasi air bersih ini tidak ada pendapatan. “Pendapatan minim karena dipakai untuk operasional ini karena mesin air kerap macet,” ucapnya.

Ketua Bumdes mengungkapkan pula Bumdes Appakabaji di Salenrang telah memperoleh penghargaan Kementerian PUPR, Kemendagri, Kemendesa atas pengelolaan dana desa untuk penyediaan air bersih.

“Sejauh ini sesuai catatan pendapatan asli desa yang diperoleh mencapai 25 juta,” tuturnya.

“Bumdes Appakabaji yang merupakan pengelola air bersih juga mengelola usaha lain yaitu Warung Desa, Peternakan, Air Bersih, Unit Wisata,” ucap Ariansar.

“Saat ini pengelola Bumdes mengelola dua reservoir besar yaitu Reservoir Gunung Piutih ukuran 45 M3 dengan menggunakan dana desa, lalu ada Reservoir Dermaga Dua denggan kapasitas 50 M3. Lalu ada bantuan dari Pemda Maros untuk perpipaan sepanjang 2 kilometer,” paparnya.

Total 16,4kilometer pipanisasi dan melayani dua desa tetangga yaitu Desa Botolempangang dan Desa Minasa Upa. Saat ini ada 898 sambungan rumah di Desa Salenrang, di Desa Minasara Upa ada 15 SR dan di Desa Botolempangan 81 sambungan.

Pada sesi tanya jawab, peserta menanyakan proses penyusunan anggaran, siapa yang terlibat dan bagaimana koordinasinya.

Yang kedua, penentuan anggaran, siapa yang menyusun anggaran.  Jawaban ketua Bumdes, dikerjakan oleh Konsultan Pamsimas sehingga untuk Desa Mahalona perlu dipikirkan peran serta konsultan teknis desain dan kontruksi, termasuk perawatan.

Untuk koordinasi, peran pemerinttah sangat penting termasuk berkomunikasi dengan berbagai pihak seperti anggota DPRD Kabupaten Maros dan pihak Kementerian seperti PU dan Kementerian Desa.

Kepala Desa Salenrang Jidong memberi piagam terima kasih ke PT Vale dan COMMIT Foundation (dok: COMMIT Fpundation)

Melihat langsung

Peserta Tim 7 bersama PT Vale dan COMMIT Foundation juga melaksanakan observasi dengan melihat tangki penampung yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari permukiman warga atau berbeda dengan kondisi di Desa Mahalona.

Di Desa Salennrang menggunakan mesin tarik air, sementara menurut peserta studi tiru, di Mahalona direncanakan hanya menggunakan gaya gravitasi.

Peserta melihat bagaimana instalasi pipa, letak reservoir dan posisinya dengan letak sungai.

 Kamaruddin Azis, dari COMMIT Foundation menegaskan kembali bahwa ada bebebrapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama jika ingin mengelola instalasi air bersih di Desa Mahalona.

“Pertama, harus ada local champion atau yang mau menjadi ‘jarum’ pengelolaan seperti yang disampaikan oleh Sekdes Sumantri dari Salenrang, yaitu mereka yang menggerakkan masyarakat,” ucap Sekretaris COMMIT ini.

“Kedua adalah harus disiapkan regulasi, untuk memastikan operasu, perawatan, perbaikan, dan pengelolaan bisa berkelanjutan. Menurut cerita warga Salenrang, pengelolaan di awal ‘berdarah-darah;’ jadi tidak mudah di awal,” tambahnya.

“Ketiga, pelibatan masyarakat harus melibatkan kaum muda yang memang punya komitmen untuk membantu meski demikian perlu pula ada orang tua atau tokoh masyarakat untuk jadi pengatyom. Mereka bekerja sesuai regulasi yang disepakati,” tutupnya.

 

Editor: K. Azis

Related posts